Defisit Ekologi, Kerusakan Masif Kesejahteraan Lintas Generasi

Admin
197 view
Defisit Ekologi, Kerusakan Masif Kesejahteraan Lintas Generasi
Ilustrasi (Foto: Merdeka.com)

Defisit Ekologi, Kerusakan Masif Kesejahteraan Lintas Generasi

"Kita tidak mewarisi bumi ini dari nenek moyang kita. Kita meminjamnya dari anak cucu kita." (Native American Proverb)

Defisit Perilaku Manusia

Kerusakan masif akibat dari tindakan, sikap dan perilaku manusia yang tidak humanis pada lingkungan akan menimbulkan "panen bencana" pada ekologi.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) meminta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir. Pasalnya, diprediksi adanya peningkatan intensitas hujan dari sedang ke lebat secara merata yang terjadi di Jabodetabek pada 20, 23 dan 24 Februari 2021. (Pikiranrakyat.com - 23/2/2021).

Indonesia yang terkenal sebagai zamrud khatulistiwa, paru-parunya dunia, kini seolah sedang menghancurkan dirinya sendiri karena ulah "tangan" para investor dan pembuat kebijakan yang salah. Ekstraksi sumber daya alam (SDA) yang eksploitatif dalam kurun waktu ini seringkali menimbulkan fenomena histerisis, dimana dampak kejadiannya berlangsung lama meskipun penyebabnya sudah diatasi.

Jejak Ekologis

Deputi Direktur Konservasi WWF Indonesia, Budi Wardhana, mengingatkan bahwa berdasarkan kajian jejak ekologis, Indonesia akan mengalami defisit ekologis pada tahun 2016. "Artinya, sejak tahun itu, kita sudah memakai smSDA yang seharusnya dinikmati anak cucu kita," kata Budi Wardhana saat lokakarya "Membangun Ekonomi Hijau Berbasis Masyarakat di Wilayah Heart of Borneo" di Pontianak. (Antaranews.com - 04/12/2012).

Defisit Ekologi

Indonesia terdeteksi mengalami defisit ekologi sebanyak 42%, berdasarkan Data Global Footprint Network tahun 2020. Angka ini menunjukkan bahwa daya dukung alam akan terus berkurang jika konsumsi terhadap sumber daya lebih tinggi daripada yang saat ini tersedia. (Mediaindonesia.com - 11/02/2021).

Dari tahun 2012 sebenarnya, Konservasi WWF Indonesia telah mengingatkan bahwa Indonesia akan mengalami defisit ekologis. Rentang waktu 2012 sampai 2020, tindakan mitigasi apa yang sudah dilakukan oleh para pembuat kebijakan di Indonesia saat alarm alam telah berbunyi.

Beberapa tahun lalu Greenpeace pernah menobatkan Indonesia sebagai “Penghancur Hutan Tercepat di Dunia” dan masuk dalam Guinness Book of World Record. Hal itu dilakukan setelah Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) merilis data bahwa antara rentang waktu 2000 sampai 2005 telah terjadi degradasi hutan di Indonesia dengan laju deforestasi rata-rata 1,871 juta hektare tiap tahun.

Tidak terbayangkan, hampir 20 tahun yang lalu telah terjadi deforestasi dan degradasi hutan yang berlangsung masif dan ekstraktif selaju itu. Lalu bagaimana kabarnya dengan deforestasi dan degradasi hutan hari ini? Sepertinya "Panen bencana" telah menjawabnya.

Kerusakan Masif Kesejahteraan Lintas Generasi

Banyak faktor yang menjadi pemicu terjadinya kerusakan masif pada alam. Mulai dari pengambilan kebijakan dalam pemberian izin kepada korporasi, illegal logging, eksplorasi tambang dan alih fungsi hutan yang tidak terukur serta polusi dari limbah pabrik yang mencemari tanah, air, dan udara.

Ekologi Terjaga, Lintas Generasi Sejahtera

"Yang menjadikan SDA terasa kurang adalah keserakahan dan yang menjadikannya terasa cukup adalah keberkahan."

Dalam pandangan Islam, SDA yang jumlah atau depositnya banyak merupakan kepemilikan umum atau milik rakyat yang wajib dikelola oleh negara. Rasulullah telah menjelaskan sifat kebutuhan umum tersebut yaitu: "Manusia berserikat dalam tiga hal yaitu air, padang rumput dan api." (HR. Abu Dawud).

Negara wajib mengelola dan mengatur pemanfaatan ketiganya sebagai SDA dengan baik. Tidak memberikan hak privilege kepada individu, sekelompok individu atau korporasi agar pemanfaatan SDA dapat digunakan semaksimal mungkin demi tercipta kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Dalam sistem Islam, rakyatlah prioritas utama bukan korporasi apalagi pemilik investasi tertinggi.

Firman Allah Subahanahu wa Ta'ala dalam Al-qur'an Surat Ar-Rum ayat 41 yang artinya:

“Telah tampak kerusakan di bumi dan di laut karena tangan-tangan manusia yang akhirnya Allah rasakan kepada mereka ganjaran dari sebahagian yang mereka kerjakan, supaya mereka kembali."

Ayat ini telah mengingatkan tentang manusia yang tidak memiliki perilaku etis terhadap lingkungannya. Karena itu, penting untuk memahami biaya yang harus dibayar oleh generasi selanjutnya akibat kerusakan dari alam. Pasalnya, ekstraksi SDA bukan hanya untuk satu generasi saja tetapi lintas generasi.

Perhatikan ini:

"Hanya ketika pohon terakhir telah mati, sungai terakhir telah teracuni dan ikan terakhir telah tertangkap maka baru kita akan menyadari bahwa kita tidak bisa memakan uang." (Eric Weiner).


Penulis: Awiet Usman (Pegiat Literasi)