Ketua PHRI Sebut Panik karena Corona Buat Ekonomi Indonesia Lesu

601 view
Ketua PHRI Sebut Panik karena Corona Buat Ekonomi Indonesia Lesu
Foto: jpnn.com
Ketua Umum Perhimpunan Hotel & Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi B Sukamdani di Jakarta, Kamis (12/3).

DATARIAU.COM - Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani mengatakan, kepanikan masyarakat akibat penyebaran virus corona di Indonesia berdampak negatif pada pertumbuhan ekonomi. Kondisi ini tak hanya berlaku di Indonesia, beberapa negara dunia pun ikut mengalami gejala yang sama.

"Kami melihat hampir semua sektor mengalami permasalahan yang sangat serius terhadap kinerja masing-masing sektor," kata Hariyadi di Jakarta, Kamis (12/3).

Utamanya di sektor pariwisata. Industri perhotelan dan restoran jadi sektor yang mengalami dampak lebih dulu. Saat ini di Jakarta telah terjadi okupansi hingga 30 persen. Akibatnya, industri perhotelan mulai mengurangi pengeluaran belanja untuk karyawan.

Dia menjelaskan, ada tiga jenis pekerja hotel yakni, karyawan harian, karyawan kontrak dan karyawan tetap. Saat ini para pekerja harian sudah tidak lagi dipekerjakan. Sementara karyawan kontrak dan karyawan tetap bekerja secara bergiliran.

Penurunan pendapatan sudah terjadi sejak pertengahan bulan Januari. Beberapa daerah seperti Manado, Bali dan Batam jadi wilayah terdampak pertama.

Kondisi ini makin diperparah saat masyarakat panik. Tepatnya pada 1 Maret lalu selepas Presiden Joko Widodo mengumumkan adanya dua warga Depok yang positif terjangkit virus corona.

Sejak awal munculnya virus corona, pemerintah telah memberikan insentif kepada sektor pariwisata, seperti menurunkan harga tiket dan memberikan diskon penginapan. Namun, belakangan dia merasa pemerintah tidak konsisten lantaran melakukan larangan kegiatan aktivitas yang tidak perlu.

"Satu sisi pemerintah mau menyegerakan dan mendorong belanja masyarakat, tapi satu sisi mereka juga melarang kegiatan," ucapnya.

Hariyadi memperkirakan, untuk sementara waktu industri pariwisata mengalami kerugian mencapai USD 1,5 miliar. Angka ini berasal dari turis asal China yang biasanya membelanjakan uangnya USD 1,1 miliar saat berlibur di Indonesia. Sementara pendapatan dari turis asal negara lain diperkirakan USD 400 juta.

"Jadi yang itu sudah USD 1,5 miliar dengan perhitungan relatif kasar," kata Hariadi.

Jika ini terus berlanjut dan masyarakat terus dibayangi dengan ketakutan, kerugian yang bisa lebih besar. Bukan hanya berdampak pada industri perhotelan dan restoran. UKM juga bakal terkena dampak.

"Jadi ini permasalahannya sebenarnya tidak sesimpel apa yang dipikirkan, tapi ini bisa sampai menghentikan perekonomian masyarakat," tandasnya. (*)

Editor
: Ruslan Efendi
Sumber
: Merdeka.com
Tag:
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)