Bagas Godang Dalihan Natolu

Ruslan
225 view
Bagas Godang Dalihan Natolu
Foto: Putri Ramadani
Situs sejarah Bagas Godang di Rokan Hulu, Kecamatan Bangun Purba, Desa Tangun. 

ROKAN HULU, datariau.com - Bagas Godang ini adalah salah satu situs sejarah yang terletak di Rokan Hulu, Kecamatan Bangun Purba, Desa Tangun.

Asal mula keberadaan suku Mandailing yang ada di Provinsi Riau sekitar tahun 1836, berkembangnya etnis Mandailing di Provinsi Riau adalah adanya undangan Raja Rambah, Pasir Pengaraian, perihal perlu bantuan karena adanya perselisihan paham dan fisik di wilayah kerajaan rambah tepatnya di Sungai Gerinding perbatasan dengan Rokan 4 Koto.

Selang beberapa ratus tahun suku Mandailing ini diadaptasi oleh kerajaan rambah untuk menjadi saudara dekat yang paling akrab dan paling menyatu karena berhasil membela kerajaan rambah dari sisi gangguan-gangguan dari daerah lain terutama di daerah Rokan Hulu.

Setelah berhasil mengamankan kejadian tersebut maka sepakatlah dengan diketahui pemerintah waktu itu Hindia Belanda, disetujuilah bahwasanya Mandailing yang ada pada kedatangan tersebut menjadi saudara yang paling dekat.

Disisi lain warga ataupun suku Mandailing tersebut telah banyak membantu selain dari hal-hal kesulitan yang disebutkan tadi antara lain perkembangan budaya kemudian asimilasi yang terjadi antara etnis Melayu Pasir Pengaraian dengan etnis Mandailing.

Hasil daripada kerjasama dan keakraban tersebut tertuang pada perjanjian janji Raja sekitar tahun 1938 dengan hal-hal yang menguntungkan bagi kedua belah pihak terutama kalau merujuk kepada asal daripada Bagas Godang di Tangun adalah satu diantara perjanjian Janji Raja tersebut kepada suku Mandailing diberi hak untuk berbudaya dan mengembangkan adat istiadat Mandailing yang bahwasanya sangat mirip atau identik dengan keadaan Melayu Pasir Pengaraian Rokan Hulu.

Hal tersebut adalah merupakan suatu ketentuan adat dengan adanya suku Mandailing boleh menyandang atau pun melanjutkan ataupun mengembangkan budaya asli Mandailing dengan seizin masyarakat sekitar adat Melayu Pasir Pengaraian dengan pemerintah Rokan Hulu.

Maka berkembanglah suku Mandailing tersebut menjadi "Pitu Huta" atau yang artinya Tujuh Kampung hal ini diceritakan oleh salah seorang keluarga terdekat almarhum Haji Thamrin Nasution MBA yaitu Haji Darman Nasution.

Penulis
: Putri Ramadani
Sumber
: Datariau.com