KAMPAR, datariau.com-Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (Kukerta) Berdampak Universitas Riau (UNRI) Tahun 2026 menggelar sosialisasi pembuatan pestisida nabati berbahan dasar daun pepaya kepada ibu-ibu PKK Desa Tanjung Rambutan, Kecamatan Kampar, Kabupaten Kampar, pada Senin (13/7/2026).
Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 13.30 hingga 15.40 WIB tersebut bertujuan meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pemanfaatan bahan alami sebagai alternatif pengendalian hama yang ramah lingkungan, mudah dibuat, serta ekonomis.
Program ini merupakan salah satu bentuk pengabdian mahasiswa Kukerta Berdampak Universitas Riau dalam mendukung pertanian berkelanjutan melalui pemanfaatan sumber daya lokal yang tersedia di lingkungan masyarakat. Kegiatan diikuti dengan antusias oleh ibu-ibu PKK yang aktif menyimak materi, berdiskusi, hingga mengikuti praktik pembuatan pestisida nabati secara langsung.
Kelompok Kukerta Berdampak Desa Tanjung Rambutan terdiri atas sepuluh mahasiswa yang diketuai oleh Muhammad Dimas Rahardian, bersama Jamila Isdelia, Indri Lidia Kristin, Ghatisya Revita, Roslina Hutasoit, Lasria Br. Sitinjak, Wira Rizky Ramadhan, Belsa Salfira, Sarah Almi Putri, dan Muhammad Fadhil Habibi.
Kegiatan diawali dengan penyampaian materi oleh Roslina Hutasoit dan Lasria Br. Sitinjak mengenai pestisida nabati sebagai salah satu solusi pengendalian hama yang aman bagi lingkungan. Dalam pemaparannya dijelaskan bahwa penggunaan pestisida kimia secara terus-menerus dapat memberikan dampak negatif terhadap lingkungan, seperti mencemari tanah dan sumber air, membunuh organisme non-target yang bermanfaat, memicu munculnya hama yang semakin resisten, serta meninggalkan residu pada hasil pertanian yang berpotensi membahayakan kesehatan manusia. Oleh karena itu, masyarakat diajak untuk mulai memanfaatkan pestisida nabati sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Selain itu, peserta juga diberikan pemahaman mengenai pengertian pestisida nabati, yaitu pestisida yang dibuat dari bahan-bahan alami yang berasal dari tumbuhan dan mengandung senyawa aktif untuk mengendalikan hama tanaman. Dibandingkan pestisida kimia, pestisida nabati memiliki berbagai keunggulan, di antaranya lebih mudah terurai di alam, tidak meninggalkan residu berbahaya pada hasil panen, relatif aman bagi manusia maupun hewan, serta membantu menjaga keseimbangan ekosistem pertanian. Penggunaan pestisida nabati juga dinilai sebagai salah satu langkah nyata dalam mewujudkan pertanian yang sehat, hasil panen yang aman, dan lingkungan yang lestari.
Roslina Hutasoit dan Lasria Br. Sitinjak juga menjelaskan alasan dipilihnya daun pepaya sebagai bahan utama pembuatan pestisida nabati. Daun pepaya diketahui mengandung berbagai senyawa aktif, seperti papain, alkaloid, saponin, flavonoid, dan tanin, yang memiliki kemampuan untuk mengganggu sistem pencernaan hama, menghambat pertumbuhan dan perkembangan serangga, menurunkan nafsu makan hama, serta berfungsi sebagai penolak alami. Dengan kandungan tersebut, pestisida nabati dari daun pepaya dinilai efektif membantu mengendalikan berbagai jenis hama pada tanaman hortikultura tanpa menimbulkan pencemaran lingkungan.
Setelah sesi penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan praktik pembuatan pestisida nabati bersama seluruh peserta. Mahasiswa memperagakan setiap tahapan pembuatan agar peserta dapat memahami prosesnya secara langsung dan mampu mempraktikkannya secara mandiri di rumah.
Proses pembuatan dimulai dengan menyiapkan daun pepaya tua yang kemudian diblender bersama air secukupnya hingga halus. Selanjutnya, hasil blender dimasukkan ke dalam ember berukuran besar dan diperas untuk memperoleh sari daun pepaya. Cairan hasil perasan kemudian ditambahkan sabun cair pencuci piring (Sunlight) sebagai bahan perekat agar larutan lebih mudah menempel pada permukaan daun tanaman. Setelah seluruh bahan diaduk hingga tercampur merata, larutan dimasukkan ke dalam botol berukuran besar dan didiamkan selama satu malam. Setelah proses tersebut selesai, pestisida nabati siap dipindahkan ke dalam botol semprot dan digunakan pada tanaman.
Sekretaris PKK Desa Tanjung Rambutan, Fitri Yenni, mengapresiasi kegiatan yang dilaksanakan mahasiswa Kukerta Berdampak UNRI. Menurutnya, sosialisasi tersebut memberikan wawasan baru bagi masyarakat mengenai pemanfaatan bahan-bahan alami yang mudah ditemukan di sekitar lingkungan sebagai pestisida yang aman dan ekonomis.
"Kami sangat mengapresiasi kegiatan yang dilaksanakan adik-adik mahasiswa Kukerta. Materi yang disampaikan mudah dipahami dan praktiknya juga sederhana sehingga dapat langsung diterapkan oleh masyarakat. Semoga ilmu yang diberikan dapat membantu warga mengurangi penggunaan pestisida kimia dan beralih ke bahan alami yang lebih aman bagi kesehatan maupun lingkungan," ujarnya.
Sesi diskusi berlangsung interaktif. Ibu Vevi Yanti, istri Kepala Dusun III, menanyakan frekuensi penyemprotan pestisida nabati agar memperoleh hasil yang optimal.
Menanggapi pertanyaan tersebut, tim Kukerta menjelaskan bahwa pestisida nabati daun pepaya sebaiknya diaplikasikan sebanyak dua kali dalam seminggu. Penyemprotan secara rutin dinilai mampu menjaga efektivitas larutan dalam mengendalikan hama, terutama pada saat populasi hama sedang meningkat atau memasuki musim penghujan.
Pertanyaan kedua dari Ibu Vevi Yanti berkaitan dengan teknik penyemprotan pada tanaman.
Mahasiswa menjelaskan bahwa larutan pestisida disemprotkan hingga seluruh permukaan daun basah secara merata, terutama pada bagian bawah daun. Bagian bawah daun menjadi fokus utama karena merupakan tempat yang paling sering digunakan hama untuk bersembunyi, berkembang biak, maupun meletakkan telur, sehingga penyemprotan yang merata akan meningkatkan efektivitas pengendalian hama.
Sementara itu, Sekretaris Desa Tanjung Rambutan, Fitri Hidayati, menanyakan jenis tanaman yang dapat menggunakan pestisida nabati tersebut.
Menjawab pertanyaan tersebut, mahasiswa menjelaskan bahwa pestisida nabati dari daun pepaya dapat digunakan pada berbagai jenis tanaman hortikultura, seperti cabai, tomat, terung, mentimun, sawi, bayam, kacang panjang, dan berbagai tanaman sayuran maupun buah lainnya yang rentan terhadap serangan hama. Penggunaan pestisida nabati diharapkan mampu mengurangi ketergantungan petani terhadap pestisida kimia sekaligus mendukung sistem budidaya yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Ketua Kelompok Kukerta Berdampak Desa Tanjung Rambutan, Muhammad Dimas Rahardian, berharap kegiatan sosialisasi tersebut dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya memanfaatkan potensi alam di sekitar sebagai solusi pengendalian hama yang murah, mudah dibuat, dan ramah lingkungan.
"Kami berharap ilmu yang telah disampaikan hari ini dapat diterapkan oleh ibu-ibu PKK dan disebarluaskan kepada masyarakat lainnya. Dengan memanfaatkan daun pepaya sebagai pestisida nabati, masyarakat tidak hanya dapat mengurangi penggunaan pestisida kimia, tetapi juga ikut menjaga kualitas lingkungan serta mendukung terwujudnya pertanian yang lebih sehat, produktif, dan berkelanjutan," tutupnya.***