JAKARTA, datariau.com - Kisah perjuangan seorang anak desa yang merantau hanya dengan bekal Rp70.000 kini menembus ruang akademik dan mendapat perhatian hingga mancanegara. Muhammad Ja’far Hasibuan, mahasiswa Semester I Program Studi Magister Gizi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara (FKM USU), mengangkat perjalanan hidup dan proses lahirnya inovasi Biofar SS dalam sebuah buku yang kini diperkenalkan sebagai karya berbasis pengalaman empiris dan kajian ilmiah.
Buku bertajuk “Penemu Biofar SS: Anak Desa dari 70 Ribu Mendunia” tersebut menjadi pusat perhatian dalam Seminar dan Talkshow Peluncuran serta Bedah Buku Skala Internasional yang digelar di Aula G Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), beberapa hari lalu.
Kegiatan tersebut menjadi ruang pertemuan akademisi, peneliti, praktisi, pembuat kebijakan, serta masyarakat dari berbagai latar belakang untuk mendiskusikan perjalanan hidup, pendidikan, penelitian, inovasi, dan kontribusi sosial yang dituangkan Ja’far dalam karya lebih dari 400 halaman.
Seminar dan talkshow itu diikuti sekitar 500 peserta secara luring dan 1.500 peserta secara daring. Kegiatan diselenggarakan Mega Press Nusantara, Perpurnas, dan Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), dengan dukungan Perpustakaan Nasional RI, Kementerian Pemuda dan Olahraga RI, serta FKM UI.
Kepada awak media, Sabtu (15/8/2026), Ja’far mengatakan peluncuran bukunya menjadi momentum penting karena perjuangan yang bermula dari keterbatasan ekonomi dapat dibawa ke ruang akademik yang lebih luas.
“Peluncuran ini menjadi bukti bahwa keterbatasan sosial dan ekonomi tidak menjadi penghalang untuk menghasilkan karya ilmiah yang memenuhi standar akademik dan berkontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan,” ujar Ja’far.
Dalam agenda tersebut, buku Ja’far juga diluncurkan atas nama Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo melalui perwakilan pimpinan Polri. Acara dibuka oleh Kapolri yang diwakili Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri, Komjen Pol Drs. R.Z. Panca Putra Simanjuntak, M.Si. Sambutan Kapolri dibacakan Irjen Pol Dr. Andry Wibowo, S.I.K., M.H., M.Si.
Berangkat dari Desa dengan Rp70 Ribu
Di balik buku tersebut terdapat perjalanan hidup yang panjang dan tidak mudah. Ja’far merupakan anak yatim yang berasal dari sebuah desa terpencil di Kabupaten Padang Lawas Utara, Sumatera Utara. Dengan kondisi ekonomi yang terbatas, ia memutuskan merantau dengan bekal hanya Rp70.000.
Untuk bertahan hidup sekaligus membiayai pendidikan, Ja’far menjalani usaha berjualan roti sambil menempuh pendidikan. Kehidupan sebagai perantau tidak hanya mengajarkannya tentang perjuangan memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga membentuk cara pandangnya terhadap pendidikan, kesehatan, kemiskinan, dan persoalan sosial di masyarakat.
Keterbatasan akses informasi dan sumber daya tidak membuatnya berhenti belajar. Justru dari berbagai keterbatasan itulah muncul dorongan untuk melakukan riset lapangan, pengujian laboratorium, hingga uji coba di masyarakat.
Proses panjang tersebut kemudian melahirkan inovasi yang disebut Biofar SS. Ja’far menyampaikan bahwa formulasi inovasi tersebut tetap dirahasiakan. Ia juga mengatakan aktivitas pengabdian dan pengobatan gratis kepada masyarakat telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya selama bertahun-tahun.
Namun, ia menegaskan bahwa seluruh proses pengembangan inovasi diarahkan melalui pendekatan ilmiah dan terus berupaya memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Seluruh kompetensi dan wawasan yang saya peroleh selama pendidikan saya arahkan menjadi karya terapan dan inovasi yang teruji secara ilmiah agar dapat diakses oleh masyarakat, khususnya kelompok yang memiliki keterbatasan pelayanan kesehatan,” katanya.
Menurut Ja’far, dukungan institusi pendidikan dan para dosen menjadi bagian penting dalam menjaga proses penelitian agar tetap memiliki landasan metodologis dan etis.
Ketika Pengalaman Hidup Bertemu Teori Ilmiah
Salah satu kekuatan buku tersebut terletak pada upaya menghubungkan pengalaman pribadi penulis dengan teori-teori ilmiah dari berbagai disiplin ilmu.
Lebih dari 200 referensi ilmiah lintas disiplin digunakan dalam penyusunan buku. Karena itu, karya tersebut tidak semata-mata ditempatkan sebagai buku motivasi, tetapi juga diarahkan sebagai bahan referensi akademik.
Ja’far menjelaskan, kerangka teoritis dalam buku tersebut mencakup teori tingkat tinggi atau grand range theories, di antaranya Teori Modal Sosial dan Kapabilitas Manusia, Teori Aksi Terencana, serta Teori Keadilan Kesehatan dan Determinan Sosial Kesehatan.
Pada tingkat mid-range theories, buku tersebut mengulas Psikologi Perkembangan, Teori Sistem Ekologi, Post-Traumatic Growth, Resiliensi atau Ordinary Magic, Growth Mindset, hingga Consolidated Framework for Implementation Research (CFIR).
Tidak hanya teori psikologi dan kesehatan masyarakat, aspek manajemen juga digunakan untuk menggambarkan proses pengembangan inovasi secara sistematis. Di antaranya Prinsip Pareto 80/20, Matriks Eisenhower, metode RACI, serta Work Breakdown Structure (WBS).
Melalui pendekatan multidisiplin tersebut, pengalaman hidup Ja’far dianalisis sebagai sebuah proses pembentukan karakter, ketangguhan, inovasi, dan kontribusi sosial.
Dinilai Layak Menjadi Bahan Kajian Akademik
Sejumlah akademisi yang hadir memberikan apresiasi terhadap karya tersebut. Guru Besar FKM UI, Prof. dr. Adang Bachtiar, M.P.H., D.Sc., menilai buku Ja’far memiliki nilai akademik karena mampu menghubungkan pengalaman hidup autentik dengan teori-teori mutakhir yang relevan dengan kesehatan masyarakat, inovasi, dan kepemimpinan.
Apresiasi tersebut bahkan membuka wacana lebih jauh mengenai perjalanan akademik Ja’far. Prof. Adang disebut merekomendasikan Ja’far untuk melanjutkan pendidikan doktoral atau S3, termasuk peluang melanjutkan studi di Harvard University.
Dari perspektif psikologi, Wakil Dekan II Fakultas Psikologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Dr. Rosleny Marliani, M.Si., CPP, melihat perjalanan hidup Ja’far melalui perspektif psikologi perkembangan, resiliensi, dan aktualisasi diri.
Kemiskinan, kehilangan sosok ayah, hingga pengalaman berjualan roti dipandang bukan hanya sebagai rangkaian kesulitan, tetapi juga sebagai proses pembentukan karakter dan ketangguhan.
Sementara itu, Guru Besar FKM USU, Prof. Dr. Ir. Zulhaida Lubis, M.Kes., menyebut karya tersebut sebagai kebanggaan keluarga, almamater, dan bangsa. Perjalanan Ja’far dinilai memperlihatkan bahwa kerja keras, integritas, dan doa dapat diarahkan menjadi kontribusi nyata bagi ilmu pengetahuan dan masyarakat.
Mendapat Apresiasi dari Kemenpora dan Perpustakaan Nasional
Apresiasi terhadap perjalanan Ja’far juga datang dari Kementerian Pemuda dan Olahraga RI. Melalui perwakilannya, Dr. Ir. Hendro Wicaksono, M.Sc.Eng., Muhammad Ja’far Hasibuan ditetapkan sebagai Ikon Pemuda Terdaftar Resmi Kemenpora RI.
Sementara itu, Perpustakaan Nasional RI menetapkan buku tersebut sebagai salah satu koleksi referensi nasional.
Rangkaian acara kemudian ditutup dengan diskusi ilmiah, penyerahan buku, serta penandatanganan dokumen referensi.
Bagi Ja’far, pengakuan tersebut bukan sekadar penghargaan personal. Ia melihatnya sebagai tanggung jawab untuk terus mengembangkan ilmu dan menghasilkan karya yang dapat memberi manfaat.
Dari Desa, Menembus Pembaca Mancanegara
Kisah Ja’far juga mulai mendapatkan perhatian dari pembaca di luar Indonesia. Salah satu pembaca mancanegara memberikan apresiasi terhadap buku tersebut dengan menyampaikan keinginannya memperkenalkan buku itu kepada komunitas pembaca di negaranya.
“Your book looks interesting! I'd love to introduce it to my reading community,” tulis pembaca tersebut.
Apresiasi itu menjadi gambaran bahwa cerita perjuangan yang berangkat dari sebuah desa di Sumatera Utara dapat menemukan pembacanya di luar batas geografis Indonesia.
Menjelang peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia, kisah Ja’far pun semakin banyak mendapat perhatian. Perjalanan dari seorang anak desa yang berangkat dengan modal Rp70.000 hingga mampu menempuh pendidikan magister dan menghasilkan karya ilmiah menjadi narasi tentang bagaimana keterbatasan dapat dihadapi dengan pendidikan, kerja keras, dan ketekunan.