Manisnya Berbisnis Pepaya Merah Delima

datariau.com
1.025 view
Manisnya Berbisnis Pepaya Merah Delima
Foto: Fahroji
Para pekerja membersihkan dan membungkus pepaya.

PEKANBARU, datariau.com - Matahari pagi mulai menyilauan, 2 orang pekerja laki-laki tampak sedang memetik pepaya merah delima di kebun seluas 1 ha. Sedangkan 2 orang perempuan sibuk membersihkan dan membungkus buah pepaya menggunakan koran.

“Tanaman pepaya merah delima ini telah berumur 2,5 tahun dan dipanen setiap 3 hari sekali” terang Hendri Toni, petani pemilik tanaman pepaya yang menggarap lahan milik Universitas Islam Riau (UIR) di Pekanbaru ini.

“Sekali panen menghasilkan 600-1000 kg, dengan waktu panen 3 hari sekali. Harga jual ke pegadang Rp3.000/kg,” lanjutnya.

Dengan demikian, Toni meraup penghasilan kotor Rp18-30 juta per bulan, ini belum dipotong upah pekerja dan lain-lain.

“Kendala dalam budidaya adalah ketersediaan air pada musim kemarau, sedangkan masalah lainnya dapat diatasi berkat bimbingan dari BPTP Riau,” ujarnya.

Pepaya merah delima merupakan produk yang dihasilkan Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Warna daging buahnya merah oranye, daging buah tebal (3 cm), rasa manis, produktivitas di atas 70 ton/ha, dan ukuran buah sedang dengan bobot rata-rata 1,2 kg/buah.

Tanaman ini dapat ditanam di semua daerah di Indonesia dan tumbuh subur menyebar dari dataran rendah sampai tinggi, yaitu sampai 1000 m dpl.

Pendampingan budidaya pepaya Merah Delima oleh BPTP Riau sejak tahun 2016 Nasri Joni, teknisi BPTP Riau dengan intens mendampingi budidaya pepaya Merah Delima mulai dari panen hingga pemasaran.

“Sebelum tanam, dilakukan pengolahan tanah terlebih dahulu, kemudian dibuat lubang tanam. Pemberian pupuk kandang 5 kg per lubang. Disamping itu juga diberikan kapur dolomit. Jarak tanam yang digunakan adalah 2,5 x 2,5 m. Setelah dibiarkan 1 bulan, dilakukan pengadukan tanah dan penanaman benih papaya yang sudah terlebih dahulu disemai di polybag,” terang Nasri Joni menjelaskan cara budidaya pepaya ini.

“Pemupukan dilakukan 15 hari setelah tanam yaitu pupuk KCl 100 gr, ZA 150 gr, TSP 100 gr per batang, 2 bulan kemudian dosisnya dinaikkan yaitu KCl 150 gr, ZA 150 gr, TSP 150 gr per batang. Pada bulan ke-3 diberikan pupuk kandang 5 kg per batang. Kemudian setiap bulan selang seling pupuk kimia (KCl 250 gr, ZA 250 gr, TSP 250 gr) dan pupuk kandang 8 kg/batang,” lanjutnya.

Lebih lanjut Nasri Joni menyampaikan, untuk mencegah serangan hama dan penyakit, semprotkan insektisida dan pestisida seminggu sekali setelah tanaman berumur 2 bulan. Merah delima belajar berbunga pada umur 2,5-3 bulan setelah tanam (BST).

Menurut Toni, pemasaran pepaya ini sangat mudah karena pedagang langsung datang ke lokasi kebun. Bahkan ia kewalahan memenuhi permintaan pasar.

“Permintaan per minggu 8 ton untuk pasar Batam, sedangkan pasar Pekanbaru dan sekitarnya 10 ton/minggu, itu belum bisa kami penuhi,” ungkap Toni.

Untuk memenuhi permintaan pasar, Toni sekarang menambah 2 ha lagi kebun pepaya yang saat ini sudah mulai berbuah.

Terpisah, Nana Sutrisna, Kepala BPTP Riau mengatakan bahwa pepaya Merah Delima dapat tumbuh dan beradaptasi dengan baik di lahan rawa pasang surut. Pengembangan agribisnis pepaya mempunyai prospek bisnis yang sangat baik dan pasarnya masih terbuka luas.

(*) Artikel ini adalah kiriman dari masyarakat, isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Ingin memuat berita di datariau.com, klik di sini! (Lampirkan Kartu Identitas dan Nomor Handphone).

Penulis
: Fahroji
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)