AI Membantu Guru, Tapi Siapa Mengajari Murid Berpikir?

Oleh: Siti Amie, S.Pd
datariau.com
50 view
AI Membantu Guru, Tapi Siapa Mengajari Murid Berpikir?

DATARIAU.COM - Perkembangan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) telah membawa perubahan besar di berbagai bidang, termasuk dunia pendidikan. Di Indonesia, pemanfaatan AI semakin meluas. Hasil survei nasional mengenai kesiapan guru dalam memanfaatkan AI menunjukkan bahwa semakin banyak guru menggunakan teknologi ini untuk menyusun perangkat ajar, membuat soal, merancang penilaian, hingga menyusun bahan presentasi pembelajaran. Pemerintah pun merespons perkembangan tersebut dengan meluncurkan pedoman pembelajaran koding dan kecerdasan artifisial melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) sebagai upaya menyiapkan peserta didik menghadapi era digital.

Langkah tersebut patut diapresiasi. Digitalisasi memang memberikan banyak kemudahan dalam meningkatkan efektivitas pembelajaran. AI dapat membantu guru menghemat waktu administrasi sehingga memiliki kesempatan lebih besar untuk membimbing peserta didik. Di sisi lain, peserta didik memperoleh akses pengetahuan yang lebih luas dan cepat. Namun, di balik berbagai manfaat tersebut, muncul pertanyaan penting yang tidak boleh diabaikan: apabila tugas dikerjakan AI, ringkasan dibuat AI, presentasi disusun AI, bahkan jawaban esai pun dihasilkan AI, di manakah sesungguhnya proses berpikir murid berlangsung?

Hakikat pendidikan tidak pernah sekadar menghasilkan jawaban yang benar. Pendidikan adalah proses membentuk cara berpikir, melatih kemampuan menganalisis persoalan, mengembangkan kreativitas, menumbuhkan karakter, sekaligus membangun tanggung jawab. AI memang mampu menghasilkan jawaban dalam hitungan detik, tetapi AI tidak mengalami proses belajar sebagaimana manusia. Ia tidak merasakan kegagalan, tidak belajar dari kesalahan, dan tidak memiliki nilai moral sebagai landasan mengambil keputusan.

Baca juga:AI sebagai Mitra ASN: Beradaptasi atau Tertinggal?


Kekhawatiran inilah yang mulai dirasakan banyak pendidik. Ketika peserta didik terbiasa menyerahkan hampir seluruh proses berpikir kepada mesin, maka kemampuan bernalar perlahan akan melemah. Tugas yang seharusnya menjadi sarana melatih logika berubah menjadi sekadar aktivitas menyalin hasil yang diberikan AI. Nilai mungkin tetap tinggi, tetapi belum tentu mencerminkan pemahaman yang sesungguhnya.

Dampak jangka panjangnya tentu tidak sederhana. Kemampuan fokus peserta didik berpotensi menurun karena mereka terbiasa memperoleh jawaban secara instan. Daya juang akademik juga melemah sebab tantangan yang seharusnya melatih ketekunan dapat dilewati tanpa usaha berarti. Kreativitas dan rasa ingin tahu berangsur berkurang karena AI telah menyediakan berbagai alternatif jawaban sebelum peserta didik berusaha mengeksplorasinya sendiri. Pada akhirnya, ketergantungan terhadap teknologi meningkat dan peserta didik kehilangan kesempatan untuk membangun kemampuan berpikir yang menjadi bekal utama menghadapi persoalan kehidupan nyata.

Fenomena ini juga tidak dapat dilepaskan dari kapitalisasi teknologi digital. Perkembangan AI memang sangat bermanfaat bagi dunia pendidikan, terlebih karena pendidikan merupakan tulang punggung dalam mencetak generasi terbaik masa depan. Namun, ketika pengembangan dan pemanfaatan teknologi lebih banyak dikendalikan oleh perusahaan-perusahaan besar yang berorientasi keuntungan, muncul risiko bahwa hasil karya intelektual masyarakat justru menjadi komoditas bisnis. Negara tidak boleh sekadar menjadi pengguna teknologi, melainkan harus hadir memastikan bahwa kemajuan digital benar-benar berpihak pada peningkatan kualitas pendidikan, bukan hanya memperluas pasar bagi pemilik modal.

Baca juga:Viral Ustazah AI di Media Sosial: Otoritas Dakwah di Era Digital


Karena itu, negara memiliki tanggung jawab besar dalam menjamin terselenggaranya pendidikan yang berkualitas dan merata. Digitalisasi semestinya menjadi sarana memperkuat kualitas layanan pendidikan, bukan alasan untuk mengurangi peran guru sebagai pusat pembinaan peserta didik. Guru bukan hanya penyampai materi, tetapi juga pembimbing, pendidik, sekaligus teladan yang membentuk karakter. Peran inilah yang tidak mungkin digantikan oleh perangkat lunak secanggih apa pun.

Islam memandang pendidikan sebagai kebutuhan mendasar yang menjadi hak setiap warga negara. Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda, "Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya" (HR. Bukhari). Hadis ini menunjukkan bahwa negara memiliki tanggung jawab untuk menyediakan pendidikan terbaik bagi seluruh rakyat secara adil dan merata. Orientasi penyelenggaraan pendidikan bukanlah keuntungan ekonomi, melainkan pelayanan terhadap kebutuhan masyarakat dan pembentukan generasi yang beriman, berkepribadian Islam, serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)