SMM PANEL INDO

Udara Pekanbaru Capai Level Berbahaya, Imas Memilih Mengungsi ke Sumbar

datariau.com
147 view
Udara Pekanbaru Capai Level Berbahaya, Imas Memilih Mengungsi ke Sumbar
Foto: pekanbaru.go.id
Kondisi udara di Kota Pekanbaru semakin memburuk karena kabut asap.

PEKANBARU, datariau.com - Kabut asap kembali menyelimuti Kota Pekanbaru dan membuat kualitas udara berada pada level yang mengkhawatirkan. Kondisi ini menjadi perhatian serius karena paparan asap dan partikel halus dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, serta warga yang memiliki penyakit pernapasan.

Pada Selasa (25/8/2026), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru melaporkan jarak pandang di Kota Pekanbaru sekitar 2 kilometer akibat asap. Kondisi serupa juga terpantau di sejumlah wilayah Riau, seperti Rengat dengan jarak pandang sekitar 2 kilometer dan Pelalawan 5 kilometer.

Yang lebih mengkhawatirkan, konsentrasi PM2,5 di Pekanbaru pada Selasa dini hari sempat mencapai 508,8 mikrogram per meter kubik pada pukul 01.00 WIB, atau masuk level berbahaya.

Baca juga:Kualitas Udara Pekanbaru Berbahaya, dr Meiza Dorong Posko Terpadu dan Sekolah Daring


Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan kabut asap di Pekanbaru bukan lagi sekadar masalah jarak pandang atau ketidaknyamanan aktivitas masyarakat. Partikel PM2,5 berukuran sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan dan menjadi salah satu ancaman utama ketika polusi udara memburuk.

Warga Mulai Memikirkan Keselamatan Keluarga


Situasi kabut asap yang memburuk membuat kekhawatiran masyarakat meningkat. Terlebih, dalam beberapa hari sebelumnya kualitas udara Pekanbaru sudah berada pada kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat.

Pemko Pekanbaru pada Senin (24/8/2026) menyebut konsentrasi PM2,5 yang dipantau BMKG pada Ahad (23/8/2026) pukul 17.00-21.00 WIB berada di kisaran 170,2 hingga 235,7 µg/m³, yang masuk kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat.

Baca juga:Nurhidayat Pertanyakan Efektivitas Green Policing Polda Riau di Tengah Karhutla Capai 15.608 Hektare


Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru kemudian mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan. Jika aktivitas di luar rumah tidak dapat dihindari, warga diminta menggunakan masker, memperbanyak konsumsi air putih serta segera mendatangi fasilitas kesehatan apabila mengalami keluhan kesehatan.

Kekhawatiran tersebut semakin beralasan karena dampak kesehatan akibat kabut asap mulai terlihat. Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru mencatat 376 kasus ISPA sejak awal Agustus 2026. Dari jumlah tersebut, 367 kasus merupakan ISPA non-pneumonia, sementara sembilan kasus lainnya masuk kategori pneumonia. Keluhan yang banyak dialami masyarakat antara lain batuk, pilek dan radang tenggorokan.

Mengungsi ke Sumbar Pernah Menjadi Pilihan Warga Pekanbaru


Salah seorang warga Kota Pekanbaru Imas mengaku khawatir dengan kondisi udara di Kota Pekanbaru, ia telah merencanakan untuk membawa keluarganya ke daerah Batu Sangkar Sumatera Barat, untuk sementara mengungsi di tempat saudaranya di sana.

"Anak-anak kan sekolah daring, rencananya besok pesan travel kami ngungsi dulu ke Sumbar, takut juga makin tebal asapnya, anak kami punya riwayat sesak nafas," terangnya.

Baca juga: Prabowo Disambut Kabut Asap di Riau: Perintahkan Hotspot Langsung Ditangani, Korporasi Terlibat Karhutla Cabut Izinnya


Keputusan warga membawa keluarga keluar dari Pekanbaru ketika kualitas udara mencapai level berbahaya bukan sesuatu yang sama sekali baru.

Fenomena tersebut pernah terjadi secara nyata ketika kabut asap besar melanda Riau pada 2019. Saat itu, ketika kualitas udara Pekanbaru berada pada level berbahaya, sejumlah warga memilih mengungsikan anggota keluarganya ke daerah yang dianggap memiliki udara lebih aman.

Salah satunya adalah Arrijal, warga Pekanbaru, yang pada September 2019 membawa istri dan anaknya yang masih berusia empat bulan ke Padang Panjang, Sumatera Barat. Ia mengatakan keputusan tersebut diambil karena tidak ingin anaknya menjadi korban dampak asap.

Arrijal bahkan mengaku memiliki riwayat ISPA sehingga paparan asap mudah memicu penyakitnya. Ia berencana kembali ke Pekanbaru setelah kondisi asap membaik, sementara anaknya untuk sementara tinggal bersama neneknya di Sumbar.

Baca juga:Udara Pekanbaru Tak Sehat, DPRD Minta Siapkan Skema Belajar Daring Saat Kabut Asap


Warga Pekanbaru lainnya, Feny, juga mengaku membawa dua anaknya yang masih duduk di TK dan kelas 1 SD ke rumah nenek mereka di Sumbar. Anak-anak tersebut direncanakan tinggal sementara hingga kondisi udara Pekanbaru membaik.

Ada pula warga bernama Abdullah Sany yang pada saat itu berencana membawa istri dan anaknya yang masih balita pulang ke Kabupaten Asahan, Sumatera Utara, karena khawatir terhadap dampak udara berbahaya.

Kisah tersebut memperlihatkan bagaimana buruknya kualitas udara dapat memengaruhi keputusan keluarga. Ketika kondisi lingkungan dianggap membahayakan, keselamatan anak dan anggota keluarga rentan menjadi pertimbangan utama.

Titik Panas Meningkat


Memburuknya kualitas udara tidak dapat dilepaskan dari persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kembali terjadi di sejumlah wilayah Sumatra.

Data BMKG yang dilaporkan pada Selasa (25/8/2026) menunjukkan terdapat ribuan titik panas di Pulau Sumatra. Salah satu laporan menyebut total hotspot mencapai 2.787 titik, sementara Riau sendiri tercatat memiliki ratusan titik panas.

Baca juga:Penerbangan di Bandara SSK II Pekanbaru Masih Normal, Belum Ada Gagal Landing Akibat Kabut Asap


Kabut asap yang kemudian bergerak mengikuti kondisi angin dapat memengaruhi wilayah perkotaan, termasuk Pekanbaru. Pemerintah Provinsi Riau sebelumnya juga mengingatkan masyarakat untuk membatasi kegiatan di luar ruangan karena sebaran asap masih bergerak mengikuti arah angin.

Situasi ini menunjukkan bahwa penanganan karhutla tidak hanya berkaitan dengan pemadaman titik api. Dampaknya dapat meluas menjadi persoalan kesehatan masyarakat, pendidikan, transportasi, ekonomi hingga aktivitas sosial.

Anak-Anak Menjadi Kelompok yang Perlu Mendapat Perhatian


Kelompok paling rentan dalam kondisi kabut asap antara lain anak-anak, lansia dan masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan.

Pengalaman pada 2019 menunjukkan bahwa orang tua bahkan memilih memisahkan sementara anak-anak mereka dari lingkungan yang terpapar asap. Anak yang masih bayi atau balita menjadi perhatian khusus karena sistem pernapasannya masih berkembang dan mereka belum mampu melindungi diri secara mandiri.

Dalam kondisi udara buruk, masyarakat sebaiknya tidak menunggu munculnya gangguan kesehatan untuk mulai melakukan perlindungan.

Pengurangan aktivitas luar rumah, penggunaan masker yang sesuai ketika harus keluar, menjaga asupan cairan dan segera mencari pertolongan medis ketika muncul keluhan pernapasan menjadi langkah penting.

Pemko Pekanbaru sendiri menyebut terdapat 21 puskesmas yang tersebar di 15 kecamatan yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.***

Sumber rujukan: antaranews.com, pekanbaru.go.id, mediacenter.riau.go.id, detik.com, riaupos.jawapos.com

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)