Dugaan Kasus Bullying Berujung Tragedi di Ponpes Lombok Tengah, Satu Santri Meninggal dan Dua Alami Luka Bakar Serius

datariau.com
696 view
Dugaan Kasus Bullying Berujung Tragedi di Ponpes Lombok Tengah, Satu Santri Meninggal dan Dua Alami Luka Bakar Serius
Ilustrasi. (Foto: Int.)

DATARIAU.COM - Kasus kebakaran yang menimpa tiga santri di Pondok Pesantren Rosudatussaulatiyah Al Ibrahimy, Dusun Sengkol II, Desa Mantang, Kecamatan Batukliang, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), menjadi sorotan publik setelah keluarga korban mengungkap kronologi kejadian yang diduga bermula dari aksi bullying atau perundungan. Dalam peristiwa yang terjadi pada Desember 2025 itu, satu santri dilaporkan meninggal dunia, sementara dua lainnya mengalami luka bakar serius.

Salah satu korban yang selamat, Sahid Al Hudri (13), hingga kini masih menjalani pemulihan akibat luka bakar yang dideritanya. Keluarga korban pun telah melaporkan kasus tersebut ke Polres Lombok Tengah untuk meminta kejelasan hukum dan pertanggungjawaban atas peristiwa tersebut.

Bermula dari Dugaan Perundungan


Bibi korban, Nurul Hidayah, mengungkapkan bahwa tiga hari sebelum kejadian kebakaran, diduga telah terjadi perundungan yang dilakukan seorang santri berinisial MR (15) terhadap korban lain berinisial SS (14).

Menurut keterangan Nurul, saat para santri bermain bersama di lingkungan pondok, korban SS diduga dipermalukan oleh MR dengan cara ditelanjangi. Peristiwa itu kemudian dilaporkan kepada pimpinan pondok pesantren.

"Korban melaporkan kejadian tersebut kepada pimpinan pondok agar pelaku diberikan sanksi," ujar Nurul.

Setelah laporan diterima, pihak pondok disebut memanggil MR. Sejak saat itu, menurut pengakuan keluarga, MR diduga sempat melontarkan ancaman kepada Sahid Al Hudri dan korban lainnya.

"Setelah dipanggil, MR sempat mengancam Al dan korban lainnya akan dibakar," kata Nurul.

Ancaman Sempat Disampaikan kepada Keluarga


Nurul mengaku keponakannya pernah menceritakan ancaman tersebut saat jadwal kunjungan keluarga di pondok pesantren. Namun saat itu keluarga menganggap ucapan tersebut hanya candaan di antara anak-anak.

"Kami sempat menenangkan korban dan menganggap itu tidak perlu terlalu dipikirkan," ujarnya.

Namun sehari setelah kunjungan tersebut, keluarga menerima telepon dari pihak pondok yang meminta mereka segera datang ke Puskesmas Aik Darek. Saat itu keluarga diberi informasi bahwa korban hanya mengalami demam.

Setibanya di fasilitas kesehatan tersebut, keluarga justru mendapati kondisi Sahid mengalami luka bakar cukup parah.

"Saya sangat terkejut melihat kondisi Al. Dia terus menangis karena merasakan panas di seluruh tubuhnya," tutur Nurul.

Kronologi Kebakaran Menurut Keterangan Korban


Berdasarkan keterangan yang diterima keluarga dari korban, insiden kebakaran terjadi di sebuah ruangan kosong yang sudah tidak digunakan di lingkungan pondok pesantren.

Saat itu sejumlah santri disebut sedang membuat ketapel. Untuk meluruskan kayu ketapel, mereka menyalakan api di dalam ruangan tersebut.

Menurut Nurul, bahan bakar berupa bensin sebelumnya dibeli oleh MR dengan alasan untuk mengecat kamar pondok. Namun bensin itu kemudian digunakan saat proses pembakaran untuk meluruskan kayu.

"Kemudian api dinyalakan menggunakan mika untuk meluruskan kayu ketapel," jelasnya.

Dalam proses tersebut, api diduga menyambar tangan MR sehingga bensin yang sedang dipegangnya tumpah. Kondisi itu membuat kobaran api dengan cepat membesar.

Api semakin sulit dikendalikan karena di dalam ruangan terdapat kasur dan sejumlah barang yang mudah terbakar.

Tiga Korban Terjebak di Dalam Ruangan


Keterangan yang diperoleh keluarga menyebutkan dua santri berinisial MR dan YS berhasil menyelamatkan diri dengan berlari menuju pintu keluar.

Sementara itu, tiga santri lainnya, yakni ADR, SAH, dan SS, diduga terjebak di dalam ruangan karena pintu tidak dapat dibuka dari dalam.

Pintu baru dapat dibuka setelah sejumlah santri lain mendobraknya dari luar.

"Kata Al, mereka sempat berusaha memadamkan api. Tetapi kaki mereka sudah terkena kobaran api sehingga sulit bergerak," ujar Nurul.

Akibat kejadian tersebut, ketiga korban mengalami luka bakar serius. Salah satu korban kemudian meninggal dunia.

Keluarga Tempuh Jalur Hukum


Merasa tidak mendapatkan tanggung jawab yang memadai terkait penanganan dan biaya pengobatan korban, keluarga akhirnya melaporkan kasus tersebut ke Polres Lombok Tengah.

Nurul menegaskan bahwa keluarga berharap ada pertanggungjawaban dari pihak yang dinilai terkait dengan peristiwa tersebut, termasuk terhadap proses pemulihan korban.

"Kami hanya berharap ada tanggung jawab terhadap anak kami, terutama untuk biaya pengobatan sampai sembuh total," katanya.

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)