PEKANBARU, datariau.com - Semakin menjamurnya tempat prostitusi terselubung di tempat hiburan malam membuat Anggota DPRD Pekanbaru Yose Saputra geram. Kalau lah kelompok radikal ISIS ada di Pekanbaru untuk menyerbu hiburan malam, Yose orang pertama mendukungnya.
"Segera tertibkan. Nanti muncul lagi kelompok radikal. Muncul ISIS nanti, kalau mereka datang saya pertama mendukung ISIS tertibkan tempat hiburan malam karena pemerintah tak lagi sanggup," ujar Yose saat menerima perwakilan mahasiswa dalam audiensi dengan Komisi I DPRD Pekanbaru, Selasa (17/3/2015).
Kepada mahasiswa Amper (Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Kota Pekanbaru) yang melakukan aksi di MP Club Sabtu malam kemarin, Yose yang seorang diri menerima kedatangan enam perwakilan mahasiswa tersebut, menyerukan bahwa pihaknya mendukung secara penuh pergerakan dari mahasiswa. Bahkan Yose menyarankan mahasiswa juga melakukan aksi di Kantor Walikota menuntut ditutupnya tempat hiburan.
"Kita dukung aksi ini namun jangan sampai anarkis seperti kemarin. Kepada Walikota Pekanbaru harus tegas. Jangan investor yang mengatur," ujar Yose lagi.
Bahkan, jika perizinan tempat hiburan malam tak mampu diterapkan, maka Walikota, Kapolresta, Kepala MUI, LAMR diminta mundur saja. "Untuk apa bapak-bapak di sana kalau tidak mampu," ujarnya.
Ditambahkan Politisi Golkar ini, dia juga sudah mendapatkan data bahwa pemilik MP Club tersebut merupakan warga pendatang di Pekanbaru inisial DH, namun di perizinan atas nama inisial HK yang merupakan seorang dosen di salah satu STIKES di Pekanbaru.
"Ini perlu diungkap, mengapa saat malam itu AK ikut mengejar mahasiswa menggunakan kayu," tuturnya.
Jika ada pihak yang mengatakan di MP Club tidak ada miras, protitusi, bahkan tari striptis, Yose bersedia untuk membantu kepolisian untuk mengungkapnya. "Polisi mana yang bilang tak ada miras di sana, biar saya bantu kasih tahu," ujarnya.
Sementara itu, kepada Yose dalam kesempatan itu mahasiswa menyampaikan bahwa pihaknya komitmen memberikan perhatian penuh kepada Kota Pekanbaru yang merupakan tanah kelahiran mereka.
"Sekarang kita fokus terhadap empat rekan kita yang ditahan. Setelah ini kita akan ada lagi aksi dengan berkoordinasi dengan seluruh peguruan tinggi di Riau," ucap seorang mahasiswa Universitas Lancang Kuning Darnil Simanjuntak, di hadapan Yose.
Mahasiswa juga mempertanyakan tidak balance aparat dalam penindakan hukum. Dimana, dalam insiden malam itu, mahasiswa dan pemuda ingin melakukan aksi damai, namun beberapa saat aksi massa dilempari besi, tong sampah, dan kayu.
"Bahkan preman di sana menggunakan senjata tajam. Dalam visual juga dilihat mahasiswa dipukuli pakai kayu namun tidak ditindak oleh polisi. Kita melihat tidak balance, hanya menindak mahasiswa saja," ujar Kuasa Hukum Amper Dt Nouvendi SK SH dalam pertemuan itu.
Dijelaskan mahasiswa lagi, malam itu Koordinator Lapangan Amper Erlangga juga diburu dua orang preman menggunakan senjata tajam. "Korlap kita lari sampai ke Kantor Pengadilan. Sampai sekarang dia masih diincar, sampai kontrakannya juga diintai dua pemuda, tapi tak ada penindakan oleh kepolisian," tukas mahasiswa.
Usai pertemuan, mahasiswa membubarkan diri dan berencana melakukan audiensi dengan MUI Pekanbaru. (rik)