Bagaimana Seharusnya Sejarah Ditulis?

Oleh: Alfiah, S.Si
datariau.com
565 view
Bagaimana Seharusnya Sejarah Ditulis?
Ilustrasi. (Foto: int)

DATARIAU.COM - Tulisan ini adalah kelanjutan dari tulisan saya yang berjudul "Penulisan Ulang Sejarah: Waspada Pengaburan dan Penguburan Sejarah" yang dimuat di datarriau.com 15 Juni 2025. Proyek penulisan sejarah yang menelan anggaran Rp9 miliar masih menuai kontroversi. Kritik tak hanya datang dari sejarawan, tetapi juga dari tokoh-tokoh yang peduli terhadap sejarah perjuangan di Indonesia.

Arkeolog Harry Truman Simanjuntak yang merupakan profesor dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional yang kini telah melebur dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengkhawatirkan penulisan ulang sejarah akan disesuaikan dengan keinginan penguasa, bukan murni atas fakta. Bahkan Anggota Komisi X dari Fraksi PDI-P, Mercy Chriesty Barends justru meminta penulisan ulang sejarah dihentikan. Mercy khawatir proyek penulisan ulang sejarah akan semakin melukai perasaan korban yang masih mencari keadilan dan menimbulkan polemik baru di tengah-tengah masyarakat jika terus dilanjutkan.

Tone positif yang sering didengang-dengungkan dalam penulisan ulang sejarah jelas absurd dan samar. Positif dari sudut pandang siapa? Karena positif menurut pihak tertentu bisa jadi negatif menurut pihak lain. Padahal sejarah hendaknya ditulis apa adanya tanpa tendensi tertentu.

Sejarah yang ditulis secara jujur tentu akan memberikan informasi yang benar kepada para pembacanya. Sementara sejarah yang ditulis dengan tendensi tertentu meski katanya tone positif bisa jadi akan mengaburkan peristiwa sejarah yang sebenarnya. Bayangkan saja jika peristiwa Gerakan September PKI (Partai Komunis Indonesia) ditulis dengan tone positif, bisa jadi tindakan PKI yang telah membunuh para jenderal malah dianggap tepat. Dan keluarga dari Anggota PKI dianggap sebagai korban.

Itulah kenapa perlu pelurusan kembali perspektif sejarah. Sehingga yang harus dilakukan adalah tidak mengutip atau mengambil sejarah sebelum dilakukan penelitian terperinci yang dilakukan oleh pakar sejarawan dan dilakukan secara obyektif. Kemudian yang harus dilakukan adalah menggali sejarah yang selama ini terkubur dalam kitab-kitab sejarah lama dengan mengungkap peristiwa sejarah yang sebenarnya.

Sejarah itu memiliki tiga sumber. Pertama: catatan-catatan sejarah. Catatan-catatan sejarah sebenarnya tidak dapat dijadikan sumber secara mutlak, karena catatan-catatan sejarah selalu dipengaruhi oleh situasi politik di setiap masa. Catatan sejarah sering tercampur dengan kepalsuan, baik mendukung orang-orang tertentu di masa penulisannya, atau menentang orang-orang tersebut yang ditulis pada masa setelahnya. Contohnya adalah sejarah Orde Baru memiliki gambaran yang positif pada saat pemerintahan Soeharto berada pada puncak kepemimpinan. Sementara orde lama digambarkan negatif.

Namun gambaran tersebut berubah pada tahun 1998. Pemerintahan Soeharto digambarkan pemerintahan yang penuh dengan KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme). Hingga akhirnya setelah tiga puluh dua tahun berkuasa, pemerintahan Soeharto dilengserkan oleh kekuatan rakyat. Oleh karena itu, kita tidak boleh menjadikan catatan-catatan sejarah sebagai sumber hukum bagi sejarah, sekalipun itu adalah catatan harian yang ditulis oleh orang yang bersangkutan.

Sumber sejarah yang kedua adalah peninggalan-peninggalan sejara. Selama dipelajari dengan obyektif dapat menunjukkan fakta sejarah. Sekalipun peninggalan-peninggalan sejarah tidak mampu membentuk rantai sejarah, tetapi dapat menunjukkan kepastian sebagian peristiwanya. Siapapun yang melakukan penelitian secara cermat dan mendalam terhadap peninggalan-peninggalan sejarah di Indonesia, baik berupa bangunan, peralatan, makam, mesjid akan menunjukkan bukti yang pasti bahwa jejak Islam terhadap perjuangan melawan penjajahan dan perjuangan dalam kebangkitan masyarakat tidak dapat dinafikan.

Sumber sejarah yang ketiga adalah riwayat. Riwayat termasuk sumber yang layak dipercaya dan dapat dijadikan sebagai pegangan, selama riwayatnya benar. Riwayat persis sama dengan cara yang ditempuh dalam periwayatan sebuah hadits. Dengan cara inilah hendaknya sejarah ditulis sehingga sejarah yang dihasilkan benar-benar berasal dari sumber yang tersambung dengan pelaku sejarah. Metode periwayatan dapat kita lihat dari penulisan Sirah Nabawiyah karangan Ibnu Hisyam atau kitab Tarikh Khulafa karangan Imam As Suyuti. Sejarah yang ditulis dengan metode riwayat akan menggambarkan bagaimana peristiwa sejarah sebenarnya tanpa ada manipulasi dan 'kejahatan' dalam penulisan sejarah. Wallahu alam bi ash shawab. ***

Tag:Sejarah
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)