Ironi Negeriku: 48 Juta Ton Makanan Terbuang di Tengah Masyarakat Busung Lapar

Oleh: Alfiah SSi
datariau.com
1.226 view
Ironi Negeriku: 48 Juta Ton Makanan Terbuang di Tengah Masyarakat Busung Lapar
Foto: Ist.

DATARIAU.COM - Hati siapa yang tak teriris mengetahui ada 48 juta ton makanan terbuang setiap tahun. Padahal di satu sisi masih ada masyarakat yang mengalami gizi buruk dan kelaparan. Imbas dari pemborosan makanan Indonesia rugi Rp 551 T. Hal ini diungkap Kepala Badan Pangan Nasional (NFA) Arief Prasetyo Adi menyoroti pemborosan makanan yang dilakukan di Indonesia.

Menurut studi Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Arief Prasetyo Adi mengungkapkan total sampah makanan Indonesia mencapai 23 juta hingga 48 juta ton per tahun selama periode 2000-2019.

Seharusnya, apabila tidak terbuang, sampah makanan itu bisa menghidupi 61 juta - 125 juta orang atau setara 29 hingga 47 persen populasi rakyat Indonesia. Jika hitung-hitungan ekonomi, sisa makanan yang terbuang percuma itu membuat Indonesia merugi US$36,6 miliar atau sekitar Rp551 triliun. (www.CNNIndonesia.com, 27/07/2023).

Mencermati hal ini sudah seharusnya negara menaruh perhatian serius pada masalah pangan. Apalagi penyusutan pangan (food loss) dan sampah makanan (waste) sangat berdampak pada ketahanan pangan dan gizi. Padahal, Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) telah mengingatkan soal ancaman krisis pangan global. Sementara poin terbesar yang berpengaruh dalam food loss and waste.

Sudah saatnya negara melakukan beberapa kebijakan, antara lain dengan mengubah mindset berpikir masyarakat terkait pangan dan kaitannya dengan hajat hidup rakyat banyak. Sehingga hal ini akan mengubah perilaku masyarakat untuk mengkonsumsi pangan sesuai kebutuhannya. Selain itu perlu adanya peningkatan support system, penguatan regulasi, optimalisasi pendanaan, pemanfaatan food loss and waste, pengembangan kajian, serta pendataan food loss and waste.

Sejumlah strategi mencegah food loss and waste antara lain juga bisa dengan membuat platform dan berkolaborasi lintas sektor yang melibatkan tiga kelompok pelaku. Kelompok pertama adalah penyedia makanan/donator yang meliputi restoran, hotel dan retail dan penjual makanan lainnya. Kelompok kedua adalah organisasi sosial yang menjadi food hub yang bertugas dalam menghubungkan penyedia/donor makanan dengan kelompok penerima, seperti FoodBank of Indonesia, Yayasan Surplus, Badan Amil Zakat Nasional, dan lain-lain. Kelompok terakhir adalah kelompok penerima manfaat yang tengah menghadapi masalah kekurangan pangan di antaranya anak-anak, lansia, panti asuhan dan pihak-pihak yang membutuhkan.

Selain itu negara juga harus menyediakan dan memfasilitasi kendaraan logistik pangan untuk pendistribusian pangan berlebih dari pendonor ke penerima manfaat. Jika kesadaran individu terwujud, masyarakat juga peduli terhadap orang-orang yang membutuhkan dan negara memiliki kebijakan yang jelas dalam mencegah food lost and waste tentu masalah pangan terbuang tidak akan terjadi

Dalam Islam, pemborosan pangan dalam bentuk terbuangnya makanan secara percuma adalah tindakan yang sangat dibenci Allah. Dalam Al-Quran Surat al-Isra ayat 26-27, Allah telah mengingatkan kepada kita:

"Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan hak mereka, kepada orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang menempuh perjalanan, dan janganlah engkau menghambur-hamburkan (hartamu, termasuk makanan, (ed)) dengan cara boros. Sesungguhnya orang-orang yang boros itu adalah saudaranya setan, dan setan itu terbukti ingkar kepada Tuhanya.”

Perilaku membuang makanan jelas merupakan perbuatan buruk karena termasuk sikap menyepelekan nikmat dan kufur terhadap nikmat tersebut. Bagi seorang muslim, sepatutnya kita wajib bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmat dan pemberian-permberian-Nya.

Menyia-nyiakan makanan juga termasuk perbuatan menyia-nyiakan atau merusak harta, dan Nabi Shallallahu alaihi wasallam telah melarang perbuatan merusak harta tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya Allah meridhai tiga hal dan membenci tiga hal bagi kalian. Dia meridhai kalian untuk menyembah-Nya, dan tidak menyekutukan sesuatu pun dengan-Nya, serta berpegang teguhlah kalian dengan tali Allah dan tidak berpecah belah. Dia pun membenci tiga hal bagi kalian, menceritakan sesuatu yang tidak jelas sumbernya, banyak bertanya, dan membuang-buang harta.” (HR. Muslim no. 1715).

Nyatanya, ada masih banyak orang-orang di luar sana yang mengais nafkah demi sesuap nasi, bahkan ada yang tak makan berhari-hari. Tanpa disadari, makanan yang kita konsumsi ini termasuk harta yang tak boleh disia-siakan. Wallahu a'lam bi ash shawab. (*)

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)