Defisit Lapangan Kerja dan Ledakan Gig Economy di Era Modern

Oleh: Awiet Usman
datariau.com
179 view
Defisit Lapangan Kerja dan Ledakan Gig Economy di Era Modern
Ilustrasi. (Foto: OpenAI)

Solusi dalam Perspektif Islam

Islam memandang pekerjaan sebagai bagian penting dari tanggung jawab hidup manusia. Negara memiliki kewajiban menyediakan sistem yang memungkinkan setiap individu memperoleh pekerjaan layak agar dapat memenuhi kebutuhan keluarganya.

Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

“Sesungguhnya setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.”
--- Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim

Dalam perspektif syariat Islam, relasi antara pekerja dan pemberi kerja harus dibangun atas dasar keadilan, transparansi, dan penghormatan terhadap hak masing-masing. Islam mengatur secara jelas hak dan kewajiban kedua belah pihak agar tidak terjadi kezaliman, diskriminasi, maupun eksploitasi.

Prinsip ini menjadi penting terutama di tengah berkembangnya ekonomi digital yang sering kali belum memiliki regulasi perlindungan memadai bagi pekerja gig.

Selain itu, sistem ekonomi Islam juga menempatkan negara sebagai penanggung jawab kesejahteraan rakyat. Negara tidak boleh membiarkan rakyatnya terjebak dalam pengangguran, kemiskinan, dan ketidakpastian hidup.

Jika nilai-nilai Islam diterapkan secara menyeluruh dalam sistem ekonomi, pendidikan, dan politik, maka peluang terciptanya lapangan kerja yang adil dan berkualitas akan semakin besar. Dengan demikian, angka pengangguran dan kemiskinan ekstrem dapat ditekan secara sistematis.

Penutup

Keterbatasan lapangan kerja formal bukan berarti akhir dari harapan. Perubahan zaman justru menuntut masyarakat untuk lebih kreatif, adaptif, dan inovatif dalam menciptakan peluang baru. Namun di sisi lain, negara tetap memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan setiap warga memperoleh hak atas pekerjaan yang layak dan manusiawi.

Ekonomi digital dan gig economy memang membuka peluang baru, tetapi tanpa perlindungan yang kuat, jutaan pekerja akan tetap berada dalam situasi rentan. Karena itu, kebijakan yang adil, inklusif, dan berorientasi pada kesejahteraan rakyat harus menjadi prioritas utama.

Sebab pada akhirnya, kemajuan ekonomi sejati bukan hanya tentang pertumbuhan industri dan teknologi, melainkan tentang sejauh mana manusia dimuliakan dalam sistem kehidupan yang dijalankan.

Wallahu a‘lam bishawab.***

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)