Pandemi Tiada Henti Berujung Resesi

709 view
Pandemi Tiada Henti Berujung Resesi
Foto: Ist
Maria Ulfa Rahmadhani

DATARIAU.COM - Begitu memilukan, sejak Senin 2 Maret 2020 Presiden Jokowidodo megumumkan dua orang Indonesia terjangkit virus corona (COVID-19) hingga saat ini penularan virus tersebut tidak mengalami penurunan bahkan terus meningkat tajam. Tercatat pada  Rabu 22 Juli 2020 dalam data Kemenkes memperlihatkan  pasien  positif corona di Indonesia sudah mencapai 91.751 kasus dengan peningkat jumlah positif lebih dari 1000 kasus per hari. Virus corona dengan penularan yang sangat cepat dan mudah, memaksa masyarakat untuk mengurangi aktivktas diluar rumah. Bahkan awal kemunculannya hampir saja mengurung setiap insan untuk tetap didalam rumah. 

Beberapa pemerintah daerah meberlakukan pembatasan social berskala besar (PSBB) sebagai solusi untuk pencegahan penularan COVID-19. Peraturan ini membuat masyarakat terbatas dalam kegiatan produktivitas.  Maka tidak dapat dipungkiri lagi pandemi virus corona yang mengguncang Indonesia bahkan dunia menyebabkan  roda perekonomian melambat bahkan nyaris saja terhenti. 

Perkenomian global pun sedang mengalami gangguan dalam stabilitasnya, belum lagi isu resesi yang akhir-akhir ini menjadi hangat diperbincangkan. Beberapa negara maju menyatakan terpukulnya mereka dalam sektor ekonomi. Seperti yang dinyatakan negara Singapura yang sangat dekat dengan negara kita Indonesia. 

Dana Moneter Internasional atau yang lebih dikenal dengan IMF (International Monetary Fund), menyatakan bahwa pandemi virus corona (covid-19) telah mendorong ekonomi global ke dalam jurang resesi. Oleh sebab itulah, negara-negara terdampak harus segera tanggap dengan mempersiapkan pengeluaran stimulus dalam jumlah besar untuk menghindari kebangkrutan dan gagal bayar utang.

Hal yang sama juga dikatakan oleh Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Piter Abdullah. "Tetap harus berjaga-jaga mempersiapkan kondisi terburuk yaitu apabila resesi ini berkepanjangan. Ini perlu stamina yang kuat termasuk juga tabungan yang cukup. Jangan Boros, yang utama tetap menjaga kesehatan. Resesi disebabkan oleh wabah, oleh karena itu solusi utama menghadapi resesi adalah mengakhiri wabah. Apabila wabah berakhir, resesi akan berakhir," (Detik.com).

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) resesi berarti kelesuan dalam kegiatan industri, dagang, dan sebagainya (seolah-olah terhenti); menurunnya (berkurangnya, mundurnya) kegiatan dagang (industri) di berbagai aspek. Adapun tanda-tanda awal resesi bisa terlihat melalui lima indikator ekonomi, di antaranya data pendapatan, pekerjaan, manufaktur, penjualan ritel, dan produk domestik bruto (PDB) secara riil.

Pandemi yang masih belum menemukan titik ujung, mungkinkah akan  mengantarkan kita pada resesi di sektor ekonomi? Lantas apakah yang menjadi masalah mendasar dari perjalanan menuju resesi ini? Benarkah dengan mendorong masyarakat untuk hidup lebih hemat cukup sebagai solusi mengantisipasi resesi ini?  Seperti yang kita ketahui banyak masyarakat untuk kehidupan sehari-hari saja sulit bagaimana bisa mereka harus menabung?

Anjuran tersebut bersifat indivudualis. Hal ini bertolak belakang dengan penyebab krisis yang bersifat sistematis dan fundamental dibutuhkan solusi sepadan. Dengan demikian tidak ada solusi lain dari resesi ini dengan meninggalkan penerapan system kapitalis dan kembali menerapkan system islam yang didalamnya terdapat sistem ekonomi islam.

 

Dikutip dari Wikipedia, adapun sistem ekonomi kapital adalah sistem ekonomi pada sektor perdagangan, industri dan alat-alat produksi dikendalikan oleh pemilik swasta dengan tujuan memperoleh keuntungan dalam ekonomi pasar. Pemilik modal dalam melakukan usahanya berusaha untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya. Dengan prinsip tersebut, pemerintah tidak dapat melakukan intervensi pasar guna memperoleh keuntungan bersama, tetapi intervensi pemerintah dilakukan secara besar-besaran untuk kepentingan-kepentingan pribadi.

Sistem ekonomi kapitalis yang diemban hampir setiap negara termasuk Indonesia terbukti tidak mampu menyejahterakan perekonomian negara. Bahkan sebelum adanya pandemi sektor ekonomi sudah banyak mengalami kemerosotan. Hal ini bisa dilihat dari jumlah kemiskinan yang besar, lapangan pekerjaan sulit didapatkan  dan hutang negara yang terus membengkak. Apalagi dengan kedatangan pandemi tentunya akan mengantarkan sistem ekonomi kapitalis dalam ambang kehancurannya.

Sistem ekonomi kapitalis yang berbasis ribawi, mengembangkan simpanan dengan pajak akan sangat terpukul dimasa pandemi ini. Selain ini sitem ekonomi kapitalis mengedepankan kebebasan kepemilikan. Hal ini akan menyebabkan monopoli dalam kepemilikan barang dan jasa, individu  yang kaya akan semakin kaya dan yang miskin akan bertambah miskin.  

Sangat bertolak belakang dengan sistem ekonomi islam yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dalam Negara kekhilafahan. Dalam Islam, pengaturan ekonomi harus diawali dengan menata pembagian kepemilikan ekonomi secara benar. Pembagian kepemilikan dalam ekonomi Islam itu ada tiga: kepemilikan individu, kepemilikan umum, dan kepemilikan negara.

Pembagian kepemilikan ini sangat penting agar tidak terjadi kebebasan pemilikan. Seperti kepemilikan umum yang harusnya dikelolah negara kemudian dikembalikan kepada masyarakat, saat ini banyak dikelola oleh swasta bahkan asing. Sebagai contoh seperti pada sektor tambang, gas, minyak bumi, kehutanan, sumber daya air, jalan umum, pelabuhan laut, bandara, dan sebagainya. Sektor tersebut harusnya dikelolah negara untuk masyarakat. Namun faktanya saat ini di ambil alih oleh swasta dan asing. Seharusnya disamping distribusi kekayaan individu, kepemilikan umum dan negara lah yang nantinya akan dipergunakan masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya. Baik kebutuhannya dalam pemenuhan sekunder maupun tersier. Apalagi dalam situasi pandemi seperti saat ini.

Dengan demikian tampak jelas bahwa sistem ekonomi Islam mampu menangkis resesi yang terjadi karena tegak di atas asas yang kokoh. Maka dari itu, resesi dapat terhenti tatkala kembali kepada pengaturan sistem ekonomi Islam yang berasal dari Ilahi. (*)

Wallahu a?lam bishshawab. 

Penulis
: Maria Ulfa Rahmadhani
Editor
: Redaksi
Sumber
: datariau.com
Tag:
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)