Kemenag Gelar Sidang Isbat Besok Selasa, 1 Ramadan Jatuh pada Rabu atau Kamis? Cek di Sini

datariau.com
130 view
Kemenag Gelar Sidang Isbat Besok Selasa, 1 Ramadan Jatuh pada Rabu atau Kamis? Cek di Sini

JAKARTA, datariau.com - Masyarakat Indonesia tengah menanti kapan awal puasa Ramadan 1447 Hijriah. Berbeda dengan Muhammadiyah yang telah menetapkan awal puasa pada 18 Februari 2026, pemerintah belum secara pasti mengumumkan kapan 1 Ramadan 1447 H.

Untuk mementukan awal puasa Ramadan 2026 tersebut, pemerintah akan terlebih dahulu menggelar pengamatan hilal atau rukyatul hilal.

Kementerian Agama akan menggelar Sidang Isbat awal Ramadan 1447 Hijriah pada Selasa 17 Februari 2026. Sidang akan dilaksanakan di di Auditorium HM Rasjidi, Kantor Kementerian Agama RI, Jalan MH Thamrin Nomor 6, Jakarta dan dipimpin langsung Menteri Agama Nasaruddin Umar.

Ada tiga rangkaian pelaksanaan sidang Isbat: pemaparan data posisi hilal berdasarkan perhitungan astronomi, verifikasi hasil rukyatul hilal, musyawarah membahas hasil pemantauan hilal (rukyatul hilal) untuk kemudian diumumkan penetapan awal puasa Ramadan kepada masyarakat.

Sidang isbat akan dihadiri berbagai pihak antara lain Duta Besar negara sahabat, Ketua Komisi VIII DPR RI, perwakilan Mahkamah Agung, Majelis Ulama Indonesia (MUI), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Kemudian, Badan Informasi Geospasial (BIG), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Bosscha ITB, Planetarium Jakarta, pakar falak dari berbagai ormas Islam, pimpinan organisasi kemasyarakatan Islam, pondok pesantren, dan Tim Hisab Rukyat Kemenag.

“Sidang isbat mempertemukan data hisab dengan hasil rukyatul hilal. Pemerintah berupaya memastikan penetapan awal Ramadan dilakukan secara ilmiah, transparan, dan melibatkan seluruh unsur terkait,” ujar Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag, Abu Rokhmad di Jakarta, dikutip kompas.tv, Kamis (5/2/2026).

Berdasarkan perhitungan hisab, ijtimak (konjungsi) menjelang Ramadan 1447 H terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026 pukul 19.01 WIB.

Posisi hilal saat matahari terbenam di seluruh wilayah Indonesia berada di bawah ufuk, dengan ketinggian berkisar -2° 24 menit 42 detik hingga -0° 58 menit 47 detik, serta sudut elongasi 0° 56 menit 23 detik hingga 1° 53 menit 36 detik.

Data ini sesuai dengan kriteria visibilitas yang digunakan (seperti MABIMS), sehingga hilal belum memenuhi syarat terlihat secara teoritis.

Untuk melengkapi data hisab, Kemenag melaksanakan rukyatul hilal di 96 lokasi yang tersebar di seluruh Indonesia.

Pengamatan ini dilakukan oleh Kantor Wilayah Kemenag provinsi dan Kantor Kemenag kabupaten/kota, bekerja sama dengan Pengadilan Agama, ormas Islam, serta instansi terkait lainnya. Hasil rukyat dari seluruh titik tersebut menjadi bahan utama pembahasan dalam sidang isbat.

Abu Rokhmad menambahkan, keputusan akhir penetapan 1 Ramadan 1447 H akan diumumkan secara resmi usai sidang selesai melalui konferensi pers.

“Hasil hisab dan rukyat akan kami bahas bersama. Keputusan akhir disampaikan kepada masyarakat agar menjadi pedoman bersama umat Islam di Indonesia,” tuturnya.

BMKG Ikut Mengamati Hilal di 37 Titik


Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) akan melakukan pengamatan hilal pada 17-18 Februari 2026 untuk mendukung Kementerian Agama (Kemenag) dalam menentukan awal Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi.

Dalam siaran pers yang dilansir akun Instagram @infobmkg, BMKG mengatakan akan menerjunkan tim dan peralatan terbaik di 37 titik pengamatan hilal yang tersebar di seluruh Indonesia.

Nantinya, hasil pengamatan hilal akan menjadi salah satu data dalam penentuan resmi 1 Ramadan 1447 H yang diputuskan dalam sidang isbat Kemenag pada 17 Februari 2026.

Pelaksana Tugas Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG A. Fachri Rajab menjelaskan, hasil pengamatan hilal dari seluruh lokasi akan dihimpun dan disampaikan kepada Kemenag sebagai bahan pertimbangan dalam sidang isbat.

Data tersebut akan melengkapi informasi hisab yang telah lebih dahulu disiapkan. BMKG memastikan proses pengamatan dilakukan dengan dukungan peralatan optik dan instrumen yang memadai, serta melibatkan sumber daya manusia yang kompeten di bidang pengamatan hilal.

Setiap titik pengamatan akan memantau kondisi visibilitas hilal sesuai parameter astronomis dan kondisi cuaca setempat.

Sementara itu, Deputi Bidang Geofisika BMKG Nelly Florida menegaskan data hisab hilal telah disiapkan sebagai acuan pengamatan yang dibutuhkan para pengamat di seluruh Indonesia.

Data tersebut menjadi dasar teknis dalam menentukan potensi terlihatnya hilal pada waktu pengamatan.

Dengan keterlibatan di 37 titik pengamatan, BMKG berkomitmen memberikan dukungan ilmiah dan teknis secara optimal guna memastikan proses penentuan awal Ramadan 1447 H berjalan akurat, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Kolaborasi antara BMKG dan Kemenag diharapkan dapat memberikan kepastian bagi masyarakat dalam menyambut bulan suci Ramadan.

Masyarakat dapat ikut menyaksikan proses pengamatan hilal melalui siaran langsung atau live streaming BMKG di laman resmi https://hilal.bmkg.go.id/.

Sumber: kompas.tv

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)