Selebrasi Hari Museum Internasional: Eksistensi Pergerakan Komunitas Sebagai Wujud Pelestarian Museum

datariau.com
2.137 view
Selebrasi Hari Museum Internasional: Eksistensi Pergerakan Komunitas Sebagai Wujud Pelestarian Museum

DATARIAU.COM - Hari Museum Internasional yang ditetapkan oleh International Council of Museums (ICOM) pada tanggal 18 Mei menjadi usaha meningkatkan kepedulian masyarakat akan keberadaan museum. Museum sejatinya dapat menjadi media pengembangan diri masyarakat, serta masyarakatpun dapat menjadi pionir pengembang museum. Perspektif masyarakat terkait museum cenderung bersifat variatif, yakni terdapat masyarakat yang acuh dan ada juga masyarakat yang sangat peduli dengan keberadaan museum.

Bentuk kepedulian tersebut dibuktikan dengan banyaknya pergerakan komunitas-komunitas pecinta museum yang ada di daerah maupun kota-kota besar di Indonesia. Berbagai komunitas yang telah berkembang saat ini memiliki tujuan dan program masing-masing dalam pengelolaan museum. Beberapa pergerakan komunitas sebagai wujud pelestarian museum di Indonesia dapat ditelusuri serta ditinjau lebih dalam salah satunya dari keberadaan Komunitas Heritage Hero di Kabupaten Siak Sri Indrapura. Komunitas ini berkembang sejak tahun 2018 dengan berbagai macam bentuk program seperti Siak Heritage Walk, Heritage Fun Project, Heritage Fun Ride. Kegiatan ini sangat berguna karena melibatkan berbagai situs sejarah yang ada di Kabupaten Siak, khususnya Museum Asserayah Al-Hasyimiah.

Dari Siak menuju kota Bandung. Disana juga terdapat komunitas museum yang cukup terkenal, yakni Sahabat Museum Konferensi Asia-Afrika (SMKAA). Dilihat dari sisi sejarahnya, Museum Konferensi Asia-Afrika merupakan sebuah bangunan bersejarah yang menjadi saksi terselenggarakannya Konferensi Asia-Afrika pada tanggal 18-24 April 1955 di kota Bandung. Peristiwa ini menjadi simbol kerjasama internasional dan perdamaian dunia, dimana terdapat nilai perjuangan bangsa Asia-Afrika untuk melepaskan diri dari penjajahan dan mencapai kemerdekaan serta menjunjung tinggi kesetaraan, keadilan, keteriban dan perdamaian dunia.

Sahabat Museum Konferensi Asia-Afrika (SMKAA) bertujuan untuk mengimplementasikan dan menyebarkan nilai-nilai yang terkandung dalam Dasasila Bandung pada peristiwa KAA sekaligus mendekatkan museum kepada publik. Setidaknya terdapat 17 kegiatan yang mewadahi publik dalam SMKAA antaralain Journativist, Nihao, Young Announcer, Yong Crafter, Cinemaker, Educator, Guriang, Sahabart, Global Literacy, Heiwa, Assian African Reading Club dan lain-lain. Aktifitas tersebut terbuka publik secara umum khususnya pemerhati Asia Afrika dan setiap programnya memprioritaskan kalangan anak-anak dan remaja sebagai generasi penerus bangsa.

Selain komunitas Heritage Hero dan SMKAA, terdapat komunitas museum yang sudah cukup lama bergerak dalam pelestarian sejarah. Nama komunitas tersebut adalah Sahabat Museum atau yang sering disingkat dengan BatMus. Komunitas ini didirikan oleh seorang lulusan Sastra Belanda UI yakni Ade Purnama (Adep) pada tanggal 31 Agustus 2002. Menurut Adep, BatMus disiapkan untuk mengubah paradigma masyarakat tentang museum. Kebanyakan orang menganggap bahwa berwisata ke museum merupakan hal yang membosankan dan membuang-buang waktu. Padahal museum merupakan tempat yang sangat menyenangkan dan memberikan edukasi terutama bagi penggemar sejarah. Maka dari itu, BatMus hadir dengan dua program menariknya, yakni Plesiran Tempo Dulu dan Pindah Tongkrongan (Pintong).

Yang menjadi pembeda diantara keduanya hanya terletak dari waktu persiapannya. Plesiran Tempo Dulu biasanya memiliki persiapan yang lebih matang layaknya akan mengadakan study tour. Sedangkan Pintong, biasanya kegiatan yang mendadak dengan tempat dan waktu yang tidak direncanakan sebelumnya. Tidak tanggung-tanggung, setiap BatMus mengadakan programnya, peserta kegiatan selalu mencapai ratusan orang.

Bahkan hingga kini, anggota BatMus telah mencapai 4.000 orang. Selama masa pandemi pun, BatMus rutin mengadakan virtual tour museum di media sosialnya. Dapat dilihat bahwa dengan kehadiran komunitas-komunitas ini dapat menjadi salah satu media pemasaran museum dan satu langkah konkrit dalam menjaga pelestarian sejarah dan memori kolektif di tengah masyarakat. (***)

Disusun Oleh Tim Penulis Jurnalisme B Mahasiswa Pendidikan Sejarah

1. Annisa'a Ambarnis
2. Mutia Yossiani
3. Wahyu Muhammad Ramdhani
4. Allika Putri Kirana
5. Annida Syahida
6. Fahri Azis
7. Daffa Raihan Amany
8. Sekar Ayu Febriantie

Referensi:

Ambarnis, Annisa?a. (2022, 21 April). ?Kartini Riau: Cindy Shandoval Pendiri Komunitas Heritage Hero Bagi Pelestarian Sejarah Siak Sri Indrapura?. Haluan Riau, hlm 2.

Din. (2010, 23 Maret). ?Komunitas yang Bersahabat dengan Museum?.

Kompas. [Online]. Diakses dari https://regional.kompas.com

Mardatila, Ani. (2021). Peristiwa 18 Mei: Peringati Hari Museum Internasional, Ketahui Temanya Tahun Ini. [Online]. Diakses dari merdeka.com

Raya, Syalsa. (2022, 25 Januari). "Sahabat Museum Konferensi Asia-Afrika sebagai Wadah Inspiratif bagi Kaum Muda". Kompas.
[Online]. Diakses dari https://www.kompasiana.com

Satria, A. (2017, 11 September). ?Plesiran Tempo Dulu ala Sahabat Museum?. Brava. [Online]. Diakses dari https://bravaradio.com

Widan. (2021). Hari Museum Internasional 2021. [Online]. Diakses dari museumsumpahpemuda.kemdikbud.go.id

Tag:museum
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)