DATARIAU.COM - Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan setelah sempat menyentuh level terlemah sepanjang sejarah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Berdasarkan laporan Reuters, rupiah pada 18 Mei 2026 sempat menyentuh Rp17.670 per dolar AS meski Bank Indonesia melakukan intervensi besar-besaran di pasar valuta asing.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran publik mengenai dampak lanjutan terhadap harga barang, daya beli masyarakat, hingga stabilitas ekonomi nasional. Sejumlah ekonom memperingatkan bahwa pelemahan rupiah berkepanjangan dapat memicu efek domino yang serius.
Harga Barang Impor Akan Semakin Mahal
Dampak paling cepat terasa dari pelemahan rupiah adalah kenaikan harga barang impor. Ketika rupiah melemah, biaya pembelian barang dari luar negeri otomatis menjadi lebih mahal karena transaksi internasional menggunakan dolar AS.
Dikutip dari kompas.com, Ekonom dari Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, mengatakan kondisi ini berpotensi memicu “imported inflation” atau inflasi impor. Barang yang bergantung pada bahan baku impor akan mengalami kenaikan biaya produksi.
Produk yang paling berisiko mengalami kenaikan harga antara lain elektronik dan gadget, bahan baku industri, obat-obatan impor, plastik dan bahan kemasan, BBM dan energi, pangan tertentu yang masih impor.
Dampaknya bisa mulai terasa dalam dua hingga tiga bulan jika pelemahan rupiah terus berlangsung.
Baca juga:Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen: Angka Tinggi yang Menyimpan Beban Berat
Daya Beli Masyarakat Bisa Menurun
Ketika harga barang naik sementara pendapatan masyarakat tidak bertambah, daya beli akan melemah. Kondisi ini dapat memperlambat konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia.
Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menyebut pelemahan rupiah saat ini terjadi ketika daya beli masyarakat sebenarnya masih belum pulih sepenuhnya.
Akibatnya, masyarakat berpotensi mengurangi belanja kebutuhan sekunder, menunda pembelian kendaraan atau rumah, mengurangi aktivitas konsumsi harian, beralih ke produk yang lebih murah.
Jika konsumsi turun, pertumbuhan ekonomi nasional juga berisiko melambat.
Ancaman PHK dan Perlambatan Bisnis
Pelaku usaha juga menghadapi tekanan besar karena biaya operasional meningkat. Banyak industri di Indonesia masih bergantung pada bahan baku impor, mulai dari manufaktur, otomotif, hingga makanan dan minuman.
Ketua Apindo DKI Jakarta, Sarman Simanjorang, mengatakan pelemahan rupiah berkepanjangan dapat menekan omzet perusahaan dan memicu efisiensi tenaga kerja.
Beberapa dampak yang mungkin terjadi yakni pengurangan produksi, penundaan ekspansi bisnis, pemotongan biaya operasional, dan pengurangan tenaga kerja atau PHK.
Sektor UMKM juga ikut terdampak karena harga bahan baku naik sementara konsumen menahan belanja.
Baca juga:Saat BJ Habibie Korbankan Program Strategis Nasional Demi Selamatkan Rupiah dari Krisis 1998
Beban Utang Negara dan Swasta Membengkak
Pelemahan rupiah membuat pembayaran utang luar negeri menjadi lebih mahal. Pemerintah maupun perusahaan yang memiliki utang dalam dolar harus mengeluarkan rupiah lebih banyak untuk membayar cicilan dan bunga.
Ekonom Universitas Indonesia, Teuku Riefky, bahkan mengingatkan risiko krisis utang apabila pelemahan rupiah tidak terkendali dan belanja pemerintah tetap tinggi.
Selain itu beban APBN meningkat, defisit anggaran berpotensi melebar, ruang fiskal pemerintah menyempit, dan subsidi energi bisa membengkak.
Dikutip IDN Times, pelemahan rupiah di atas asumsi APBN 2026 memberikan tekanan serius terhadap anggaran negara, terutama subsidi energi dan pembayaran utang luar negeri.
Suku Bunga Bisa Naik
Untuk menahan pelemahan rupiah, Bank Indonesia biasanya melakukan intervensi pasar dan menaikkan suku bunga acuan.
Reuters melaporkan mayoritas ekonom memperkirakan Bank Indonesia akan menaikkan suku bunga karena tekanan terhadap rupiah semakin besar.
Namun kenaikan suku bunga memiliki efek samping, kredit rumah dan kendaraan menjadi lebih mahal, cicilan pinjaman naik, investasi bisnis melambat, dan pertumbuhan ekonomi bisa tertahan.
Di sisi lain, kebijakan ini dianggap perlu untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan menahan arus modal keluar.
Baca juga:Respons Rupiah Semakin Melemah, Prabowo: Rakyat di Desa Enggak Pakai Dolar Kok
Investor Asing Bisa Keluar dari Indonesia
Pelemahan rupiah yang tajam sering memicu kekhawatiran investor asing. Ketika investor kehilangan kepercayaan, mereka cenderung menarik dana dari pasar saham dan obligasi Indonesia.
Reuters mencatat indeks saham Indonesia sempat turun sekitar 2 persen bersamaan dengan pelemahan rupiah terbaru.
Arus keluar modal asing atau capital outflow dapat memperburuk tekanan terhadap rupiah karena permintaan dolar meningkat.