Stop Kekerasan Seksual Anak

Oleh : Alfiah, S.Si*
datariau.com
1.243 view
Stop Kekerasan Seksual Anak
Ilustrasi (Foto: Internet)

DATARIAU.COM - Tampaknya sudah tak ada lagi wilayah yang aman bagi anak. Ketika orang tua menitipkan anaknya di pesantren atau sekolah Islam, pelecehan seksual justru dilakukan oleh guru atau pimpinan pondok. Ketika anak bermain di sekitar rumah, pelecehan seksual justru dilakukan oleh tetangga atau teman sebaya. Ketika anak berada di rumah, pelecehan seksual justru dilakukan abang, paman, kakek atau bahkan ayah sendiri.

Sebegitu mengerikannya kah lingkungan anak sehingga mau tak mau anak menjadi tumbal rusaknya sistem pergaulan. Siapakah yang harus dipersalahkan dan yang paling bertanggung jawab akan rusaknya aset masa depan umat? Orang tua yang abai, lingkungan yang bebas dan rusak, mudahnya akses video asusila, gagalnya pendididikan di sekolah atau negara yang lalai dalam melindungi moral rakyatnya adalah sederet catatan yang sungguh sangat mengenaskan. Akankah terus kita biarkan kasus demi kasus pelecehan seksual pada anak?

Seperti viralnya kasus perkosaan anak baru-baru ini. Bocah Taman Kanak-kanak (TK) di Mojokerto diduga telah menjadi korban perkosaan tiga anak Sekolah Dasar (SD). Korban mendapat perlakuan tak senonoh secara bergiliran. Ironisnya perkosaan itu sudah terjadi sebanyak 5 kali. Kuasa hukum korban, Krisdiyansari menyatakan bahwa. terduga pelaku merupakan tetangga korban dan teman sepermainan. Tentu saja hal ini menorehkan traumatik yang mendalam terhadap anak perempuan berusia 6 tahun itu karena sudah beberapa kali mengalami kejadian serupa. (liputan6.com, 20/01/2023)

Kasus kekerasan seksual pada anak sungguh sangat mengkhawatirkan. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) sendiri mengungkapkan sebanyak 4.683 aduan masuk ke pengaduan sepanjang 2022. Nyaris dari lima ribu pengaduan itu bersumber dari pengaduan langsung, pengaduan tidak langsung (surat dan email), daring dan media massa. Pengaduan paling tinggi adalah klaster Perlindungan Khusus Anak (PKA) sebanyak 2.133 kasus. Kasus tertinggi adalah jenis kasus anak menjadi korban kejahatan seksual dengan jumlah 834 kasus (republika.co.id, 22/01/2023)

KPAI menemukan kekerasan seksual terjadi di ranah domestik di berbagai lembaga pendidikan berbasis keagamaan maupun umum. Kemudian, data pengaduan Klaster Lingkungan Keluarga dan Pengasuhan Alternatif sebanyak 1960 aduan. Angka tertinggi pengaduan kasus pelanggaran hak anak terjadi pada anak korban pengasuhan bermasalah/konflik orang tua/keluarga sebanyak 479 kasus. Hal ini jelas menggambarkan bahwa keluarga yang seharusnya menjadi tempat paling aman dan nyaman bagi anak, namun justru sebaliknya kerap menjadi tempat pelanggaran hak anak.

Kebanyakan faktor yang melatarbelakangi terjadinya kekerasan fisik dan/atau psikis kepada anak adalah adanya pengaruh negatif teknologi dan informasi, permisifitas lingkungan sosial-budaya, lemahnya kualitas pengasuhan, kemiskinan keluarga, tingginya angka pengangguran, hingga kondisi perumahan atau tempat tinggal yang tidak ramah anak.Ini tentu memperlihatkan bahwa posisi anak sangat rentan terhadap berbagai kekerasan karena ada banyak sekali faktor yang dapat menjadikan anak sebagai korban maupun pelaku.

Maraknya berbagai kasus kekerasan seksual pada anak pada dasarnya adalah buah kebobrokan sistem kapitalisme-sekuler yang diterapkan negeri ini. Dampaknya negara abai dalam memperhatikan nilai-nilai moral dan rohani dalam berbagai aspek, khususnya sistem pendidikan, sosial, ekonomi, dan media informasi. Arus liberalisasi, hedonisme, permisivisme semakin menambah karut marut persoalan perlindungan anak.

Kewajiban orang tua dalam memberikan pengasuhan, memelihara, mendidik, dan melindungi anak sering kebobolan karena rusaknya lingkungan dan derasnya arus informasi. Solusi tuntas terhadap kekerasan seksual pada anak hanya dapat diperoleh dengan menjadikan akidah Islam sebagai asas dan solusi bagi setiap persoalan negeri ini. Karena berbagai kasus kekerasan seksual pada anak adalah efek dari rusaknya sistem kapitalisme sekuler.

Islam memiliki aturan yang lengkap yang mampu mencegah dan menyelesaikan persoalan kekerasan seksual pada anak. Pertama, penerapan Sistem Pendidikan. Negara wajib menetapkan kurikulum berdasarkan akidah Islam yang akan melahirkan individu bertakwa. Individu yang mampu melaksanakan seluruh kewajiban yang diberikan Allah dan terjaga dari kemaksiatan apapun yang dilarang Allah. Salah satu hasil dari pendidikan ini adalah kesiapan orang tua untuk menjalankan salah satu amanahnya yaitu merawat dan mendidik anak-anak, serta mengantarkan mereka ke gerbang kedewasaan.

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)