MERANTI, datariau.com - Mahasiswa KKN MBKM Universitas Riau di Desa Mantiasa, Kecamatan Tebing Tinggi Barat, Kabupaten Kepulauan Meranti, melakukan sosialisasi dan demonstrasi pertanian organik bersama dengan Kelompok Wanita Tani (KWT). Kegiatan tersebut mengusung tema ”Pertanian Organik.”
”Kegiatan ini merupakan salah satu program kerja Mahasiswa KKN MBKM di Desa Mantiasa. Kegiatan ini diharapkan menjadi pengetahuan tambahan bagi anggota KWT dalam mendukung pertanian berkelanjutan,” ujar Rika Angraini selaku Mahasiswa KKN MBKM.
Salah satu kegiatan yang dilakukan yaitu pembuatan pupuk organik. Pupuk organik yang dibuat berasal dari limbah daun yang tidak digunakan lagi, yaitu serasah daun karet.
Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan pupuk organik yaitu, serasah daun karet, EM4, tanah dan gula.
Peralatan yang digunakan yaitu, tong sebagai komposter, ember dan gayung. Cara pembuatannya ialah dengan menambahkan 50 ml EM4 dan 50 g gula ke dalam 5 liter air, selanjutnya di aduk sampai larut.
Serasah daun karet di campur, kemudian ditambahkan larutan EM4 yang sudah disiapkan. Selanjutnya dimasukkan dalam tong komposter yang sebelumnya ditambahkan tanah. Tong ditutup selama kurang lebih dua minggu.
Selain itu, Mahasiswa KKN MBKM dan Kelompok Wanita Tani (KWT) juga membuat pestisida alami dengan berbahan dasar daun pepaya. Adapun bahan-bahan yang digunakan yaitu, daun pepaya segar, air, minyak tanah dan detergen.
Cara pembuatannya ialah, daun pepaya segar di rajang, hasil rajangan di rendam dalam 10 liter air, 2 sendok makan minyak tanah, 30 g detergen, diamkan semalam.
Larutan hasil perendaman di saring dengan kain halus, lalu ditambah 50 ml minyak tanah dan di aduk. Larutan siap disemprotkan langsung ke tanaman yang terserang hama.
Kegiatan ini merupakan upaya menekan penggunaan bahan kimia yang merugikan lingkungan dan kesehatan serta memanfaatkan limbah dan bahan alam.
Desa Mantiasa merupakan salah satu desa yang terkenal dengan komoditas pertanian karet dan sagu. Hanya saja, penggunaan input kimia masih menjadi pilihan untuk digunakan dalam perawatan tanaman, karena mudah dijangkau dan siap pakai, tanpa memahami konsekuensi yang akan terjadi apabila menggunakan bahan kimia secara terus menerus.
Untuk itu, perlunya pemahaman dan pelatihan pada masyarakat mengenai penggunaan pupuk organik dan pestisida alami yang jelas mudah dan murah untuk dibuat. Kegiatan ini disambut baik oleh Ibu Rokhibah selaku Ketua KWT karena minatnya terhadap pertanian serta solusi untuk tanaman yang terkena serangan hama.
“Kami merasa senang terhadap kegiatan yang dilakukan mahasiswa KKN MBKM UNRI. Limbah daun karet yang selama ini dibuang dan diabaikan, ternyata banyak manfaatnya untuk tanaman-tanaman kita,” tutur Ibu Rokhibah.***