Menyoroti Beban Generasi Sandwich di Tengah Dinamika Sosial Riau

Oleh: Ghina Hensi Gusni*
datariau.com
261 view
Menyoroti Beban Generasi Sandwich di Tengah Dinamika Sosial Riau
Ilustrasi. (Foto: Open AI)
Menyoroti Beban Generasi Sandwich di Tengah Dinamika Sosial Riau.

DATARIAU.COM - Dalam beberapa tahun terakhir, istilah generasi sandwich semakin sering diperbincangkan dalam diskusi publik. Konsep ini menggambarkan situasi di mana individu bertanggung jawab atas kebutuhan finansial dua kelompok usia yang berbeda: orang tua mereka dan anak-anak atau anggota keluarga inti lainnya. Di Provinsi Riau, yang sangat menghargai nilai-nilai kekeluargaan kerja sama, dan penghormatan terhadap orang tua, fenomena ini memunculkan kombinasi antara tanggung jawab, moral leluhur dan kesulitan ekonomi nyata.

Secara budaya, masyarakat Melayu serta kelompok etnis Nusantara lainnya di Riau memandang perawatan orang tua di masa tua sebagai bentuk pengabdian utama, bukan hanya sekadar tugas. Akan tetapi, seiring dengan kenaikan struktur ekonomi dan biaya hidup di daerah perkotaan seperti Pekanbaru yang mencakup biaya pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan primer, banyak individu usia produktif merasakan beban yang signifikan.

Ada beberapa faktor utama yang membuat fenomena ini terus meningkat:

1. Literasi Keuangan yang Masih Terbatas


Banyak keluarga yang belum bisa mempersiapkan dana pensiun atau asuransi kesehatan sejak dini, sehingga mereka ketergantungan terhadap anaknya di hari tua nanti. Literasi keuangan Literasi keuangan orang tua yang bisa membuat anak mereka menjadi generasi sandwich. Mereka tidak memiliki kemampuan untuk mengatur keuangan dan menyiapkan investasi untuk di masa yang akan datang.

2. Kenaikan Biaya Hidup


Kebutuhan dasar serta pendidikan yang tinggi terkadang tidak menjamin pendapatan akan naik oleh para pekerja muda. Budaya hutang balas budi membuat fenomena ini semakin meningkat sehingga menjadi sebuah tradisi yang wajib dilakukan oleh anak ketika sudah dewasa nanti.

Solusi untuk menghadapi tantangan ini memerlukan pendekatan yang bijak baik dari tingkat inidividu, keluarga, maupun dari dukungan lingkungan sekitar:

Pertama, komunikasi finansial yang terbuka dalam keluarga. Perbincangan mengenai kemampuan keuangan dan kebutuhan harus dilaksanakan secara transparan tanpa menghilangkan rasa hormat. Tidak berharap lebih merupakan langkah awal untuk mengurangi beban mental.

Kedua, meningkatkan literasi keuangan serta perencanaan keuangan untuk generasi muda. Anak muda Riau perlu bekal dengan kesadaran untuk dapat mengelola arus finansial upaya tameng sejak dini. Mengakhiri rantai generasi sandwich berarti kita dapat memastikan bahwa diri kita sendiri tidak menjadikan anak-anak sebagai beban finansial di masa yang akan datang.

Ketiga, peran jaring pengaman sosial dan komunitas. Pemerintah daerah dan lembaga masyarakat perlu memperkuat akses layanan kesehatan yang terjangkau dan membuat program ekonomi berbasis komunitas. Ketika fasilitas publik dan jaring pengaman berjalan secara efektif maka beban finansial pun dapat berkurang secara berkala.

Kultur kekeluargaan yang kuat sering kali membuat kita berada dalam posisi yang cukup rumit. Di satu sisi ada kewajiban untuk merawat orang tua yang telah membesarkan kita sedari kanak-kanak hingga dewasa.

Generasi sandwich harus dipandang sebagai motivasi agar kita tidak menjadi ketergantungan terhadap siapapun secara finansial maupun mental. Menghormati orang tua dan melancarkan masa depan anak merupakan dua hal yang sama penting.

Dengan perencanaan yang baik, komunikasi yang stabil, dan literasi keuangan yang sudah baik, masyarakat Riau dapat menjaga nilai-nilai bakti kekeluargaan tanpa mengorbankan kesejahteraan masa depan generasi selanjutnya.

Terkadang yang membuat beban oleh generasi ini adalah mereka dilarang untuk gagal dalam hal apapun dan dituntut untuk menjadi yang sempurna agar bisa menjadi contoh yang baik untuk adik adiknya. Akan tetapi sebaiknya kita dapat memberikan batasan untuk diri kita sendiri untuk hal yang diluar batas kemampuan kita dengan hal yang masih bisa kita lakukan jika itu masih berada dalam kemampuan diri kita sendiri.***

*) Penulis merupakan Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)