DATARIAU.COM - Dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI); miskin adalah tidak berharta; serba kekurangan (berpenghasilan sangat rendah), miskin berarti tidak memiliki kekayaan. Pemaknaan 'miskin' merujuk kepada ciri dari kondisi manusia yang kehidupannya tidak tercukupi. Lawan kata miskin adalah kaya. Pengertiannya kebalikan dari miskin. Jika ditambah dengan imbuhan ke-an jadi 'kemiskinan'. Kemiskinan sendiri ialah suatu kondisi yang miskin.
Menyoal kemiskinan, fokus utama saya adalah membahas dampak "jika pemerintah menaikan pajak sembako dan pendidikan". Maka tulisan ini sebenarnya hanya sebatas opini dan pengandaian atau semacam prediksi saja darii pandangan saya; seorang rakyat biasa yang sudah berkeluarga.
Masih banyak orang-orang miskin yang menyelimuti bumi pertiwi Indonesia, lalu bagaimana dengan wacana kenaikan pajak sembako dan pendidikan?
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, jumlah penduduk miskin Indonesia pada September 2020 mencapai 27,55 juta orang. Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan, jumlah tersebut meningkat 2,76 juta dibandingkan posisi September 2019 yang mencapai 24,97 juta orang.
Inilah Indonesia, selamat datang di Indonesia yang masih labil dalam pertumbuhan ekonominya. Yang sejahtera banyak, yang korupsi meningkat, yang miskin makin miskin. Ditambah kini adanya wacana penaikan pajak untuk sembako dan sekolah atau pendidikan. Yang tidak taat pajak pun, saya kira masih banyak, kini mau nambah beban rakyat lagi.
Ada apa dengan pemerintah saat ini? Katanya sih dengan kenaikan pajak tersebut itu untuk meningkatkan nilai pendapatan nasional, sehingga dengan pendapatan pemerintah yang besar itu, nanti bisa digunakan untuk membangun Indonesia.
Namun yang menjadi miris kondisi saat ini ialah; KETIDAKTEPATAN kebijakan tersebut di saat kondisi pandemi yang semakin meroket juga angka kasusnya. Ditambah kondisi ekonomi kerakyatan kita masih lemah.
Jika kebijakan kenaikan PPN di sektor pangan atau sembako dan pendidikan dilakukan tahun ini oleh pemerintah, maka tercekiklah rakyat. Kantong celana rakyat akan semakin jebol dan menganga. Rakyat miskin akan gelisah, hidup akan semakin susah. Dapur tak bisa ngebul. Angka kemiskinan di Indonesia, saya prediksikan akan tambah menanjak.
Tidak terbayangkan, bagaimana jadinya jika pemerintah salah langkah dalam mengambil suatu kebijakan yang sensitif seperti ini. Mungkin saja, aksi demontrasi mahasiswa dan buruh akan bermunculan kembali dan bergemuruh. Banyak pedagang sembako yang mogok, antara penjual dan pembeli saling curig. Harga-harga sembako akan naik. Pasar-pasar tradisional bisa saja banyak yang tutup.
Terlebih kondisi politik pun akan ramai jadinya. Para pejabat dan politikus akan sibuk berdebat persoalan beda pendapata, elit-elit partai (mungkin) bisa mengambil kesempatan isu yang besar ini untuk pencitraan dengan bersuara lantang membela rakyat kecil. Poster-poster dan baner-baner bergambar dan bertuliskan "bela rakyat" dengan jelas nama pembela terpampang besar diposting di media sosial, sampai gagah beriklan di beberapa media mainstream nasional.
Lagi-lagi saya ngeri melihat negeri ini dengan segala bencananya. Apakah itu bencana alam, wabah penyakit fisik, atau juga penyakit kejiwaan. Sungguh kita tidak mau negeri ini menjadi negeri yang sableng.