Setelah Diizinkan Pulang, Pasien RSI Ibnu Sina Pekanbaru Ini Ternyata Positif Covid-19

datariau.com
2.356 view
Setelah Diizinkan Pulang, Pasien RSI Ibnu Sina Pekanbaru Ini Ternyata Positif Covid-19
Foto: Windi
RSI Ibnu Sina Pekanbaru.
PEKANBARU, datariau.com - Rumah Sakit Islam Ibnu Sina memberikan izin pulang kepada pasien positif covid-19 atas nama inisial WA (47). Setelah keluar rumah sakit, pasien dijemput Tim Gugus covid-19 dengan pakaian hazmat lengkap dengan standar covid-19, sebab pasien tersebut ternyata positif covid-19 sesuai hasil swab yang dilakukan di RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau.

Keluarga pasien yang diwakili Muhammad Rizal kepada wartawan, Selasa (30/6/2020) mengaku sangat mempertanyakan hasil tes swab berbeda antara pihak RSI Ibnu Sina dan RSUD Arifin Ahmad. Sehingga perbedaan hasil tes tersebut mengakibatkan kerugian kepada keluarga pasien baik secara ekonomi maupun sosial. Sebab sebelumnya pihak RSUD Arifin Achmad menyatakan hasil swab yang dilakukan kepada pasien WA ini negatif covid-19.

Dua kali hasil swab tes RSUD Arifin Ahmad negatif tersebut tertanggal 25 Juni 2020 yang ditandatangani Ketua Tim Covid-19 RSUD Arifin Ahmad dr Sri Indah Indriani, atas hasil inilah pasien minta pulang dan diizinkan pihak rumah sakit.


Muhammad Rizal menjelaskan, sebelumnya berdasarkan surat keterangan dari RSI Ibnu Sina kepada keluarga pasien yang dikeluarkan Wadir Pelayanan dan Penunjang Medik RSI Ibnu Sina dr Rifa Rosanti tertanggal 19 Juni 2020 sudah dilaksanakan dua kali pemeriksaan sampel swab PDP Covid-19 dengan metode real time PCR dengan hasil swab pertama negatif dan swab kedua positif.


"Kita minta pihak rumah sakit bekerja sesuai SOP. Jangan sampai ini merusak kepada ekonomi sosial pasien dan keluarganya. Karena ini pasien dan keluarga pasien dikucilkan, ekonomi mereka mati dan sosial menjadi rusak, masyarakat ketakutan, orang-orang menjadi ketakutan untuk mendekat dan beribadah ke rumah ibadah dekat tempat tinggal pasien," keluhnya.

Dia meminta agar pemerintah meluruskan persoalan ini kepada masyarakat karena persoalan ini sudah merusak usaha ekonomi pasien, keluarga pasien dan masyarakat sekitar. "Ini harus diluruskan pemerintah yang memiliki tanggung jawab terhadap masyarakatnya. Kemudian SOP rumah sakit Ibnu Sina harus dilihat apakah sesuai dan apakah sudah siap," pungkasnya.

Direktur RSI Ibnu Sina melalui Humas RSI Ibnu Sina Fani kepada wartawan menjelaskan, bahwa RSI Ibnu Sina memulangkan pasien positif covid-19 yang sebelumnya merupakan pasien PDP covid-19 dirawat beberapa hari dalam ruangan isolasi RSI Ibnu Sina atas nama WA (47) memang sudah dirawat di ruangan isolasi RSI Ibnu Sina karena pasien memiliki gejala covid-19. Kemudian pasien sudah dilakukan tes swab sebanyak dua kali dengan hasil tes pertama negatif dan hasil kedua hasilnya positif. RSI Ibnu Sina memberikan izin pulang kepada pasien atas permintaan pasien dan keluarga pasien.

"Pasien ini pulang istilahnya paps atau pulang atas permintaan sendiri setelah pasien di sebelahnya itu meninggal dunia karena covid-19. Mungkin mereka khawatir maka pasien minta pulang paksa dan keluarga keukeh ingin pulang. Itu ada hak pasien kami tidak boleh melanggar itu. Jadi pasien itu pulang sebelum keluar hasil tes swab," papar Fani kepada wartawan, Selasa (30/6/2020).

Fani menerangkan pihak RSI Ibnu Sina tidak ada melakukan tes swab tersebut karena pihaknya hanya mengambil sampel saja untuk dikirim dan dilakukan tes swab oleh pihak RSUD Arifin Ahmad. Sehingga setelah ada hasil tes pihak RSUD Arifin Ahmad melalui Tim Gugus menjemput pasien ke rumahnya untuk dirawat dan dites lagi. Karena swab semua rumah sakit di Pekanbaru ini dikirim dan dilakukan di RSUD Arifin Ahmad.

"Jadi tim gugus menjemput pasien karena hasil tes dari mereka dan hasil tes tersebut disampaikan kepada kita pihak rumah sakit dan Diskes. Setelah hasil tes itu keluar dari RSUD Arifin Ahmad lalu kita kirimkan kepada keluarga pasien," terang Fani.

RSI Ibnu Sina membenarkan pelayanan ruangan isolasi yang membuat pasien tidak betah. Sehingga pasien juga minta pulang karena pelayanan yang lambat dan bahkan pasien baru dapat bantuan setelah ada menulis minta tolong di kaca ruangan isolasi.

"Memang ruangan isolasi seperti itu, perawat ada jam-jamnya. Semua isolasi memang seperti itu, kita tidak mau mengambil resiko," beber Fani.

RSI Ibnu Sina juga mengakui menutup komunikasi pasien yang dirawat di ruangan isolasi dengan keluarga pasien dengan tidak memberikan izin menggunakan alat komunikasi handphone.

"Kita memang tidak membolehkan pasien isolasi memegang handphone, karena sebelumnya pasien isolasi berontak dan menyampaikan hal yang tidak benar kepada keluarga supaya dikeluarkan dari situ (ruangan isolasi). Dari situlah kami mengambil kebijakan tidak boleh ada handphone untuk pasien isolasi," bebernya lagi. (win)
Penulis
: Windi
Editor
: Redaksi
Sumber
: Datariau.com
Tag:Ibnu Sina
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)