DATARIAU.COM - Nama Bacharuddin Jusuf Habibie kembali dikenang sebagai sosok yang berhasil membantu menyelamatkan nilai tukar rupiah ketika Indonesia dihantam krisis moneter 1998. Ia tidak hanya dikenang sebagai ilmuwan dan tokoh teknologi kebanggaan Indonesia, tetapi juga sebagai sosok yang rela mengorbankan cita-cita besarnya demi menyelamatkan negara saat krisis moneter 1998. Di tengah kondisi ekonomi yang nyaris runtuh, Habibie memilih meninggalkan ambisi pengembangan industri strategis nasional demi memulihkan rupiah dan menjaga Indonesia tetap berdiri.
Sebelum menjadi presiden, Habibie dikenal luas sebagai arsitek kemajuan industri dirgantara Indonesia. Melalui Industri Pesawat Terbang Nusantara atau IPTN yang kini bernama Dirgantara Indonesia, Habibie bercita-cita menjadikan Indonesia sebagai negara maju berbasis teknologi tinggi. Ia bahkan berhasil mengembangkan pesawat N-250 yang saat itu disebut sebagai simbol kebangkitan industri penerbangan nasional.
Baca juga:Gugatan dan Polemik Program MBG Muncul di Berbagai Daerah, Pemerintah Tegaskan Tetap Berjalan
Namun mimpi besar itu mulai goyah ketika krisis moneter Asia menghantam Indonesia pada 1997-1998. Nilai tukar rupiah anjlok drastis, inflasi melonjak, perbankan kolaps, dan jutaan masyarakat kehilangan pekerjaan. Krisis tersebut memuncak hingga berujung pada mundurnya Soeharto pada Mei 1998 dan mengantarkan Habibie menjadi Presiden RI ketiga.
Saat itulah Habibie menghadapi pilihan paling berat dalam hidupnya. Di satu sisi, ia ingin mempertahankan proyek-proyek teknologi nasional yang selama puluhan tahun diperjuangkannya. Namun di sisi lain, kondisi ekonomi Indonesia saat itu menuntut pemerintah melakukan penghematan besar-besaran agar negara tidak semakin terpuruk.
Salah satu keputusan paling menyakitkan bagi Habibie adalah menghentikan dukungan besar terhadap proyek pesawat N-250. Pemerintah kala itu harus mengikuti berbagai langkah penyelamatan ekonomi, termasuk pengurangan subsidi dan restrukturisasi anggaran negara. Program industri strategis yang membutuhkan biaya besar menjadi salah satu yang terkena dampaknya.
Banyak pihak menilai keputusan tersebut ibarat Habibie mengorbankan mimpi pribadinya sendiri. Pesawat N-250 bukan sekadar proyek industri, melainkan simbol cita-cita Habibie agar Indonesia mampu berdiri sejajar dengan negara maju dalam bidang teknologi penerbangan. Namun demi menjaga stabilitas ekonomi nasional dan menyelamatkan rupiah, impian itu terpaksa dihentikan.
Di tengah pengorbanan tersebut, Habibie fokus melakukan berbagai langkah penyelamatan ekonomi. Pemerintah menjalankan restrukturisasi perbankan, membentuk program rekapitalisasi bank, serta memperkuat kerja sama dengan International Monetary Fund guna memulihkan kepercayaan pasar.
Selain itu, Habibie juga mengambil langkah reformasi politik dan ekonomi secara bersamaan. Ia membuka kebebasan pers, mempercepat pemilu demokratis, serta memperkuat independensi Bank Indonesia agar kebijakan moneter lebih dipercaya investor dan pasar internasional. Kebijakan-kebijakan tersebut perlahan membantu menstabilkan kondisi ekonomi Indonesia.
Hasilnya mulai terlihat dalam waktu relatif singkat. Rupiah yang sempat menyentuh sekitar Rp16.000 per dolar AS perlahan menguat hingga berada di kisaran Rp6.000-Rp7.000 per dolar AS menjelang akhir pemerintahan Habibie. Inflasi mulai terkendali dan kepercayaan terhadap sistem perbankan nasional perlahan kembali pulih.
Baca juga:Respons Rupiah Semakin Melemah, Prabowo: Rakyat di Desa Enggak Pakai Dolar Kok
Meski masa jabatannya singkat, banyak ekonom dan pengamat menilai Habibie berhasil menjadi sosok transisi penting yang menyelamatkan Indonesia dari kemungkinan krisis yang lebih parah. Pengorbanannya meninggalkan sebagian cita-cita besar industri dirgantara demi fokus memulihkan ekonomi nasional menjadi salah satu kisah paling dikenang dalam sejarah modern Indonesia.
Bagi banyak masyarakat, Habibie bukan hanya presiden atau ilmuwan. Ia dikenang sebagai tokoh yang rela menunda bahkan kehilangan mimpi pribadinya demi menjaga masa depan bangsa.
Krisis moneter
Krisis moneter Asia yang mulai menghantam Indonesia sejak 1997 membuat nilai tukar rupiah jatuh drastis. Dari kisaran Rp2.500 per dolar AS sebelum krisis, rupiah sempat menyentuh level terburuk sekitar Rp16.800 per dolar AS pada Juni 1998. Kondisi tersebut membuat harga kebutuhan pokok melonjak tajam dan kepercayaan masyarakat terhadap sistem perbankan runtuh.
Habibie dilantik menjadi Presiden RI pada 21 Mei 1998 menggantikan Soeharto di tengah situasi politik dan ekonomi yang sangat tidak stabil. Banyak pihak saat itu meragukan kemampuan Habibie karena latar belakangnya sebagai insinyur pesawat terbang, bukan ekonom. Namun, justru pada masa pemerintahannya rupiah perlahan menguat.
Strategi Habibie Menyelamatkan Rupiah
Salah satu langkah penting yang diambil pemerintahan Habibie adalah melakukan restrukturisasi besar-besaran sektor perbankan nasional. Pemerintah membentuk program rekapitalisasi bank, melikuidasi bank bermasalah, serta menggabungkan empat bank milik negara menjadi Bank Mandiri untuk memperkuat sistem keuangan nasional.
Selain itu, pemerintah juga memberikan jaminan terhadap simpanan nasabah guna menghentikan bank rush atau penarikan dana besar-besaran oleh masyarakat. Kebijakan ini dinilai berhasil memulihkan kepercayaan publik terhadap perbankan Indonesia.
Habibie juga memperkuat kerja sama dengan International Monetary Fund atau IMF untuk membantu pemulihan ekonomi nasional. Namun di sisi lain, ia tidak sepenuhnya mengikuti tekanan IMF, terutama terkait penghapusan subsidi bahan bakar dan listrik yang dinilai bisa semakin memberatkan rakyat saat krisis.
Pemulihan Ekonomi Mulai Terlihat
Berbagai kebijakan tersebut mulai menunjukkan hasil dalam waktu relatif singkat. Inflasi yang sempat melonjak berhasil ditekan, aktivitas ekonomi perlahan pulih, dan nilai tukar rupiah menguat signifikan. Kondisi makroekonomi Indonesia juga mulai stabil dibanding masa awal krisis.
Sejumlah ekonom menilai keberhasilan Habibie bukan hanya karena kebijakan ekonomi semata, tetapi juga karena kemampuannya mengembalikan kepercayaan pasar terhadap pemerintah Indonesia setelah jatuhnya rezim Orde Baru. Kepercayaan itu menjadi faktor penting dalam pemulihan rupiah dan investasi.
Meski demikian, sejumlah pengamat dan diskusi publik juga menilai pemulihan ekonomi Indonesia saat itu dipengaruhi faktor regional dan bantuan internasional, termasuk program IMF serta mulai meredanya kepanikan pasar Asia pascakrisis. Perdebatan mengenai seberapa besar peran langsung Habibie terhadap penguatan rupiah masih berlangsung hingga kini.
Namun dalam catatan sejarah Indonesia, pemerintahan Habibie tetap dikenang sebagai periode penting pemulihan ekonomi nasional setelah salah satu krisis terbesar yang pernah dialami bangsa ini.***
Baca juga:Kepercayaan Publik yang Hilang: Urgensi Kredibilitas Komunikasi Pemerintahan Prabowo