KAMPAR KIRI, datariau.com - Salah seorang petugas SPBU 14-283.628 Kampar Kiri dengan sadar adanya seorang wartawan yang sedang mengisi BBM mobil di tempat itu bukannya panik karena di sisi lain ada juga jerigen yang antri.
Petugas itu malah mempertanyakan ke wartawan dengan nada menantang untuk mengambil foto jerigen-jerigen yang ada di SPBU itu. Karena, beberapa waktu lalu memang petugas itu sempat heboh adanya berita yang viral di media online terkait dugaan aksi melangsir BBM premium menggunakan puluhan jerigen di SPBU tersebut. Baca: Puluhan Jerigen Antri di Salah Satu SPBU Kampar Kiri
Hal ini dikatakan salah satu wartawan media online M Hasbi kepada datariau.com, Ahad (3/9/2017). Hasbi menjelaskan, bahwa kejadian itu bermula pada Sabtu (2/9/2017) saat itu ia hendak mengisi BBM di SPBU tersebut karena indikator BBM di mobilnya sudah menunjukkan tanda harus diisi saat ia menuju ke Pekanbaru.
"Pas saya sedang ngisi, tiba-tiba salah satu oknum operator SPBU 14-283.628 itu berinisial ML mengatakan, itu tidak difoto sambil menunjuk ke jerigen 5 literan yang yang berjejer sedang antri," kata Hasbi. Operator itu memang kenal dengan Hasbi yang merupakan wartawan di daerah tersebut.
Dari perbincangan itu, dijelaskan Hasbi, oknum operator tersebut juga menggerutu bahwa gara-gara berita yang tayang di media online beberapa lama SPBU itu tidak bisa lagi menjual BBM ke pembeli yang menggunakan jerigen, karena SPBU ditegur pihak Pertamina.
Operator menyebut, pembeli menggunakan jerigen itu merupakan masyarakat dari pelosok daerah itu, BBM dibeli untuk dijual lagi kepada masyarakat yang terisolir. Maka karena adanya pemberitaan tersebut, operator mengatakan kepada Hasbi bahwa masyarakat pelosok menjadi terzolimi tidak bisa lagi membeli BBM menggunakan jerigen.
"Payah warga dari mudik (desa terisolir, red) dapatkan minyak, karena kerja kamu dengan kawan-kawanmu," kata M Hasbi menirukan kata yang dilontarkan ML kepadanya.
Padahal, menurut Hasbi, dengan tidak adanya aturan yang jelas, semua orang bisa datang ke SPBU tersebut mengaku dari desa terisolir dan mendapatkan BBM dalam jerigen-jerigen untuk dibawa pulang dan mendapatkan keuntungan dengan menjual lagi BBM subsidi itu di atas harga SPBU.
Beberapa oknum petugas atau operator SPBU juga lebih senang adanya pembeli menggunakan jerigen ini, karena pengisian jerigen pembeli dikenakkan tambahan bayaran Rp10 ribu per jerigen. Sehingga tak jarang pengendara yang mengantri mengeluh, saat ada petugas yang lebih mendahulukan para pembeli menggunakan jerigen.
Atas adanya tantangan dari operator tersebut, M Hasbi memang tidak meladeninya saat itu. Karena tujuan dirinya ke lokasi SPBU hanya untuk mengisi BBM mobilnya untuk bergegas ke Kota Pekanbaru menghadiri sebuah urusan, Hasbi berjanji akan mendatangi SPBU itu lagi di waktu-waktu tertentu guna menindaklanjuti persoalan tersebut.
Kapolsek Kampar Kiri Kompol Jhon Firdaus AMK saat dikonfirmasi datariau.com mengenai adanya SPBU yang diduga menjual BBM subsidi kepada pembeli yang menggunakan jerigen, mengatakan bahwa pihaknya akan turun ke SPBU tersebut untuk mengumpulkan bukti dan data-data.
"Biar kami selidiki dulu dan terima kasih atas masukan," ujar Kompol Jhon Firdaus AMK.
Sementara pihak SPBU belum bisa dikonfirmasi terkait informasi ini. Tim datariau.com sedang berupaya menemui pihak SPBU maupun mencari nomor kontak yang bisa dihubungi.