DATARIAU.COM - Indonesia sedang menghadapi 2 iklim cuaca sekaligus yaitu kemarau berkepanjangan dan curah hujan yang berlebihan pada tahun 2021. Dalam dua iklim cuaca itu terdapat pula kebiasaan bencana yang terjadi, kabakaran hutan yang menyebabkan bencana kabut asap di saat kemarau, dan banjir saat musim hujan.
Bencana itu tidaklah terjadi begitu saja, beberapa hal menjadi penyebabnya. Pertama, bencana kombinasi antara campur tangan manusia dengan alam. Kedua, bencana yang murni karena ulah manusia. Tiap tahun selalu terjadi, sudah menjadi langganan. Kedua jenis bencana tersebut sekurang-kurangnya disebabkan oleh ketidakpedulian manusia dan pemerintah dalam menjaga lingkungan, terutama sumber daya hutan dan lahan. Khusus di provinsi Riau, alam bebas dikuras sehabis-habisnya untuk kepentingan orang dan kelompok tertentu.
Kebakaran Hutan
Yuk kita bicarakan bencana asap yang nomor satu ini. Benar sekali! Banyak pihak mengatakan bahwa belahan dunia sedang mengalami musim kemarau/kering maka peluang kebakaran hutan makin besar terjadi tiap tahunnya. Kebakaran hutan banyak penyebabnya. Pertama karena kemarau berkepanjangan. Selain itu, tanah gambut dan kering yang menyebabkan peluang sebaran api lebih besar. Namun kebakaran hutan dipicu karena ada beberapa faktor yaitu: fenomena alam seperti kilat, puntung rokok, juga yang paling kejam: karena sengaja dibakar.
Namun partisipasi manusia dalam kebakaran hutan dan lahan lebih jelas proporsinya. Manusia modernlah yang membuka lahan dengan cara ceroboh. Dulu ketika beberapa manusia tinggal di hutan mereka melakukan perladangan berotasi. Mereka membakar hutan untuk membuka lahan dan memanen buat tanaman mereka. Tak pernah terdengar kebakaran hutan karena mereka yang tinggal di dalam hutan.
Menjadi Fenomena Tahunan
Sejak kebakaran hutan hebat dari tahun 1997, seperti Inhil, Bengkalis, Dumai, Siak, dan daerah lainnya di wilayah Riau, kebakaran hutan jadi tamu tahunan. Hal yang mengesalkan adalah kejadian ini terus terjadi. Seperti tak ada pelajaran yang dapat diambil dari beberapa belas bahkan beberapa puluh tahun yang menyedihkan ini. Sepertinya semua dilupakan ketika hujan mulai turun sampai kemudian hal yang sama datang di kemudian tahunnya. Begitulah yang terjadi dari tahun ketahun di negeriku.
Penanganan juga tampak sporadis. Hanya berfokus pada pemadaman ketika titik api sudah banyak dimana-mana sementara asap sudah mencekik seluruh sistem pernafasan masyarakat. Kalau belum seperti itu semua pihak akan tenang-tenang saja. Mantan presiden SBY telah membuat banyak kemajuan dengan menegakkan moratorium penebangan hutan. Pada masa kepemimpiannanya pula, rehabilitasi lahan yang rusak banyak dilakukan melalui berbagai program seperti ?penanaman 1 milyar pohon? yang melibatkan banyak orang penting. Juga menjalankan banyak upaya memperbaiki kondisi hutan yang telah rusak.
Tidak kalah dengan kepemimpinan Presiden Jokowi saat ini, salah satu blusukan pertama presiden Jokowi adalah turun ke lokasi langganan kebakaran hutan di Riau. Beliau menghimbau berbagai tindakan konkret. Aparat kita dengan sigap dalam melakukan tugas yang diberikan komandannya. Bahkan beberapa kali terekam berita di TV mereka bekerja dengan baik. Penegakan hukum juga memiliki kemajuan yang sangat dahsyat. Seperti kasus Kalista Alam dinyatakan terbukti membakar hutan dan dihukum oleh MA kemudian didenda sebesar Rp 366 milyar. Ini adalah hukuman terbesar dan terberat kejahatan lingkungan yang pernah tercatat dalam sejarah.
Semoga kondisi udara terus membaik normal seperti sediakala dan ini harus selalu dikawal jangan sampai terulang kembali. Mari kita sama-sama berjanji dengan serius karena semua ini diperlukan agar kabut asap tidak muncul lagi pada masa yang akan datang. Asap yang ?menggila? seperti yang dikatakan oleh banyak petisi tentu diharapkan tak lagi terjadi hari ini dan esok. Pada akhirnya, tak diharapkan lagi gema teriakan ?tolong kami orang-orang yang di Riau?.
* Penulis merupakan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau