Demi Bertahan Hidup, Seniman Ini Jual Alat Musik

498 view
Demi Bertahan Hidup, Seniman Ini Jual Alat Musik
Ilustrasi (Foto: Int)

DATARIAU.COM - Hiruk pikuk kehidupan di perlintasan rel Kereta Rel Listril (Krl) Stasiun Pasar Minggu, Jakarta Selatan kembali hadir di tengah pandemic Covid-19. Di sekitar bibir gang yang terletak di Jalan Raya Pasar Minggu sudah dipenuhi beberapa pedagang asongan, penumpang KRL, serta ojek pangkalan (opang).

Tak disangka, di barisan pertama, terlihat Beryl Gondrong (50 tahun), seorang panjak, pemain Lenong asal Condet. Dengan masker dan mata jelinya, ia sedang menunggu penumpang yang minta diantar. Bunyi bising sirine menemaninya sepanjang hari. Sejak Maret lalu, ia beralih profesi menjadi opang Stasiun Pasar Minggu.

Beryl mulai menunggu penumpang dari pukul 06.00 WIB hingga malam hari. Bekerja mulai dari matahari terbit hingga tenggelam terpaksa ia lakukan demi mencari sesuap nasi untuk istri dan ketiga anaknya.

Pendapatan sehari, terkadang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dapur dan iuran kontrak bulannya. Kalau sedang ramai, Beryl bisa mengantongi Rp 200 ribu. Sedangkan jika sepi penumpang, ia hanya mendapat Rp 50 ribu.

“Sehari bisa tiga sampai lima kali narik. Kurang lebih segitu ya. Enggak cukup,” tutur Beryl saat ditemui Republika, beberapa waktu lalu.

Raut wajah Beryl berubah menjadi sedih lantaran rindu berpentas bersama rekan-rekannya. Terakhir pentas, kata dia, dalam acara Indonesia Bersatu pada Januari lalu. Peran sebagai babe ia biasa lakoni. Dilengkapi dengan kostum sadariah betawi, kopiah, dan sarung yang dikalungkan pada leher.

Kini, rasa rindunya harus ia rasakan entah sampai kapan. Kendati demikian, Beryl tak bosan menunggu panggilan pementasan. “Ini lagi nungguin job dari sanggar Opet Robert. Katanya ada rencana bulan November. Belum tahu pastinya,” ujar dia.

Selain sebagai panjak, Beryl kerap menghiasi acara di stasiun televisi seperti acara Pesbukers dan hadir di beberapa sinetron. Sayangnya selama pandemi, tawaran pekerjaaan tak kunjung datang.

Hal serupa juga dirasakan Addin Ikhwani (25 tahun) yang juga berprofesi sebagai panjak dan pemain musik gambang kromong. Addin mengungkapkan sebenarnya pada Maret lalu, ia sudah mendapat tawaran main. Namun, semua jadwal pementasan terpaksa batal karena pandemi.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia hanya berprofesi sebagai guru seni di salah satu sekolah di Jagakarsa, Jakarta Selatan. Tentunya sebagai guru, pendapatannya masih kurang untuk membantu kedua orang tuanya yang sudah tua. Terlebih, ia tinggal bersama adiknya juga. Maka itu, Addin kerap berjualan makanan via daring. Ia menceritakan, rekan senimannya, juga mengganti profesi sebagai wirausaha kecil-kecilan.

“Temen-temen dari sanggar lain sekarang juga jadi wirausaha. Jualannya beragam mulai dari pakaian hingga makanan. Yang penting prinsipnya ada pemasukan buat keluarga,” ujar Addin.

Biasanya saat situasi normal, dalam sepekan, ia bisa dapat dua kali tawaran pementasan. Sehingga kalau sebulan dia bisa mendapat bayaran setara Upah Minimum Regional (UMR).

Akan tetapi sampai saat ini, Addin belum bisa tampil di panggung. Ia mengaku tidak bisa menghilangkan rasa rindunya tampil dalam pementasan. Menurutnya, walaupun selama masa transisi ini sudah dilakukan latihan bersama rekan-rekannya, hal tersebut tetap terasa berbeda.

“Sekarang kan sudah masa transisi ya, sudah ada latihan gitu. Tapi rasanya tetap beda ya dari tampil di panggung,” kata dia.

Ketua Komunitas Sanggar Ondel-Ondel DKI Jakarta, Yogie Ahmad memaparkan, dampak Covid-19 juga dirasakan seniman ondel-ondel. Seharusnya saat ini rekan komunitasnya sudah mendapat berlimpah tawaran pementasan. Namun terpaksa batal lantaran wabah Covid-19.

“Yang mirisnya ada rekan seniman yang jual alat-alat mereka. Ada yang jual gendang atau tehyan. Malahan ada yang jual ondel-ondelnya. Itu kan buat mata pencaharian mereka,” kata Yogie.

Sebagai ketua komunitas, ia merasa bertanggung-jawab untuk mencari bantuan. Selain mencari bantuan, ia juga menghabiskan kas komunitas untuk membantu para seniman ondel-ondel.

“Kan Jakarnaval 2019 dapat banyak. Uangnya enggak diabisin. Saya sisakan untuk pemasukan kas. Sewaktu-waktu ada biaya darurat. Eh bener aja pas pandemi gini jadi habis. Pemerintah harus lebih memperhatikan nasib para seniman,” ujar dia.(*)

Editor
: Ruslan Efendi
Sumber
: https://republika.co.id/berita/qcxdf1330/seniman-terpaksa-jual-alatalat-musik-untuk-makan
Tag:
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)