Di Desa Salo Timur, Tradisi Hari Raya Enam Lebih Meriah Dibanding Idul Fitri

datariau.com
1.587 view
Di Desa Salo Timur, Tradisi Hari Raya Enam Lebih Meriah Dibanding Idul Fitri
Foto: Meiza Riani Fitri
Suasana ziarah kubur dalam momen tradisi hari raya enam di Desa Salo Timur.

KAMPAR, datariau.com - Masyarakat Bangkinang terutama di desa Salo Timur melakukan kegiatan Aghi Ghayo Onam atau yang sering disebut dengan Hari Raya Enam.

Hari raya ini dilakukan pada 6 Syawal atau enam hari setelah lebaran Idul Fitri. Masyarakat menyebut Hari Raya Enam ini lebih meriah dari pada hari raya idul fitri hari pertama.

Baca juga: 6 Kekeliruan dalam Merayakan Idul Fitri


Masyarakat Salo Timur menyambut kegiatan hari enam ini karena sebelum itu sebagian masyarakat menjalankan puasa sunnah Syawal selama enam hari berturut-turut setelah hari pertama idul fitri.

"Hari Raya Enam ini sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Salo Timur," kata Zamri, Kepala Desa Salo Timur.

Hari Raya Enam ini dimulai dengan ziarah kubur atau yang sering disebut dengan Hari Raya Ziarah.

Tradisi hari raya enam ini tidak hanya dilakukan di Desa Salo Timur, namun hampir setiap dusun ataupun desa yang ada di Bangkinang.

Baca juga: Larangan Keras Shalat dan Berdoa di Kuburan


Puluhan orang berjalan kaki tanpa ada yang menaiki kendaraan mendatangi kuburan keluarga mereka. Tokoh Masyarakat Desa Salo Timur H Bustami menyebut, tradisi Raya Ziarah Kubur sudah berlangsung lama. Tradisi ini dilakukan pada setiap tahunnya dari waktu ke waktu tepatnya selesai puasa 6 hari berturut-turut di bulan Syawal setelah idul fitri.

?Tidak hanya berziarah, tradisi di kuburan ini juga menjadi tempat bersilaturahmi sehingga di hari raya enam ini masyarakat dapat bertemu dan berjabat tangan satu sama lain,? kata H Bustami.

Baca juga: Keutamaan Mengingat Mati


H Bustami mengingatkan kepada jamaah ziarah bahwa kegiatan ini juga sebagai pengingat kematian. ?Di sinilah tempat terakhir kita semuanya nanti. Berdoalah untuk keluarga yang sudah mendahului kita, entah kapan waktunya nanti giliran kita yang diziarahi,? ucap H Bustami.

Setelah itu masyarakat menyeberangi sungai dengan menggunakan rakit/sampan menuju ke salah satu masjid yang sudah menyediakan makan siang, yang mana makanan ini sudah sudah dipersiapkan oleh kaum perempuan dan dibawa ke masjid untuk makan bersama.

Baca juga: Wisata Spiritual ke Kuburan Wali


Jamaah akan pulang ke rumahnya masing-masing setelah melaksanakan shalat zuhur bersama. Tradisi hari Raya Enam ini lebih meriah dan ramai dibandingkan dengan hari raya pertama lebaran.

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)