Sepintas Tentang SCB Presiden Penyair Indonesia Jelang Penabalan Gelar Adat Datuk Seri Pujangga Utama

Datariau.com
876 view
Sepintas Tentang SCB Presiden Penyair Indonesia Jelang Penabalan Gelar Adat Datuk Seri Pujangga Utama
Abdul Kadir
SCB bersama Plt. Gubernur Riau, Ketua Umum Lembaga Kerapatan Adat LAM RIAU

PEKANBARU, datariau.com - Dedikasi dan pengabdiannya di bidang seni sastra Indonesia tak dapat dipungkiri. Perjuangan dan konsistensinya dalam dunia kepenyairan mengantarkannya sampai ke tahta Presiden Penyair dialah Sutardji Calzoum Bahri.

Demikian diungkapkan, Datuk Seri H Al Azhar  MA sebagai Ketua Umum Majelis Kerapatan Adat Melayu (LAM) Riau kepada datariau.com, Rabu (7/11/2018) saat dijumpai di Gedung LAM Riau Jalan Diponegoro Pekanbaru.

Menurut Budayawan Riau itu,  Sutardji Calzoum Bahri layak dan sangat pantas menerima gelar adat kehormatan dari Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau. 

"Ini sebagai bentuk penghormatan kepada beliau," sebut Al Azhar.

Berikut perjalanan SCB mengantarkannya pada predikat 'Presiden Penyair Indonesia'. Reputasi dan kewibawaan seorang penyair, sebagai maestro.

SCB demikian presiden penyair itu dikenal. SCB menerima berbagai penghargaan antara lain

"Anugerah Seni Pemerintah RI" (1993) dan "South East Asia Write Award (SEA Write Award)" (1999) dari Kerajaan Thailand. "Penghargaan Sastra" Chairil Anwar. 

Pada tahun 2001 dia dianugerahi gelar "Sastrawan Perdana" oleh Dewan Kesenian Riau. SCB juga mendapatkan "Penghargaan Mastera (Majelis Sastra Asia Tenggara) tahun 1995.

Pada tahun 2008, tepatnya 14 Agustus 2008, SCB bahkan menerima dua penghargaan dalam sehari. Siang harinya, memperoleh penghargaan tertinggi Kebudayaan di Indonesia diberikan langsung Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berupa penghargaan Bintang Budaya Parama dan malam harinya memperoleh Bakrie Award.

Sutardji dikenal sebagai pembaharu perpuisian Indonesia. Terutama karena konsepsinya tentang kata yang hendak dibebaskan dari kungkungan pengertian dan dikembalikannya pada fungsi kata seperti dalam mantra.

Buku SCB, sebagai karya fenomenal  berjudul, 'O Amuk Kapak' merupakan penerbitan lengkap sajak-sajak dari periode penulisan 1966 sampai 1979. Tiga kumpulan sajak itu mencerminkan secara jelas pembaharuan yang dilakukannya terhadap puisi Indonesia modern.

Buku O, Amuk, Kapak (Jakarta: Sinar Harapan, 1981) merupakan kumpulan puisinya dari tiga buah buku, yaitu (1973), Amuk (1977; mendapat hadiah puisi DKJ 1976-1977), dan Kapak (1979).

Disamping itu, puisi-puisinya telah termuat dalam berbagai antologi, seperti Arjuna in Meditation (Calcutta, India, 1976), Writing from the World (U'SA). Westerly Renew (Australia), Dichters in Rotterdam (Rotterdansc Kuststichting, 1975) dan Ik Wil Nog Dulzendjaar Leven, Negen Modene Indonesische Di-chter (1979). Juga dalam Ajip Rosidi (editor). 

Laut Biru, Langit Biru Jakarta: Pustaka Jaya, 1997), Parade Puisi Indonesia (1990), majalah Tenggara, Journal of Southeast Asian Literature 36-37 (1997), dan lain-lain. SCB juga menulis esai dan cerpen.

Kumpulan cerpennya yang sudah diterbitkan adalah Hujan Menulis Ayam (Magelang: Indonesia Tera, 2001). sedangkan kumpulan esei bertajuk Isyarat, diterbitkan tahun 2007 Penerbit Kompas.

Petualangan SCB, di musim panas 1974, SCB mengikuti Poetry Reading International di Rotterdam. Kemudian ia mengikuti seminar International Writing Program di Iowa City, Amerika Serikat dari Oktober 1974 sampai April 1975. Sutardji juga memperkenalkan cara baru yang unik dan memikat dalam pembacaan puisi di Indonesia.

Sejumlah sajaknya telah diterjemahkan Harry Aveling ke dalam bahasa Inggris dan diterbitkan dalam antologi Arjuna in Meditation (Calcutta, India), Writing from the World (Amerika Serikat), Westerly Review (Australia) dan dalam dua antologi berbahasa Belanda: Dichters in Rotterdam (Rotterdamse Kunststichting, 1975) dan Ik wil nog duizend jaar leven, negen moderne Indonesische dichters (1979). Pada tahun 1979, SCB dianugerahi hadiah South East Asia Writer Awards atas prestasinya dalam sastra di Bangkok, Thailand.

Prosesi penabalan gelar adat dilakukan di Gedung Balai Adat Melayu Riau tanggal 29 Shafar 1440 H atau Rabu 7 November 2018 M Pukul 09.00 WIB. Penabalan gelar adat dipimpin  langsung Datuk Seri H Al Azhar dan Datuk Seri Syahril Abubakar.(Abd)

Penulis
: Abdul Kadir
Editor
: Redaksi
Sumber
: datariau.com
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)