DATARIAU.COM - Banyaknya kasus di Indonesia mengenai gelandangan dan pengemis (gepeng) masih beroperasi di setiap daerah terutama di kota-kota besar, membuat pemerintah kewalahan untuk menertibkannya. Hal ini dikarenakan masih tingginya angka kemiskinan di Indonesia. Ini dilatarbelakangi akan kurangnya lapangan pekerjaan dan minimnya pendidikan seseorang.
Pengemis adalah orang yang mempunyai penghasilah dari meminta minga di muka umum dengan berbagai alasan untuk mengharapkan belas kasihan dari orang. Berbeda dari gelandangan yang bisa dibilang tidak punya tempat tinggal. Seorang yang berprofesi sebagai pengemis biasanya memiliki tempat tinggal. Namun yang membuat dia memilih untuk mengemis dengan alasan lebih mudah dan tidak memerlukan modal apapun. Hanya dengan berpakaian yang lusuh atau memanipulasi kecacatan mereka bisa menghasilkan cukup banyak rupiah setiap harinya.
Pasti diantara kita juga berfikir sama sebelumnyakan. Namun akan nampak perbedaannya mana yang pengemis dan mana yang gelandangan. Pengemis akan pulang ke rumahnya saat dia telah selesai mengemis di jalanan. Sedangkan gelandangan akan mencari tempat untuk beristirahat dan berteduh tanpa tahu dimana tempat tujuannya.
Halnya kita sebagai masyarakat yang melihat fenomena ini, banyaknya manusia yang memilih berprofesi sebagai gepeng pasti terbiasa di pikiran kita apakah mereka tidak malu melalukan pekerjaan seperti ini? Namun dari salah seorang narasumber yang saya temui di salah satu tempat makan yang ada di Pekanbaru mengatakan bahwa gelandangan ini mengaku tidak ada malu dengan apa yang dia lakukan ini.
"Untuk apa aku malu kak, selagi aku masih bisa makan dan dapat uang, malu tuh aku nomorduakan aja kak," ungkap gadis remaja berusia 14 tahun yang berprofesi sebagai pengemis, Ahad (31/3/2019).
Bukan hanya itu gadis remaja yang saya temui. Ada juga seorang anak kecil berusia 7 tahun yang sudah menggeluti profesi sebagai pengemis. Padahal saya tahu anak ini memiliki orang tua yang masih lengkap. Bagaimana saya bisa tau? Ya karena lingkungan tempat tinggal saya dan anak ini sama.
Tak berhenti di situ melihat seorang bapak-bapak yang bisa dibilang seorang gelandandangan membuat saya menjadi lebih yakin bahwa memang benar gelandangan dan pengemis itu berbeda. Karena bapak ini benar-benar tidak punya tempat tinggal dan selalu tidur di emperan ruko atau toko orang.
Dengan fisik yang membuat orang iba melihatnya, seringkali dia mendapatkan rupiah dan terkadang makanan. Namun, si bapak memang tidak pernah mengulurkan terlebih dahulu tangannya kepada siapapun.
Melihat fenomena ini, saya menjadi ingin tahu berapa sebenarnya jumlah gepeng yang ada khususnya di Riau. Ternyata data dari Dinas Sosial Provinsi Riau, ada sebanyak 800 jiwa lebih gepeng tahun 2017 ini.
Data ini masih gambaran umum, sebab masih ada beberapa daerah di Provinsi Riau yang belum melengkapi datanya. Dan ini masih data di tahun 2017. Dan mungkin bisa jadi akan terus meningkat.
Indonesia merupakan negara yang memiliki jumlah penduduk yang tidak sedikit. Mengutip data The Spectator Index terkait 20 negara dengan penduduk terbanyak di dunia, Indonesia tercatat memiliki populasi penduduk sebanyak265 juta jiwa. Sementara negara dengan penduduk terpadat di dunia adalah China dengan jumlah penduduk sebanyak 1,4 miliar jiwa.
Namun, dengan jumlah penduduk 265 juta jiwa membuat Indonesia juga menempati kedudukan 10 besar di dunia dalam kategori negara dengan populasi penduduk miskin terbanyak.
Indonesia menempati peringkat sembilan dalam daftar negara dengan jumlah orang miskin terbesar di dunia. Demikian menurut data yang dikeluarkan oleh okezone.com.
Madagaskar menempati peringkat pertama sebagai negara dengan jumlah orang miskin terbanyak. Disusul oleh Kongo, Monzambik, Nigeria, Tanzania, Bangladesh, Etiopia, India, Indonesia dan China. (rls)