Kreativitas Guru Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa saat Pandemi

Ruslan
128 view
Kreativitas Guru Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa saat Pandemi
Seorang guru mengajar dalam awal Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT) di SDN 03 Cipayung, Jakarta, Rabu 6 Oktober 2021. PTMT SDN Cipayung 03 telah dilaksanakan mulai tanggal 4 Oktober 2021 yang berjalan lancar dengan protokol kesehatan yang ke

DATARIAU.COM - Usia lebih dari separuh abad tak membuat Dahli Ahmad ketinggalan zaman. Pengajar berumur 55 tahun itu terus beradaptasi mengembangkan berbagai media pembelajaran demi menarik minat belajar murid-muridnya.

Guru PPKn di MTs Attaqwa 03 Bekasi itu membuat video-video animasi untuk pembelajaran. Salah satu video yang ditunjukkannya kepada Tempo misalnya, soal materi Pancasila. Makna sila-sila diajarkan dengan balutan animasi penuh warna nan menarik.

"Siswa-siswa sangat antusias," ujarnya bercerita kepada Tempo, Ahad, 11 Oktober 2021.

Selain membuat berbagai video, Dahli juga tengah mengembangkan website pembelajaran dengan menggunakan google sites. Dengan menggunakan google sites sebagai media pembelajaran, guru bisa memasukkan materi pembelajaran berbentuk teks, visual hingga video pembelajaran, yang dapat dipublikasikan kepada siswa.

Untuk membuat situs tersebut pun tak perlu mengeluarkan biaya alias gratis, hanya butuh kemauan yang tinggi untuk belajar. Panduan cara membuatnya berseliweran di internet.

"Kalau web pembelajarannya nanti sudah rampung, video-video yang saya buat tersebut akan saya unggah di website," ujarnya.

Guru Biologi SMAN 16 Makassar, Imran Rosyadi, 40 tahun, beda lagi. Dia menggunakan aplikasi Quizizz sebagai media pembelajaran. Aplikasi web ini dapat digunakan untuk membuat soal-soal, namun dengan tampilan yang menyenangkan, seperti mengajak siswa bermain sambil belajar.

"Jadi, saya membuat konten untuk evaluasi pembelajaran di Quizizz ini," ujar Imran saat dihubungi terpisah.

Kelebihan dari Quizizz, siswa tidak dapat mencontek sesama temannya, karena soal yang diberikan kepada siswa satu dengan yang lainnya telah diacak. Soal bisa dibuat dengan ketentuan waktu tertentu yang membuat siswa tidak punya kesempatan untuk bertanya dengan orang sekitar atau melihat buku catatan miliknya. Setelah mengerjakan kuis, siswa dapat mengetahui ranking yang dia dapat dari keseluruhan siswa yang mengerjakan soal tersebut. Siswa juga bisa mengetahui mana jawaban yang benar dari soal yang telah dikerjakannya.

Adapun guru matematika SMA Negeri 1 Lhoksukon Aceh Utara, Khairuddin, memanfaatkan Microsoft Teams selama pembelajaran jarak jauh (PJJ). Microsoft Teams merupakan learning management system (LMS) yang terintegrasi dengan pembelajaran berbentuk teks, audio dan video, sistem penilaian yang memudahkan serta mendukung literasi digital dalam interaksi siswa dan guru.

Menurut Khairuddin, dengan menggunakan aplikasi ini, pengelolaan kelas menjadi mudah, video conference-nya juga sangat ringan dan bisa sampai 250 kapasitas secara gratis. Dengan aplikasi ini, guru bisa langsung mengajak siswa melakukan video conference untuk menjelaskan materinya.

Video bisa direkam dalam sistem dan hasil rekaman dapat diunduh oleh siswa, sehingga bisa ditonton kapan saja. Lewat aplikasi ini, guru juga bisa tahu murid yang menyimak pembelajaran atau tidak, melalui aplikasi tambahan di kelas bernama insights, di mana guru dapat memantau aktivitas siswa di kelas dan dapat diunduh dalam bentuk excel.

Pria berusia 42 tahun itu mengaku sangat terbantu dengan aplikasi tersebut dalam menjalankan pembelajaran tatap muka terbatas berbasis sistem hybrid learning pada masa pandemi Covid-19 ini. Hybrid learning merupakan kombinasi antara pembelajaran tatap muka dengan pembelajaran daring.

"Di sekolah kami, pembelajaran dilakukan tatap muka dengan pola shift. Oleh karena itu, ketika siswa tidak hadir karena sedang shift off, Microsoft Teams bisa dimanfaatkan agar mereka tetap terus belajar dan menyimak lewat LMS," ujarnya.

Kondisi pandemi Covid-19 memang membuat guru-guru harus menyesuaikan diri. Tidak hanya dituntut piawai dalam menguasai materi, guru sekarang ini juga diharuskan melek teknologi supaya bisa menyampaikan pelajaran dengan lebih maksimal.

Mau tidak mau, guru harus bisa menyajikan pembelajaran daring dengan memanfaatkan teknologi. Mereka yang tidak mampu beradaptasi, maka akan tertinggal.

Tiga guru di atas merupakan potret guru yang bisa menyesuaikan diri dengan perubahan. Ketiga guru yang sudah lihai memanfaatkan teknologi dalam proses pembelajaran itu tentu tidak mendapat keahlian begitu saja. Khairuddin misalnya, belajar banyak saat mengikuti program Microsoft Innovative Educator Expert. Hingga kini, ia bisa melatih lebih banyak guru untuk memiliki keterampilan digital.

Sementara Dahli dan Imran, mengaku rajin mengikuti berbagai pelatihan yang digelar Jaringan Sekolah Digital Indonesia. "Saya sudah tidak terhitung berapa kali ikut kegiatan JSDI, semuanya gratis," ujar Imran Rosyadi.

Ketua Umum JSDI, Muhammad Ramli Rahim menyebut, organisasi tersebut didirikan memang untuk membantu para guru berdaya secara digital. Organisasi ini terbuka bagi semua guru, sekolah dan siswa di Indonesia.

Sumber
: Tempo.co