Sejarah Mahmud Marzuki Menyatukan Masyarakat Kampar Melalui Agama Untuk Melawan Jepang

Admin
286 view
Sejarah Mahmud Marzuki Menyatukan Masyarakat Kampar Melalui Agama Untuk Melawan Jepang

BANGKINANG KOTA, datariau.com - Mahmud Marzuki lahir di Bangkinang, 1911 silam. Masa kecilnya, dia memiliki keinginan yang kuat untuk menempuh pendidikan setinggi langit. Di masa penjajahan Belanda, dia bersekolah di Velkschool Bangkinang 1918 hingga 1921.

Selanjutnya, putra Kampar ini melanjutkan pendidikan di Tarbiyah Islamiyah di kota yang sama hingga tamat 1934.

Usai tamat Tarbiyah, Marzuki memiliki keinginan yang kuat untuk menempah ilmu bidang agama Islam. Masa kecil, dirinya sudah menjadi anak yatim, karena sang ayah Paki Rajo asal Bukittingi, Sumatera Barat meninggal dunia.

Kondisi ekonomi keluarganya juga pas-pasan. Walau demikian semangatnya untuk menempuh pendidikan terus dia gelorakan.

Berbekal tamatan Tarbiyah Islamiyah dia bertekad untuk melanjutkan perkuliahan di luar negeri.

Dengan adanya bantuan dari beberapa warga, akhirnya pada tahun 1935 diapun meninggalkan kampung halamannya. Dia langkahkan cita-citanya menuntut ilmu agama yang lebih tinggi lagi di perguruan Islam Nazmia Arabic College Lucknow di India.

Tiga tahun lamanya di India menekuni dan memperdalam ilmu filsafat dan perbandingan agama. Pada tahun 1938, usai menempuh pendidikan, dia kembali ke kampung halamannya di Kab Kampar. Kepulangannya disambut hangat masyarakat setempat.

Berbekal ilmu agama yang dia pelajari, Marzuki pun lantas bertemu dengan sejumlah tokoh adat, tokoh agama, dan para gurunya di pondok pesantrennya dulu. Dia pun mengajar kembali di mana dia dulunya bersekolah.

Bertahun-tahun lamanya mengajar, diapun dipercayakan oleh gurunya untuk menjadi Rois (pemilik sekolah) di pesantren Tarbiyatul Islamiyah dan sejumlah sederatan sekolah lainnya yang ada di Kampar.

Pada tahun 1939, Marzuki masuk dalam organisasi Muhammadiyah di pengurusan ranting. Masuknya Marzuki ke organisasi Muhamadiyah, ternyata menjadi ihwal perpecahan dengan gurunya sendiri Buya Haji Abdul Malik.

Paham Muhamadiyah dianggap tidak satu aliran dengan pesantren Tarbiyatul Islamiyah. Sejak itu, sang guru melarangnya untuk mengajar di pondok pesantrennya

Sekitar tahun 1940 dia pun lewat istri dari gurunya, Salamah, disarankan untuk mengajar ke Payakumbuh, Sumbar.

Salamah mengerti betul perbedaan pandangan antara suaminya dengan muridnya itu. Atas sarannya, Marzuki akhirnya 'hijrah' ke tanah Minang.

Di Bumi Bundo Kanduang itu, Marzuki terus berdakwah dan mengajar. Tak lama, diapun dipercayakan sebagai Pimpinan Cabang Muhamadiyah di Bangkinang, setelah dia kembali dari Bukittinggi.

"Marzuki juga sempat bertemu dengan tokoh-tokoh Muhammadiyah di Minangkabau, seperti Buya Hamka, Buya Alimin, Buya Rasyid dan banyak lagi," kata Suwardi.

Pada tahun 1942, ketika Jepang berkuasa, masyarakat Bangkinang menunjuknya sebagai salah satu pemimpin perjuangan. Saat itu banyak masyarakat yang disiksa Jepang dan kondisi masyarakat di Kampar sangat kacau.

Kala itu banyak tokoh-tokoh lainnya. Namun, Marzuki dianggap masyarakat sebagai tokoh yang dapat mempersatukan.

Mahmud Marzuki satu di antara sederetan para pejuang tanah air dalam merebut kemerdekaan yang mungkin terlupakan kiprahnya. Putra asal Kampar, Riau ini, punya peran dalam memperjuangkan kemerdekaan melalui gerakan dakwah.

Dalam kondisi kekacauan akibat penjajahan tersebut, masyarakat membutuhkan orang pemimpin yang dapat menyatukan masyarakat dalam menghadapi Jepang, dimana sosok pemimpin tersebut adalah Mahmud Marzuki.

Selama peralihan penjajahan Belanda ke Jepang dalam perang dunia ke-II, kondisi masyarakat di Kampar di bawah tekanan. Awalnya kehadiran Jepang disambut hangat karena dianggap sebagai penyelamat dari jajahan Belanda.

Saat itu Marzuki dipanggil dari Payakumbuh untuk menjadi anggota Su Sangi Kai (sejenis Parlemen) tingkat Provinsi dari masyarakat Kampar. Bahkan Jepang tidak meragukan terhadap sepak terjang Marzuki.

Namun kenyataannya keberadaan Jepang justru membuat kekacauan di Kampar sehingga Mahmud Marzuki memimpin perlawanan bersama rakyat, berjuang melawan penindasan yang dilakukan penjajah saat itu.

Kiprahnya Mahmud Marzuki sebagai pejuang Riau dan khususnya Kampar, mungkin sebagian masyarakat belum banyak yang tahu. Padahal dialah orang pertama mengibarkan Merah Putih pasca kemerdekaan di Kampar.

Pada tahun 1942 ketika Jepang berkuasa di Kampar, Riau, terbetik kabar sejumlah tokoh agama ditahan. Marzuki yang kala itu dipercayakan rakyat sebagai tokoh pejuang melawan penjajah.

Sejumlah tokoh alim ulama di Lima Koto Kampar, ditangkap dan ditahan Jepang. Alasannya karena alim ulama dianggap menentang keberadaan tentara Jepang.

Saat itu, Marzuki, dan sejumlah tokoh lainnya seperti Malik Yahya, M Amin serta lainnya bergerak secara diam-diam dalam satu kesatuan ilegal yaitu gerakan rahasia menyebar bibit nasional dan anti penjajah.

Agama merupakan senjata yang ampuh untuk menghimpun massa dan mereka menggerakkan rakyat melawan penjajah Jepang.

Sejumlah tokoh sejarah diantaranya Profesor Suwardi Muhamad Sani, Rustam Effendi, Prof Isjoni, Ali Munir Hasani, Latif Hasyim, Azaly Djohan dan Hj Rosniar, juga pernah menuliskan buku Biografri berjudul Calon Pahlawan Nasional Mahmud Marzuki Sebagai Pahlawan Nasional Republik Indonesia.

Marzuki dan tokoh lainnya kala itu, menyemangatkan untuk melawan Jepang sebagai kafir. Selanjutnya gerakan yang dia lalukan memboikot beberapa hasil panen padi.

Warga diminta untuk tidak menyerahkan seluruh hasil panennya. Usaha yang dilakukan berjalan dengan baik, padi yang diberikan ke Jepang sebagian diisi dengan gabah.

Pada 17 Agustus 1945, Bung Karno dan Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Namun, saat itu kabar kemerdekaan tidak langsung diterima masyarakat di daerah, termasuk di Kabupaten Kampar, Riau.

Pada 5 September 1945, berita proklamasi tersiar di Air Tiris (Kampar) lewat tempelan pamplet yang ditempelkan orang yang datang dari Bukittinggi.

Adanya pamplet itu mendorong Mahmud Marzuki dan Muhamad Amin pergi mengecek atau mencari informasi kebenaran cerita itu. Kedua tokoh masyarakat itu pergi ke Botok, Kepala Kantor Pos dan Telegraf Bangkinang.

Rupanya Botok benar telah mendapat berita kemerdekaan tetapi dia tak berani untuk menyebarluaskan karena takut ancaman Jepang.

Sejarah tersebut bahkan pernah dituliskan di buku sejarah keluaran 2018.