Oleh: Joko Prayitno

Melirik Peluang Budidaya Sapi Potong

Admin
651 view
Melirik Peluang Budidaya Sapi Potong
Joko Prayitno, ASN BPS Provinsi Riau

DATARIAU.COM - Idul Adha telah dua pekan berlalu. Hari besar umat Islam yang dirayakan dengan melaksanakan perintah Allah, salah satunya dengan melakukan penyembelihan hewan kurban. Sampai tulisan ini disusun belum diperoleh informasi secara lengkap berapa jumlah hewan baik sapi, kambing atau domba yang dijadikan hewan kurban pada tahun ini, karena masih proses rekap data oleh Dinas. Jumlah masjid di Riau ada 6.722, misalkan rata-rata tiap masjid melakukan pemotongan 5 ekor sapi saja, maka jumlah sapi yang dipotong bisa mencapai 33.610 ekor. Belum termasuk yang dipotong di instansi, perusahaan, sekolah, dan lain-lain. Jumlah kambing dan domba yang dipotong kemungkinan lebih banyak lagi.

Selain untuk acara peringatan hari raya kurban, pemotongan sapi juga dilakukan tiap hari untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Pemotongan hewan ternak dilakukan di Rumah Potong Hewan (RPH) maupun Tempat Pemotongan Hewan (TPH). Berdasarkan data dari Jendral Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, jumlah sapi yang dipotong pada tahun 2021 sebanyak 56.486 ekor, meningkat sekitar 2 persen dibandingkan tahun 2020 yang tercatat 55.379 ekor. Jumlah produksi daging juga mengalami peningkatan dari 8.737 ton menjadi 8.912 ton. Peningkatan ini menunjukkan bahwa permintaan akan daging sapi mengalami peningkatan.

Indikator lain meningkatnya permintaan daging sapi di Riau juga dapat dilihat dari harga daging sapi yang masih tinggi. Harga daging sapi di pasar tradisional pada bulan Juni 2022 bila dibandingkan awal tahun 2022 mengalami peningkatan. Pada awal tahun 2022 harga daging sapi di pasar tradisional tercatat 130 ribu rupiah per kilogram, mengalami peningkatan pada April ketika perayaan lebaran mencapai 145 ribu rupiah per kilogram. Pada Bulan Juni 2022, harga daging sapi masih di kisaran 140 ribu rupiah per kilogram. Rata-rata harga daging sapi menjadi lebih tinggi bila memasukkan data harga dari pasar modern, tercatat pada bulan Juni rata-rata harga daging sapi per kilogramnya mencapai 146 ribu rupiah.

Melihat kebutuhan masyarakat yang meningkat maka perlu diimbangi dengan ketersediaan akan daging sapi. Berapa populasi sapi potong di Riau?

Pada tahun 2020 jumlah populasi sapi potong di Riau mencapai 204.433 ekor. Pada tahun 2021 populasi sapi potong mengalami peningkatan 2 persen menjadi 208.522 ekor. Peningkatan ini lebih kecil dibanding peningkatan populasi sapi potong secara nasional yang sebesar 3,52 persen. Mengingat potensi yang cukup besar maka budidaya peternakan sapi potong di Riau masih sangat menjanjikan. Beberapa hal yang dapat menjadi bahan pertimbangan masyarakat untuk berbudidaya sapi potong antara lain;
Pertama, masyarakat Riau mayoritas adalah muslim, yang setiap tahun membutuhkan sapi untuk hewan kurban. Peningkatan harga sapi pada perayaan hari Idul Adha adalah indikator adanya peningkatan demand. Permintaan naik maka harga menjadi naik. Melihat dari jumlah populasi saat ini dan jumlah kebutuhan tiap tahunnya, harga sapi potong sepertinya masih akan bagus bagi peternak dengan catatan tidak terjadi impor sapi atau daging sapi.

Kebutuhan masyarakat pada daging sapi bukan hanya pada saat Idul Adha saja, namun dalam kehidupan sehari-hari pun kebutuhan cukup banyak. Bukan hanya rumah tangga yang membutuhkan daging sapi, namun beberapa kegiatan usaha penyajian makanan, seperti warung rendang, warung bakso, warung soto dan lain-lain juga membutuhkan daging sapi. Belum termasuk industri makanan yang menggunakan daging sapi sebagai bahan baku seperti pabrik sosis.

Kedua, wilayah Riau yang mayoritas perkebunan sangat menjanjikan untuk peternakan sapi potong. Area kebun di antara pepohonan kelapa sawit dapat menghasilkan pakan ternak yang banyak. Tinggal bagaimana cara budidaya sapi potong yang lebih pas, apakah dikandangkan ataukah dilepas. Melimpahnya pakan ternak berupa hijauan yang tumbuh di sekitar kebun kelapa sawit seharusnya dapat meningkatkan animo masyarakat untuk budi daya sapi potong.

Usaha budidaya sapi potong bisa menjadi usaha sampingan bagi petani kelapa sawit. Ketika harga kelapa sawit mengalami penurunan petani masih mempunyai tambahan pendapatan dari usaha sapi potong. Tinggal memilih tujuan usaha ternaknya, apakah untuk penggemukan atau untuk pengembangbiakan. Usaha sapi potong yang bertujuan penggemukan relatif lebih singkat dibanding yang pengembangbiakan, sehingga cash flow lebih lancar. Pun begitu, usaha pengembangbiakan juga mempunyai kelebihan karena jumlah ternak mengalami peningkatan dan bisa menjadi tabungan ataupun investasi.

Ketiga, nilai tukar petani sub sektor peternakan pada bulan Juni masih diatas 101 yang artinya bahwa perkembangan biaya pengeluaran peternak masih lebih kecil dibanding perkembangan biaya pendapatannya. Nilai NTP yang diatas 100 dapat diartikan bahwa usaha di sub sektor tersebut masih menguntungkan.

Salah satu tantangan peternak sapi pada akhir-akhir ini adalah merebaknya penyakit mulut dan kuku (PMK). Penyakit ini sudah terdeteksi ada di Pulau Jawa beberapa bulan lalu yang dapat menular pada hewan berkaki belah. Penyakit ini dapat menyebabkan kematian pada hewan ternak yang tentu saja berujung pada kerugian peternak. Namun, frekuensi penyakit ini tergolong rendah dan berbagai upaya isolasi telah dilakukan pemerintah untuk mencegah penyebarannya meluas. Selain penyakit ini, risiko kematian pada hewan ternak sapi potong relatif kecil, apalagi jenis sapi potong yang banyak dikembangkan di Riau adalah sapi Bali, yang terkenal ketahanannya. Risiko dapat ditekan lagi apabila budidayanya menggunakan kandang dengan menjaga kebersihan.

Mungkin salah satu yang menjadi masalah adalah modal yaitu harga ternak yang cukup tinggi. Dalam budidaya ternak sapi potong sebaiknya tidak hanya satu ekor agar mencapai break even point. Tentu dibutuhkan modal yang cukup banyak. Disinilah peran pemerintah dan dunia perbankan untuk memberikan bantuan ataupun kredit lunak. Harapannya populasi sapi potong dapat meningkat secara signifikan dan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat Riau. (*)

* Penulis merupakan ASN BPS Provinsi Riau

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)