SMM PANEL INDO

Kualitas Udara Pekanbaru Berbahaya, dr Meiza Dorong Posko Terpadu dan Sekolah Daring

datariau.com
112 view
Kualitas Udara Pekanbaru Berbahaya, dr Meiza Dorong Posko Terpadu dan Sekolah Daring
Foto: Endi
Anggota DPRD Pekanbaru Fraksi PKS, dr Meiza Ningsih MKed SpTHT-BKL, saat pembagian masker di Simpang Lampu Merah Sudirman-Nangka, Selasa (25/8/2026).

PEKANBARU, datariau.com - Anggota DPRD Pekanbaru Fraksi PKS, dr Meiza Ningsih MKed SpTHT-BKL, mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh dampak buruk kabut asap terhadap kesehatan. Kondisi kualitas udara di Kota Pekanbaru yang mulai mengkhawatirkan dinilai membutuhkan langkah penanganan yang lebih serius dari pemerintah.

Hal itu disampaikan dr Meiza usai kegiatan pembagian masker bersama DPD PKS Kota Pekanbaru di Simpang Lampu Merah Sudirman-Nangka, Selasa (25/8/2026).

Aksi tersebut turut dihadiri Ketua DPD PKS Pekanbaru yang juga Wakil Wali Kota Pekanbaru Markarius Anwar serta sejumlah Anggota DPRD Pekanbaru Fraksi PKS, di antaranya Firmansyah, Muhammad Sabarudi dan Rois.

Baca juga:Prabowo Disambut Kabut Asap di Riau: Perintahkan Hotspot Langsung Ditangani, Korporasi Terlibat Karhutla Cabut Izinnya


Berdasarkan data kualitas udara pada Selasa (25/8/2026) pukul 06.00 WIB, konsentrasi partikulat PM2.5 di Pekanbaru mencapai 328,9 µg/m³ dan masuk kategori berbahaya.

Menurut dr Meiza, kondisi tersebut harus menjadi perhatian serius karena paparan kabut asap dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, mulai dari iritasi ringan hingga memperburuk penyakit kronis.

“Paparan kabut asap dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan, mulai dari iritasi ringan hingga penyakit pernapasan dan jantung yang serius,” jelas Meiza.

Baca juga:Karhutla di Kalimantan dan Sumatera, dr. Maharani Dorong Penguatan Layanan Kesehatan Cegah Lonjakan ISPA

Picu ISPA hingga Gangguan Jantung


Dr Meiza menjelaskan, salah satu dampak yang paling sering muncul akibat paparan kabut asap adalah gangguan pernapasan.

Kabut asap dapat memicu peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), dengan gejala seperti batuk, pilek dan sakit tenggorokan.

Bagi penderita asma, bronkitis maupun Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), kualitas udara yang buruk juga dapat memperparah kondisi kesehatan mereka.

Selain gangguan pernapasan, partikel dalam asap dapat menyebabkan mata merah, perih dan berair. Paparan asap juga berpotensi menyebabkan iritasi kulit serta memperburuk penyakit kulit tertentu.

Dalam jangka pendek, kualitas udara yang sangat buruk dapat memicu peningkatan tekanan darah. Sementara paparan dalam jangka panjang berkaitan dengan meningkatnya risiko penyakit jantung dan stroke.

“Kelompok yang paling berisiko adalah bayi, anak-anak, lansia, ibu hamil serta masyarakat yang memiliki penyakit bawaan seperti asma dan penyakit jantung,” ujarnya.

Baca juga:Kualitas Udara Pekanbaru Memburuk, Siswa PAUD hingga SMP Belajar Daring

Masyarakat Diminta Kurangi Aktivitas di Luar


Meiza mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah selama kualitas udara masih berada pada level berbahaya.

Bagi masyarakat yang harus beraktivitas di luar ruangan, ia menyarankan menggunakan masker yang sesuai dan memperhatikan kondisi tubuh.

Masyarakat juga diminta memperbanyak minum air putih, beristirahat cukup serta menjaga kebersihan saluran pernapasan.

“Untuk menjaga kondisi tubuh, perbanyak minum air putih, istirahat yang cukup dan batasi aktivitas di luar rumah,” katanya.

Dr Meiza juga menyarankan masyarakat melakukan pembersihan hidung menggunakan cairan NaCl 0,9 persen sebagai salah satu upaya menjaga kebersihan saluran hidung dari paparan partikulat.

Menurutnya, pembagian masker merupakan langkah positif, tetapi belum cukup untuk menghadapi kondisi kabut asap yang semakin memburuk.

Ia berharap pemerintah menyiapkan paket kebijakan untuk menangani dampak kabut asap, bukan hanya mengandalkan pembagian masker.

Salah satu langkah yang diusulkan adalah pembentukan Posko Terpadu Kabut Asap Kota Pekanbaru yang melibatkan BPBD, Dinas Kesehatan, DLHK, Damkar, Dinas Pendidikan, Satpol PP, kecamatan dan kelurahan, BMKG serta TNI-Polri.

Posko tersebut dapat berfungsi memantau kualitas udara dan titik api secara berkala sekaligus memastikan respons pemerintah berjalan cepat.

“Kalau melihat kondisi Pekanbaru saat ini, usulan kepada pemerintah kota sebaiknya tidak hanya soal membagikan masker, tetapi dibuat paket kebijakan penanganan dampak asap,” tegasnya.

Sekolah Daring Saat Kualitas Udara Berbahaya


Meiza juga mendorong adanya kebijakan yang jelas berdasarkan angka kualitas udara. Menurutnya, pemerintah tidak perlu menunggu kabut asap terlihat semakin tebal untuk mengambil keputusan.

Ketika kualitas udara sudah mencapai level tertentu, kebijakan pembatasan aktivitas harus langsung diberlakukan.

“Kalau kualitas udara sudah sangat tidak sehat, kegiatan luar ruangan harus dihentikan dan sekolah dievaluasi. Kalau sudah berbahaya, pembatasan aktivitas masyarakat dan peningkatan pelayanan kesehatan harus dilakukan,” jelasnya.

Ia secara khusus mengusulkan pembelajaran daring diterapkan bagi PAUD hingga SMP ketika kualitas udara berada pada level yang membahayakan kesehatan anak.

“Pengambilan kebijakan pembelajaran daring sebaiknya berdasarkan parameter kualitas udara, bukan hanya melihat kondisi asap secara kasat mata,” sebutnya.

Baca juga:Udara Pekanbaru Tak Sehat, DPRD Minta Siapkan Skema Belajar Daring Saat Kabut Asap

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)