Oleh: Alfira Khairunnisa

Ketahanan Keluarga Rapuh, Islam Punya Solusi Ampuh (Merespon Kasus Polandri ASN)

Admin
227 view
Ketahanan Keluarga Rapuh, Islam Punya Solusi Ampuh (Merespon Kasus Polandri ASN)
Alfira Khairunnisa

DATARIAU.COM - Ketahanan keluarga baik sebelum pandemi maupun saat pandemi terbilang sangat rapuh. Bagaimana tidak? Kasus KDRT hingga gugat cerai makin meningkat. Pasalnya, variasi problem makin beragam saja. Mulai dari ekonomi sampai kepada Perselingkuhan. Variasi persoalan yang makin beragam dan tingkat kompleksitas penyelesaiannya pun terbilang makin berat. Fakta berbicara, salah satunya kasus poliandri ASN.

Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menteri PANRB), Tjahjo Kumolo, mengungkapkan adanya fenomena baru pelanggaran yang dilakukan oleh aparatur sipil negara (ASN). Fenomena tersebut berupa ASN perempuan yang memiliki suami lebih dari satu atau poliandri. Tjahjo Kumolo menyebutkan bahwa dalam satu tahun ini ada sekitar lima laporan kasus poliandri (Republika.co.id, 29/8/2020)

Terang saja ini adalah kasus yang langka terjadi. Karna sudah jelas semua agama pun melarangnya. Berita terkait kasus poliandri pun menjadi viral baik di media sosial maupun di dunia nyata. Bagaimana tidak? Bukankah biasanya yang memiliki pasangan sah lebih dari satu hanya diperuntukkan bagi laki-laki? Namun, ini terjadi pada seorang perempuan yang memiliki suami lebih dari satu. Hal ini sontak menjadi bahan perbincangan masyarakat luas.

Faktor sulitnya mewujudkan ketahanan keluarga dan minimnya pemahaman Syariah adalah sebagian pemicunya. Pemicu sistemisnya adalah kebijakan rumit negara khususnya untuk ASN dalam mengatasi problem ketahanan keluarga.

Keharaman Poliandri di Dalam Islam

“Dan (diharamkan juga atas kalian menikahi) perempuan yang bersuami, kecuali hamba sahaya perempuan (tawanan perang) yang kamu miliki sebagai ketetapan Allah atas kamu.” (QS An-Nisa (4): 24)

Syekh Taqiyuddin an-Nabhani berkata dalam an-Nizham al-Ijtima’i fi al-Islam bahwa “Diharamkan menikahi wanita-wanita yang bersuami. Allah menamakan mereka dengan al-muhshanaat karena mereka menjaga [ahshana] farji-farji (kemaluan) mereka dengan menikah.”

Nah, dari ayat dan kutipan isi kitab Nidzom Ijtima'i diatas, bisa kita lihat bahwa salah satu kategori wanita yang haram dinikahi laki-laki, adalah wanita yang sudah bersuami. Maka sudah jelas hukumnya adalah haram. Jika ada seorang yang sudah bersuami kemudian melakukan pernikahan lagi dengan laki-laki lain maka jelas hukumnya adalah haram. Kemudian ketika mereka melakukan hubungan layaknya suami istri maka terhitung hubungan tersebut adalah zina.

Rasulullah juga bersabda:

“Siapa saja wanita yang dinikahkan oleh dua orang wali, maka pernikahan yang sah bagi wanita itu adalah yang pertama dari keduanya.” (HR Ahmad)

Ibnu Qayyim Al Jauziyyah rahimahullah juga berkata,

“Pernyataan ‘laki-laki dibolehkan menikahi empat orang wanita, namun wanita tidak dibolehkan menikahi lebih dari satu lelaki’, ini adalah salah satu bentuk kesempurnaan sifat hikmah dari Allah Ta’ala kepada mereka. Juga bentuk ihsan dan perhatian yang tinggi terhadap kemaslahatan makhluk-Nya.

Begitulah Islam mengatur terkait pernikahan. Jika Poliandri tetap dijalankan maka jelas nasab pun jadi kacau bukan? Penerapan poliandri tersebut akan menyebabkan ketidakjelasan nasab. Anak akan dinasabkan pada ayahnya. Jika seorang perempuan memiliki banyak suami, tidak akan jelas siapa ayah dari anak tersebut. Ini sungguh akan membuat makin ruwet.

Fenomena poliandri di kalangan ASN benar terungkap dan ini hanyalah kasus yang muncul di permukaan, bisa jadi fakta yang tidak terungkap tentu lebih banyak jumlahnya, dan tentu saja pelakinya bukan hanya dari kalangan ASN saja.

Dari hal tersebut di atas menunjukkan bahwa pemerintah belum berhasil menjaga nasab dan moral rakyatnya. Karena, nasab akan berimplikasi pada hukum yang lain seperti pernikahan, nafkah, dan waris. Kepemimpinan dalam rumah tanggapun menjadi kacau. Tak ubahnya seperti salat jamaah yang dipimpin dua imam. Nah, bayangkan saja jika salat ada 2 Imam. Maka makmum pun akan kebingungan mengikuti imam yang mana.

Maka sungguh Islam sebaik-baik aturan. Pengharaman poliandri dalam Islam sangatlah tepat, karena tentu dengan begitu nasab akan terjaga. Wallahu'alam-bishoab. (*)

Oleh: Alfira Khairunnisa (Pengasuh Program Konsultasi Keluarga Media Muslimah Shaliha)