GUNUNG BUNGSU, datariau.com - Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) Kelompok 128 berhasil menyelenggarakan program kerja bertema anti-bullying di MTs Al-Mujahidin, Desa Gunung Bungsu, akhir pekan lalu.
Kegiatan tersebut dikemas secara interaktif melalui sosialisasi, pemutaran film pendek, drama, butterfly hug, diskusi serta sesi curah pendapat. Pendekatan yang dilakukan mahasiswa KKN tersebut berhasil menyentuh emosi para siswa. Beberapa siswa bahkan terlihat terharu hingga meneteskan air mata ketika mengikuti rangkaian kegiatan.
Ketua KKN UMRI Kelompok 128, Trenady Dewantoro, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan kesadaran siswa mengenai dampak negatif bullying sekaligus membangun budaya saling menghormati di lingkungan sekolah.
“Kami ingin siswa memahami bahwa tindakan yang tampak ringan sekalipun bisa meninggalkan luka mendalam. Lewat pendekatan cerita dan diskusi, pesan itu bisa sampai dengan lebih empatik,” kata Trenady Dewantoro.
Kegiatan diawali dengan penyuluhan singkat mengenai bullying. Para siswa diajak menyaksikan short movie yang mengangkat persoalan perundungan serta mendapatkan edukasi mengenai berbagai bentuk bullying, mulai dari bullying fisik, verbal, sosial hingga siber.
Mahasiswa KKN juga menjelaskan konsekuensi bullying, baik terhadap korban maupun pelaku. Para siswa diberikan pemahaman bahwa perundungan tidak hanya dapat menimbulkan luka secara fisik, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi emosional, kepercayaan diri dan hubungan sosial seseorang.
Selain edukasi, kegiatan semakin menarik ketika mahasiswa menampilkan drama interaktif yang menggambarkan situasi bullying di lingkungan sekolah. Drama tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah tindakan perundungan dapat berdampak besar terhadap kehidupan korban.
Drama kemudian diakhiri dengan adegan rekonsiliasi serta dukungan dari guru dan teman. Bagian tersebut memancing respons emosional dari para siswa yang menyaksikan.
Dalam kegiatan itu, mahasiswa KKN juga mengajak para siswa melakukan butterfly hug. Teknik tersebut diperkenalkan sebagai salah satu cara sederhana untuk membantu menenangkan diri ketika menghadapi emosi yang berat maupun kecemasan.
Melalui kegiatan tersebut, siswa juga diajak memahami pentingnya menyayangi dan menghargai diri sendiri. Pesan yang disampaikan adalah bahwa setiap anak memiliki nilai dan harus mampu menjaga dirinya dari perlakuan yang merendahkan maupun menyakiti.
Suasana semakin emosional ketika sesi diskusi dan curah pendapat dibuka. Para siswa diberikan kesempatan untuk menyampaikan pendapat, pengalaman serta pandangan mereka mengenai bullying.
Salah seorang siswa, Iing, mengaku tidak menyangka dirinya akan terbawa suasana hingga menangis. Ia kemudian mengungkapkan bahwa dirinya pernah menjadi korban bullying.
“Saya salah satu korban bullying,” kata Iing sambil menangis.

Pernyataan tersebut menjadi salah satu momen yang membuat kegiatan semakin menyentuh. Tim KKN kemudian memberikan dukungan dan mengingatkan para siswa agar tidak takut untuk berbicara ketika mengalami maupun menyaksikan tindakan bullying.
Selain membahas pengalaman korban, mahasiswa juga mengajarkan teknik komunikasi asertif dan strategi pencegahan konflik. Siswa diarahkan untuk berani mengatakan tidak terhadap tindakan yang tidak tepat, menyelesaikan persoalan melalui komunikasi serta meminta bantuan orang dewasa yang dipercaya apabila menghadapi masalah.
Tim KKN Kelompok 128 turut membagikan modul edukasi yang dapat dimanfaatkan oleh pihak sekolah sebagai bahan pembelajaran lanjutan mengenai pencegahan bullying dan pembentukan karakter siswa.
Dalam kegiatan tersebut, para siswa juga diajak menyusun kesepakatan klasikal mengenai aturan perilaku yang harus dijaga bersama. Kesepakatan ini diharapkan dapat menjadi komitmen bersama untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman dan saling menghargai.
Kepala Desa Gunung Bungsu, Zulkawi, SP, memberikan apresiasi terhadap inisiatif mahasiswa KKN UMRI yang mengangkat isu anti-bullying di lingkungan sekolah.
“Program ini sangat bermanfaat bagi masyarakat. Pendidikan karakter seperti anti-bullying penting ditanamkan sejak dini. Terima kasih untuk mahasiswa UMRI yang telah memilih desa kami sebagai lokasi kegiatan,” ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris Desa Gunung Bungsu, Hamdani, S.Sy, menuturkan bahwa hasil kegiatan tersebut nantinya akan dilaporkan kepada pihak kampus dan sekolah sebagai bahan evaluasi.
Menurutnya, kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti pada sosialisasi semata. Pemerintah desa bersama pihak terkait berencana mendorong program tindak lanjut berupa pelatihan bagi guru dan orang tua serta penilaian situasi bullying secara berkala.
Langkah tersebut dinilai penting karena pencegahan bullying membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Sekolah, keluarga, pemerintah desa dan lingkungan pertemanan perlu membangun komunikasi terbuka agar setiap persoalan yang dialami anak dapat diketahui dan ditangani sejak dini.
Keberhasilan kegiatan anti-bullying yang digelar KKN UMRI Kelompok 128 di MTs Al-Mujahidin diharapkan dapat menjadi contoh bagi sekolah lain di wilayah Desa Gunung Bungsu untuk mengembangkan upaya pencegahan bullying secara lebih komprehensif.
Pihak sekolah, orang tua dan siswa juga diimbau untuk terus menjaga komunikasi serta menciptakan ruang yang aman bagi anak untuk menyampaikan pengalaman dan perasaannya. Dengan lingkungan belajar yang saling menghormati dan mendukung, setiap anak diharapkan dapat tumbuh dengan rasa percaya diri serta terbebas dari tindakan perundungan.***