BENGKALIS, datariau.com - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KUKERTA) Universitas Riau (UNRI) Tahun 2026 menggelar lokakarya pembuatan lilin aromaterapi berbahan dasar minyak jelantah di Aula Kantor Desa Pancur Jaya, Kecamatan Rupat, Kabupaten Bengkalis, Rabu (8/7/2026). Kegiatan ini bertujuan mengedukasi masyarakat agar mampu mengolah limbah rumah tangga menjadi produk bernilai guna sekaligus bernilai ekonomi.
Minyak jelantah merupakan salah satu limbah rumah tangga yang jumlahnya sangat besar di Indonesia. Konsumsi minyak goreng nasional diperkirakan mencapai rata-rata 5,2 juta ton per tahun. Dengan tingkat penyusutan sekitar 40 hingga 60 persen, diperkirakan dihasilkan sekitar 2 hingga 3 juta ton minyak jelantah setiap tahunnya. Apabila tidak dikelola dengan baik, limbah tersebut berpotensi mencemari lingkungan dan mengancam kesehatan manusia maupun ekosistem.
Kondisi serupa juga ditemukan di Desa Pancur Jaya. Sebagian masyarakat masih belum memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam mengolah minyak jelantah menjadi produk yang bermanfaat. Berangkat dari kondisi tersebut, mahasiswa KUKERTA UNRI menghadirkan pelatihan yang memadukan edukasi lingkungan dengan praktik langsung pembuatan lilin aromaterapi.
Baca juga:Edukasi Ramah Lingkungan, Mahasiswa KUKERTA UNRI Ajarkan Ibu PKK Mengolah Minyak Jelantah Menjadi Lilin Aromaterapi
Kelompok KUKERTA tersebut terdiri atas sepuluh mahasiswa dari berbagai program studi, yakni Puput Savitri (Ilmu Pemerintahan), Nabila Chania Abda (Ilmu Komunikasi), Norhidayah (PG-PAUD), Gidion Martin Sihite (Kehutanan), Halif Safrizal (Pendidikan Kimia), Winda Juni Lestari Pakpahan (Ilmu Komunikasi), Sopia Pasaribu (Manajemen Sumberdaya Perairan), Indriani (Fisika), Muhammad Faqih Mustafiq (Ilmu Komunikasi), dan Syfa Adistyaningsih (Bimbingan Konseling). Seluruh kegiatan dibimbing oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Dr. Dadang Mashur, S.Sos., M.Si.

Dalam pelatihan tersebut, peserta diberikan pemahaman mengenai cara mengolah minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi yang aman digunakan. Salah satu anggota KUKERTA, Norhidayah, menjelaskan bahwa minyak goreng bekas tidak seharusnya langsung dibuang karena masih memiliki nilai manfaat.
"Minyak bekas (sisa masak) ibu-ibu jangan langsung dibuang, bisa jadi lilin. Apalagi lilin berguna kalau lagi mati lampu, tidak perlu beli lagi," ujarnya saat menjadi pemateri.
Baca juga:
Mahasiswa Kukerta UNRI Edukasi Pemanfaatan Minyak Jelantah Menjadi Lilin Aromaterapi Bernilai Ekonomi di Sungai Geniot
Ia menjelaskan bahwa proses pembuatan lilin membutuhkan penambahan stearic acid atau stearin sebagai bahan pemadat. Kandungan asam lemak, terutama asam palmitat dan asam stearat, pada stearin mampu mengubah minyak cair menjadi padatan sehingga menghasilkan lilin yang kokoh setelah didinginkan.
Sebelum diolah, minyak jelantah terlebih dahulu melalui proses penjernihan sederhana menggunakan arang selama kurang lebih 24 jam. Tahapan ini dilakukan untuk mengurangi aroma khas minyak bekas sehingga kualitas lilin yang dihasilkan menjadi lebih baik.
Dalam sesi praktik, peserta juga diajarkan menambahkan berbagai aroma sesuai selera, seperti minyak kayu putih maupun berbagai jenis essential oil. Selain itu, lilin dapat dipercantik menggunakan ornamen dekoratif seperti batu hias, manik-manik, maupun kerang.
"Aroma lilin bisa menggunakan minyak kayu putih atau essential oil sesuai keinginan," jelas Norhidayah.
Baca juga:FISIP Berdampak UNRI Gandeng TUKR Edukasi Warga Sri Meranti Kelola Minyak Jelantah Bernilai Ekonomi
Ia juga menerangkan teknik dekorasi lilin agar tampil lebih menarik. Hiasan terlebih dahulu diletakkan di dasar wadah bersama sedikit air, kemudian minyak hasil olahan dituangkan di atasnya.
"Karena air dan minyak tidak saling bercampur, keduanya akan membentuk lapisan yang terpisah sehingga menghasilkan tampilan lilin yang lebih menarik dan estetik," tambahnya.
Program tersebut mendapat apresiasi dari Penjabat Kepala Desa Pancur Jaya, dr. Nelya Sasmita. Menurutnya, pelatihan tersebut menjadi inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat dalam memanfaatkan limbah rumah tangga yang selama ini dianggap tidak berguna.
"Kegiatan lokakarya ini yang biasanya minyak jelantah dianggap tidak berguna sekarang bisa kita olah menjadi lilin aromaterapi, dan semoga lokakarya ini bisa diterapkan di rumah," ujarnya.
Baca juga:Mahasiswa KUKERTA UNRI Olah Minyak Jelantah Jadi Lilin Aromaterapi, Dorong Peluang Usaha Warga Desa Lubuk Mandian Gajah
Ia berharap keterampilan yang diberikan mahasiswa KUKERTA tidak berhenti pada kegiatan pelatihan saja, tetapi dapat terus dikembangkan oleh masyarakat menjadi usaha rumahan yang berkelanjutan.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KUKERTA UNRI tidak hanya memberikan edukasi mengenai pengelolaan limbah rumah tangga, tetapi juga mendorong tumbuhnya kreativitas dan jiwa kewirausahaan masyarakat. Pemanfaatan minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi diharapkan mampu menciptakan produk bernilai tambah sekaligus mengurangi pencemaran lingkungan.