SIAK, datariau.com - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) Kelompok 40 Tahun 2026 menggelar kegiatan sosialisasi dan praktik pencacahan sampah organik di SDN 10 Tuah Indrapura, Kecamatan Bunga Raya, Kabupaten Siak, Selasa (1/9/2026).
Kegiatan edukatif tersebut menyasar siswa kelas 6 beserta wali kelas. Para mahasiswa memberikan pemahaman mengenai pemanfaatan sampah organik yang berasal dari lingkungan rumah maupun sekolah untuk diolah kembali menjadi pupuk kompos yang ramah lingkungan dan memiliki nilai guna.
Ketua Kelompok KKN 40 UMRI, Muhammad Farhan Fadhilah, turut menyampaikan materi secara langsung kepada para siswa. Ia menjelaskan tiga tahapan penting dalam proses pembuatan pupuk kompos, yakni pencacahan, pencampuran, dan fermentasi.
"Pertama adalah proses pencacahan, yaitu sampah organik seperti daun kering dipotong atau diperkecil ukurannya agar permukaannya lebih luas, sehingga mempercepat proses penguraian oleh mikroorganisme," ujar Farhan.
Baca juga:Mahasiswa KKN UMRI Kelompok 23 Tingkatkan Penataan Desa Buatan Baru melalui Pemasangan Papan Identitas Fasilitas Umum
Selanjutnya, kata dia, dilakukan proses pencampuran. Pada tahap ini, sampah organik yang telah dicacah dicampurkan secara merata dengan bahan-bahan pendukung lainnya untuk menciptakan keseimbangan unsur hara.
"Dan yang terakhir adalah proses fermentasi, di mana bahan organik yang telah tercampur mengalami pembusukan terarah secara anaerob atau kedap udara dengan bantuan aktivator, hingga berubah menjadi pupuk kompos yang matang, subur, dan siap digunakan," tambahnya.
Pemaparan tersebut memberikan wawasan baru kepada para siswa bahwa sampah yang selama ini dianggap sebagai barang buangan sebenarnya dapat dimanfaatkan kembali menjadi produk yang berguna.
Setelah mendapatkan penjelasan secara teori di halaman mushola sekolah, para siswa kemudian diajak mengikuti praktik secara langsung. Dalam sesi tersebut, mahasiswa KKN UMRI memberikan pendampingan dan panduan secara interaktif.
Baca juga:KKN UMRI Kelompok 131 Olah Sampah Plastik dan Oli Bekas Jadi Paving Block di Desa Merangin
Praktik pencacahan dan pembuatan kompos dipandu oleh Muhammad Ridwan Dr. Para siswa terlihat antusias mengamati setiap tahapan sekaligus mencoba sendiri proses pencacahan dan pencampuran bahan organik.
Suasana kegiatan pun berlangsung meriah. Para siswa tampak aktif mengikuti praktik dan bergantian mencoba mengolah bahan-bahan yang telah disiapkan. Kegiatan yang awalnya berlangsung secara formal berubah menjadi lebih interaktif dengan munculnya rasa ingin tahu dan antusiasme dari para peserta.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa KKN UMRI Kelompok 40 berharap pengetahuan mengenai pengelolaan sampah organik dapat diterapkan secara berkelanjutan oleh para siswa, tidak hanya di lingkungan sekolah tetapi juga di rumah masing-masing.
Baca juga:Kelompok 110 KATAMAS UMRI 2026 Dorong Pemanfaatan Minyak Jelantah Jadi Lilin Aromaterapi Bernilai Ekonomi
Program ini sekaligus menjadi langkah edukatif untuk menanamkan kesadaran menjaga lingkungan sejak dini. Dengan memahami cara memilah dan mengolah sampah organik, para siswa diharapkan mampu membangun kebiasaan mengelola sampah secara mandiri sekaligus mendorong pemanfaatan limbah menjadi sesuatu yang lebih bernilai.
Mahasiswa KKN UMRI Kelompok 40 juga berharap edukasi tersebut dapat memberikan dampak jangka panjang bagi lingkungan sekolah dan masyarakat sekitar, khususnya dalam mengurangi sampah organik serta memperkenalkan pengolahan sampah yang sederhana, ramah lingkungan, dan dapat dilakukan secara mandiri.***