Mengkhawatirkan, Banyak Ibu Mengalami Baby Blues, Ancaman Serius Generasi Masa Depan

Oleh: Astuti Rahayu Putri
Datariau.com
1.589 view
Mengkhawatirkan, Banyak Ibu Mengalami Baby Blues, Ancaman Serius Generasi Masa Depan

DATARIAU.COM - Menjalani peran sebagai seorang ibu tentu tidaklah mudah. Mulai dari mengandung, melahirkan, kemudian mengasuh dan mendidik buah hati merupakan peran yang bukan hanya menguras energi secara fisik namun juga psikis dan emosional. Hal ini tentu akan membuat kondisi kesehatan mental ibu mudah terganggu, seperti rentan mengalami sindrom baby blues.

Benar saja, terungkap dari hasil penelitian Andrianti (2020) bahwa 32 persen ibu hamil mengalami depresi dan 27 persen depresi pascamelahirkan. Selain itu, penelitian skala nasional menunjukkan 50-70 persen para ibu di Indonesia mengalami gejala baby blues. Angka tersebut menghantarkan Indonesia menduduki peringkat ketiga tertinggi di Asia (sumber: republika.co.id/28-05-2023).

Sungguh mengkhawatirkan, mengingat ibu adalah 'madrasatul ula' yaitu pendidik (sekolah) pertama bagi anaknya. Sehingga keunggulan suatu generasi sangat tergantung oleh seorang ibu. Ketika nasib kesejahteraan para ibu kini terancam oleh sindrom baby blues, maka tak heran jika kita lihat bagaimana potret generasi saat ini semakin mengiris hati.

Lalu, mengapa angka baby blues bisa tinggi? Tentu banyak faktor yang mempengaruhi. Salah satunya adalah kesiapan menjadi orang tua. Karena menjadi orang tua adalah tugas yang berat, maka persiapannya pun juga harus matang dan prosesnya tidak bisa instan. Sebaiknya proses tersebut sudah mulai diajarkan sejak pendidikan di usia dini hingga dewasa.

Namun sayangnya, sistem pendidikan saat ini lebih berfokus untuk membentuk anak agar sukses meraih prestasi akademik dibandingkan menbentuk anak memiliki kepribadian yang kuat untuk menjalani kehidupan mereka kelak. Misalnya saja, pendidikan anak-anak usia dini saat ini lebih menitikberatkan mereka untuk bisa menguasai kemampuan calistung sebelum masuk sekolah dasar. Dibandingkan, kemampuan untuk memiliki kecerdasan emosional yang baik, seperti bagaimana mengelola emosi dengan benar serta menanamkan rasa tanggung jawab sejak dini. Sehingga, sampai dewasa pun mereka tak terlatih untuk berhasil menghadapi situasi yang menguras emosi dan memikul tanggung jawab yang besar.

Ditambah lagi saat ini semakin kuatnya sistem sekulerisme yang memisahkan agama dari kehidupan. Berimbas pada sistem pendidikan yang kian jauh dari nilai-nilai agama. Lihat saja bagaimana rapuhnya mental generasi kini. Hanya karena mengalami suatu kegagalan semisal gagal lulus ujian, masuk PTN, ataupun masalah percintaan gampang sekali mereka mengalami stress, depresi hingga berpikir untuk bunuh diri. Hal ini bisa terjadi karena pondasi agama yang lemah sehingga mudah terombang-ambing saat badai kehidupan menerpa. Apalagi nanti kelak ketika sudah berumah tangga, dengan badai yang lebih dahsyatnya mampukah mereka bertahan tanpa benteng agama yang kokoh? Rasanya kecil kemungkinannya.

Selain itu, cengkraman sistem kapitalisme semakin merangsang rasa takut dan khawatir yang berlebih. Misalnya saja, segala kebutuhan pokok hari ini sangatlah mahal. Akhirnya, semua orang kerja mati-matian karena khawatir kebutuhan pokok tak terpenuhi. Apalagi, bagi seorang suami yang memikul beban untuk mencari nafkah, bisa-bisa siang dan malam dihabiskan waktunya hanya untuk bekerja demi memenuhi nafkah keluarga. Tentunya, waktu untuk ibadah ataupun kumpul bersama keluarga menjadi minim. Ini pun akan berimbas pada kesehatan mental ibu baru karena kurangnya mendapat dukungan (support system) dari suami yang memilih sibuk bekerja. Padahal, dukungan dari lingkungan sekitar terutama suami juga merupakan faktor yang mempengaruhi baby blues pada ibu yang baru melahirkan.

Maka dari itu, tingginya angka baby blues ini tak bisa dibiarkan berlarut-larut. Butuh solusi komprehensif yaitu berasal dari Islam. Bagaimana caranya Islam meberikan solusi komprehensif? Pertama dengan menerapkan akidah Islam sebagai landasan kurikulum pendidikan. Sejak pendidikan di usia dini anak dibekali dengan tsaqafah Islam hingga ia dewasa. Dari sini akan lahirlah generasi yang kuat dan tangguh dengan kepribadian Islam. Sehingga ketika menghadapi permasalahan maupun ujian kehidupan sebesar apapun mereka tidak akan gampang berputus asa atau pun depresi. Karena segala sesuatunya akan disandarkan hanya kepada Allah. Karena Allah telah berjanji bahwa siapa yang bertakwa kepada-Nya maka akan diberikan jalan keluar dari permasaahan yang dihadapi.

Sesuai dengan firman Allah dalam QS Ath-Thalaq [65]: Ayat 2-3 yang artinya:

"Siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan, memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan, siapa bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya."

Kedua, sistem Islam menjamin kebutuhan pokok rakyat seperti sandang, pangan dan papan dapat terpenuhi dengan layak. Dengan begitu, seorang ayah dan ibu pun bisa fokus mendidik anak mereka tanpa perlu khawatir lagi memikirkan tentang masalah ekonomi. Selain itu, supporting system dapat terwujud optimal di tengah-tengah masyarakat.

Begitulah Islam punya solusi yang menyeluruh sehingga dapat menuntaskan segala preloblematika umat, termasuk tingginya angka baby blues.

Wallahu a'lam bish-showaf. ***

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)