Oleh: Zulkifli Darwis

Sekolah Tak Akan Mampu Sendiri Melawan Penyimpangan Moral Remaja Saat Ini

datariau.com
2.388 view
Sekolah Tak Akan Mampu Sendiri Melawan Penyimpangan Moral Remaja Saat Ini
Zulkifli Darwis

DATARIAU.COM - Pendidikan moral bukanlah sebuah topik baru dalam pendidikan. Pada kenyataannya, pendidikan moral ternyata sudah seumur pendidikan itu sendiri. Berdasarkan penelitian sejarah dari seluruh negara yang ada didunia ini, pada dasarnya pendidikan memiliki dua tujuan, yaitu membimbing para generasi muda untuk cerdas dan bermoral.

Pengertian siswa yang bermoral bisa artikan bahwa siswa yang bermoral adalah siswa yang paham apa-apa yang dilakukannya benar atau salah, dalam artian kalau salah berarti bertentangan dengan nilai-nilai sosial di masarakat dan hukum yang berlaku di negara kita ini. Dan tindakan yang bisa diterima atau benar adalah apa yang dilakukannya itu baik, tidak bertentangan dengan hukum dan pastinya sesuai dengan nilai-nilai yang ada di tengah masarakat.

Tetapi kenyataannya sekarang ini penyimpangan moral yang dilakaukan oleh sebagian pelajar sudah sangat mengkhwatirkan dan meresahkan. Seperti kasus obat PCC yang korbanya pelajar, kasus gladiator yang menewaskan pelajar, kasus video gay kids (VGK) yang pemerannya adalah pelajar, pemerkosaan, sex bebas, kekerasan, pembunuhan dan kasus-kasus lainnya yang bertentangan dengan nilai-lain sosial di masyarakat dan hukum yang berlaku.

Sekolah adalah tempatnya belajar. Hal pertama yang sedini mungkin dilakukan di sekolah-sekolah kita adalah penanaman nilai moral dan etika kepada siswa yang baru masuk dan mengenal dunia sekolah. Tetapi kenyataannya sekolah belum bisa maksimal dalam membentuk moral siswa. Guru-guru dan pemerintah sudah bekerja maksimal, tetapi kenyataannya pekerjaan ini tidak bisa dilakukan oleh sekolah sendiri. Diperlukan dukungan dari masarakat dan dari orangtua siswa itu sendiri.

Apa yang harus kita lakukan untuk melawan penyimpangan moral remaja sekarang ini?

Pertama, diperlukan kampaye nasional, peran pemerintah dalam hal ini perlu dilakukan, bukan saja menghimbau atau menyebarkan tulisan untuk menghindari narkoba kepada siswa saja (narkoba No prestasi Yes), tetapi perlunya menghimbau para orangtua untuk lebih peduli kepada anak-anak mereka. Memang tidak ada ada orangtua yang tidak peduli dengan anak mereka, tetapi kebanyakan para orangtua sepenuhnya menyerahkan semua yang berhubungan dengan pendidikan anak mereka kepada sekolah, sehingga para orangtua kebanyakan tidak mengikuti dan tidak peduli dengan perkembangan anak mereka, apa yang bisa orangtua lakukan kepada anak-anak mereka kalau mereka jadi lebih peduli?

Para orangtua adalah orang yang paling berkuasa kepada anak-anak mereka, mereka merupakan sumber utama dari pendidikan moral itu sendiri, mereka adalah contoh bagi anak-anak mereka. Di saat para orang tua punnya kepedulian penuh, mereka akan melakukan yang terbaik untuk anak-anak mereka. Orangtua juga harus menjadi fatner bagi sekolah, dan sebaliknya pemerintah dan sekolah harus memberikan edukasi secara tak langsung bagaimana mendidik anak-anak mereka akan pendidikan moral. Menjadi orangtua tidak pernah ada pelatihan terlebih dahulu, oleh sebab itu orangtua harus mengetahui apa-apa yang menjadi tugas mereka tentang pendidikan moral. Pengaruh negatif televisi bagi anak-anak mereka. Diharapakan orangtua bisa mengawasi, mengontrol, mendampingi dan memberikan pengertian kepada anak-anak apa-apa yang mereka lihat di televisi, itu akan membentuk suatu pemahaman, kalau itu salah dan itu benar, anak-anak adalah peniru yang handal, apa yang mereka lihat itu yang mereka tiru, jadi kewaspadaan dan kontrol dari orangtua di rumah sangat dibutuhkan.

Contoh lainnya memberikan pendidikan sex kepada anak-anak, bagaimana orangtua harus menjawab dikala anak bertanya, bagaimana memberikan pengetian yang baik tentang penggunaan internet dan sosial media, edukasi lainnya sangat harus digalakkan kepada para orangtua tentang nilai-nilai lainnya, bagaimana anak-anak harus belajar bertanggung jawab, rasa hormat, menghormati pendapat orang lain, dan yang penting menerima perbedaan yang ada.

Disamping itu, dukungan dari masarakat di sekitar lingkungan sekolah harus lebih ditingkatkan, semua masyarakat harus sadar betul kalau semua siswa di sekolah adalah calon masyarakat baru nantiknya yang harus didukung penuh, bukan saja dari segi pendanaan, tetapi juga harus dijauhkan dari hal-hal luar yang negatif, kita sebagai masyarakat juga harus menjadi contoh yang baik, libatkan sekolah-sekolah untuk mendukung acara-acara yang positif di tengah masyarakat, jadilah masyarakat yang bijak menyikapi perbedaan. Sehingga kita tidak mudah terpecah belah dengan perbedaan, jauhi lingkungan kita dari narkoba, dan nilai-nilai positif di tengah masyarat kita harus kembali ditingkatkan, karena apa yang terjadi di lingkungan sekolah adalah gambaran dari apa yang terjadi pada masyarakat kita. Semoga kita semua menjadi orang yang peduli dan siap dengan perubahan. (*)

* Penulis merupakan Dosen FKIP Penjaskesrek Universitas Islam Riau, juga sebagai Mahasiswa S3 Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta.

Editor
: Agusri
Sumber
: Datariau.com
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)