DATARIAU.COM - Sekolah seharusnya menjadi ruang yang aman dan nyaman bagi setiap anak untuk belajar, bermain, serta membangun pertemanan. Namun, tindakan mengejek, mengucilkan, hingga menyakiti teman masih menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian. Melihat pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (Kukerta) Berdampak Universitas Riau (UNRI) menggelar Sosialisasi Sekolah Aman Tanpa Bullying di SD Negeri 5 Bantan, Desa Pambang Pesisir, Rabu (22/7/2026).
Kegiatan yang berlangsung di ruang perpustakaan sekolah tersebut menyasar siswa kelas 4 dan 5. Sosialisasi dikemas secara sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa agar pesan yang disampaikan lebih mudah dipahami.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa Kukerta menjelaskan pengertian bullying, bentuk-bentuk bullying, penyebab, dampak, serta langkah-langkah pencegahannya. Para siswa diberikan pemahaman bahwa bullying tidak hanya berupa tindakan fisik seperti memukul, menendang, atau mendorong, tetapi juga dapat berbentuk perkataan yang menyakitkan, mengucilkan teman, hingga tindakan melalui media sosial maupun pesan digital.
Baca juga:Semarak Hari Anak Nasional 2026, Mahasiswa Kukerta Berdampak UNRI Gelar Lomba Edukatif di SDN 5 Bantan
Mahasiswa Kukerta juga menjelaskan bahwa dampak bullying tidak selalu terlihat secara langsung. Korban dapat merasa takut, sedih, kehilangan kepercayaan diri, mengalami stres, bahkan kehilangan semangat untuk belajar.
Karena itu, siswa diingatkan agar lebih berhati-hati dalam bercanda maupun berbicara kepada teman. Candaan yang dianggap lucu oleh seseorang belum tentu menyenangkan bagi orang lain.
Agar kegiatan tidak hanya berlangsung satu arah, mahasiswa Kukerta mengajak siswa mengikuti aktivitas sederhana. Setiap peserta diberikan selembar kertas dan diminta menuliskan apakah mereka pernah mengalami tindakan bullying dari teman serta menceritakan pengalaman yang pernah dirasakan.
Baca juga:Mahasiswa KUKERTA UNRI Edukasi Siswa SDN 05 Bantan tentang Pentingnya Menabung Sejak Dini
Setelah selesai, seluruh kertas dikumpulkan di bagian depan. Kegiatan tersebut memberikan ruang bagi siswa untuk menyampaikan cerita dan perasaan mereka dengan cara yang lebih nyaman tanpa harus mengungkapkannya secara langsung di hadapan teman-teman.
Antusiasme siswa terlihat dari banyaknya cerita yang mereka tuliskan. Beberapa siswa tampak serius mengingat dan menuliskan pengalaman yang pernah mereka alami maupun kejadian yang pernah mereka lihat di lingkungan pertemanan.
Penanggung jawab program kerja, Tia Ananda Desfira, mengatakan antusiasme siswa menjadi salah satu hal yang paling berkesan selama kegiatan berlangsung.
“Anak-anak SDN 5 Bantan sangat antusias mengikuti sosialisasi ini. Mereka bukan hanya mendengarkan materi, tetapi juga banyak bercerita dan menuliskan pengalaman mereka di kertas yang kami berikan. Dari situ terlihat bahwa mereka sebenarnya memiliki banyak hal yang ingin disampaikan,” ujarnya.
Baca juga:Media Online Tempat Memuat Berita Kukerta, Ribuan Artikel Mahasiswa Tayang di Data Riau
Menurut Tia, kegiatan tersebut diharapkan dapat membuat siswa lebih berani bercerita ketika mengalami tindakan bullying.
“Kami berharap melalui kegiatan ini mereka merasa lebih berani untuk bercerita dan memahami bahwa ketika mengalami bullying, mereka tidak harus memendamnya sendiri,” lanjutnya.
Setelah sesi menulis, kegiatan dilanjutkan dengan tanya jawab. Mahasiswa Kukerta memberikan sejumlah pertanyaan berkaitan dengan materi yang telah disampaikan. Siswa kemudian diberikan kesempatan untuk maju ke depan dan menjawab pertanyaan tersebut.
Suasana kegiatan semakin hidup ketika beberapa siswa mulai berani mengangkat tangan dan tampil di depan teman-temannya. Selain menguji pemahaman tentang bullying, sesi tersebut juga menjadi sarana untuk melatih keberanian dan rasa percaya diri siswa.
Mahasiswa Kukerta turut mengajak siswa memahami tindakan yang dapat dilakukan ketika melihat teman menjadi korban bullying. Siswa diarahkan untuk tidak ikut melakukan perundungan, membantu teman yang menjadi korban, serta berani mengatakan bahwa bullying merupakan tindakan yang salah.
Para siswa juga diingatkan untuk meminta bantuan kepada guru apabila mengalami atau menyaksikan tindakan bullying di lingkungan sekolah.
Kegiatan tersebut menjadi pengingat bahwa menciptakan sekolah yang aman bukan hanya menjadi tanggung jawab guru dan pihak sekolah. Setiap siswa juga memiliki peran dalam menciptakan lingkungan pertemanan yang sehat.
Peran tersebut dapat dimulai dari hal-hal sederhana, seperti berbicara dengan sopan, menghargai teman, tidak mengucilkan, serta berani membantu ketika melihat teman mengalami kesulitan.