DATARIAU.COM - Kekerasan bukanlah hal baru yang bisa terjadi dalam sebuah hubungan. Hal ini dapat dibuktikan dengan jumlah korban yang terus bertambah setiap tahunnya. Namun, tidak sedikit juga korban yang enggan melapor. Hal ini diduga karena korban merasa tindak kekerasan yang dilakukan adalah bentuk rasa cinta pasangan terhadap dirinya. Misalnya pasangan yang over protective bahkan memaksa untuk melakukan hal-hal yang merugikan salah satu pihak. Dengan berlindung dalam kata "cinta" inilah akhirnya kekerasan terus berulang. Tanpa disadari, dampak secara fisik seperti cakaran, maupun dampak psikologis seperti trauma hingga depresi dapat terjadi pada diri korban.
Dikutip dari Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) saat Peluncuran Catatan Tahunan (Catahu) 2022 pada Senin (07/03) lalu, bahwa total kekerasan yang dilakukan mantan pacar berjumlah 813 kasus dan kekerasan dalam pacaran yaitu berjumlah 463 kasus. Angka ini diperoleh dari korban yang melapor ke pihak layanan yang disediakan Komnas Perempuan. Namun, sebetulnya apakah yang dimaksud dengan kekerasan dalam pacaran itu?
Kekerasan dalam pacaran didefinisikan sebagai segala usaha untuk mengontrol atau mendominasi pasangan baik secara fisik, seksual, maupun psikologis yang mengakibatkan luka atau kerugian (Wolfe & Feiring, 2000, dalam Trifiani & Margaretha, 2012). Kekerasan fisik merupakan serangan yang bisa melukai fisik dan berpotensi merugikan atau membahayakan seseorang. Kekerasan seksual merupakan segala upaya yang dilakukan dengan cara memaksa, mengancam dan menekan pasangan untuk terlibat dalam aktivitas seksual yang tidak dikehendaki seperti menyentuh, memeluk, mencium, maupun memperkosa. Kemudian kekerasan secara psikologis yaitu kekerasan non-fisik yang sengaja dilakukan untuk melukai dan mengontrol seseorang secara emosional atau psikologis seperti mengejek, merendahkan, mempermalukan, mengancam akan merusak nama baik, menyebar gosip, memanipulasi, menjauhkan pasangan dari lingkungan sosialnya.
Seperti kasus kekerasan yang terjadi pada akhir tahun 2021 lalu, dilansir tirto.id, dimana korban berinisial NWR diduga dipaksa oleh pelaku yang tak lain adalah pacarnya untuk melakukan aborsi sebanyak dua kali dan pelaku menolak untuk bertanggung jawab atas kehamilan. Selain itu, pelaku juga melakukan pemaksaan untuk berhubungan intim terhadap korban. Kasus ini merupakan alarm untuk kita bahwa perlu adanya pertahanan diri sehingga tidak termakan atau terbujuk paksaan orang yang kita cintai yang dapat merugikan diri kita sendiri. Lalu, apa peran gaya keterikatan (attachment style) dalam menengahi kasus ini?
Attachment theory ditemukan oleh Bowlby pada tahun 1988. Teori keterikatan ini mengkaji bagaimana gaya keterikatan seseorang yang terbentuk sejak bayi berpengaruh pada hubungan masa depannya bersama pasangan. Memiliki gaya keterikatan yang aman atau secure attachment merupakan hal penting dalam menjaga hubungan yang sehat. Orang yang memiliki gaya keterikatan yang aman ini akan cenderung mudah beradaptasi, memandang diri mereka secara positif dimana mereka tidak bergantung pada asumsi orang lain serta merasa dirinya berharga tanpa validasi orang lain. Namun, ada juga yang dinamakan insecure attachment atau gaya keterikatan yang tidak aman. Insecure attachment ini terdiri dari dua jenis yaitu gaya keterikatan menghindar (avoidant attachment) dan gaya keterikatan cemas (anxious attachment).
Orang dengan gaya keterikatan menghindar cenderung memberi jarak dengan seseorang, tidak ingin terlalu dekat, dan cenderung menutup diri ketika seseorang mulai mendekatinya lebih dalam. Berbeda dengan gaya keterikatan menghindar, gaya keterikatan cemas justru mencari kelekatan dengan orang lain dan bergantung secara emosional dengan pasangan dimana hal ini dapat menimbulkan agresi. Penelitian mengenai "Pengaruh Gaya Kelekatan Romantis Dewasa (Adult Romantic Attachment Style) terhadap Kecenderungan untuk Melakukan Kekerasan Dalam Pacaran" yang dilakukan oleh Trifiani & Margaretha (2012), menunjukkan bahwa orang dengan tipe gaya keterikatan cemas lebih cenderung melakukan kekerasan dalam pacaran dibandingkan orang dengan tipe keterikatan menghindar.