PEKANBARU, datariau.com - Di tengah hiruk pikuk Pekanbaru yang modern, berdiri sebuah bangunan bersejarah yang menjadi jejak sejarah perjalanan kota ini, yakni Masjid Raya Pekanbaru. Masjid ini bukan sekadar tempat ibadah, melainkan sebuah saksi yang merekam awal mula, perjuangan, dan pertumbuhan sebuah pemukiman menjadi sebuah kota yang kini dijuluki "Kota Bertuah."
Masjid Raya Pekanbaru memiliki sejarah yang sangat erat dengan lahirnya kota ini. Berlokasi di kawasan Senapelan, masjid ini didirikan pada akhir abad ke-18 oleh Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah, sultan keempat Kesultanan Siak Sri Indrapura.
Pembangunan masjid ini terjadi bersamaan dengan pemindahan pusat pemerintahan dari Mempura ke Senapelan. Keputusan ini bukan hanya bersifat politis, melainkan juga sebuah langkah strategis untuk menjadikan Senapelan sebagai pusat perniagaan yang baru. Keberadaan masjid ini menandai dimulainya era baru, di mana sebuah "pekan" atau pasar baru akan didirikan, yang kelak dikenal sebagai Pekanbaru.
Masjid Raya Pekanbaru tidak hanya menjadi pusat kegiatan keagamaan, tetapi juga pusat aktivitas sosial dan kebudayaan. Arsitekturnya yang khas dengan sentuhan Melayu klasik, dengan atap tumpang dan tiang-tiang kokoh, memancarkan kearifan lokal. Desain ini mencerminkan identitas budaya Melayu yang kuat, yang menjadi fondasi bagi masyarakat Pekanbaru. Dari masjid inilah, nilai-nilai Islam dan budaya Melayu disebarkan, membentuk karakter masyarakat yang ramah dan religius.
Namun sayang, revitalisasi yang dilakukan pada Masjid Raya Pekanbaru saat ini banyak merombak arsitektur khas melayu klasik yang menjadi karakter masjid bersejarah ini. Proyek Revitalisasi pun terbengkalai. Hal ini terlihat dari eskalator ke lantai basement yang masih terbengkalai. Semoga revitalisasi segera selesai dengan tetap memperhatikan arsitektur melayu klasik yang menjadi sejarah awal mula berdirinya Masjid Raya Pekanbaru ini.
Seiring berjalannya waktu, Pekanbaru tumbuh pesat. Dari sebuah pekan perdagangan di tepi Sungai Siak, ia berevolusi menjadi ibu kota provinsi yang kaya akan sumber daya alam, terutama minyak bumi. Perkembangan ini tidak lepas dari keberkahan atau "tuah" yang dimiliki kota ini. Julukan "Kota Bertuah" tidak hanya merujuk pada kekayaan material, tetapi juga pada keberkahan yang terpancar dari semangat gotong royong, kebersamaan, dan spiritualitas yang telah tertanam sejak awal. Masjid Raya Pekanbaru adalah simbol nyata dari keberkahan ini. Ia menjadi pengingat bahwa di balik kemajuan ekonomi, terdapat nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh para pendahulu.
Masjid Raya Pekanbaru kini menjadi salah satu destinasi wisata religi dan sejarah yang penting. Ia bukan sekadar bangunan tua, melainkan sebuah monumen hidup yang menceritakan kisah tentang iman, perjuangan, dan tuah. Kisah masjid ini adalah kisah Pekanbaru itu sendiri, dari sebuah pemukiman kecil di tepi sungai hingga menjadi sebuah kota yang makmur dan diberkahi, sebuah kota yang tak pernah lupa akan asal-usulnya.***
*) Penulis merupakan Dosen Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Islam Riau