DATARIAU.COM - Pandemic dunia Covid-19 telah menjadikan dunia berubah total, bermula pada akhir tahun 2019 corona virus ditemukan pertama kali di Wuhan China, yang membuat satu daerah tersebut mati total. Virus ini di identifikasikan pertama kali berasal dari binatang kelelawar yang menginfeksi manusia. Akibat dari konsumsi binatang tersebut. Gejala yang bisa dibilang sangat cepat membuat manusia tidak mampu untuk menghindari penyebaran dari virus yang sangat kejam ini. Kemunculan Virus Covid-19 merubah tatanan kehidupan terhadap beberapa negara dibelahan dunia. Dampak Pandemi Covid-19 ini berimbas pada semua sektor. Mulai Sektor Kesehatan, pendidikan, sosial, ekonomi, hingga berpengaruh terhadap aktivitas beribadah masyarakat. Sebab dari pandemi ini, membuat roda bisnis tidak berjalan normal dan mengalami penurunan pendapatan, berkurangnya aktivitas ekspor dan disertai peningkatan impor beriimplikasi pada merosotnya pertumbuhan ekonomi dan minimnya produtivitas Kerja. Berbagai tindakan dan kebijakan telah dilakukan pemerintah untuk menekan angka pertumbuhan kasus corona seperti sosial distancing, physical distancing, PSBB. Namun tindakan tersebut belum sepenuhnya mengatasi pertumbuhan kasus corona dan tingkat keberhasilannya rendah. Ini bisa dilihat dari peningkatan jumlah kasus covid-19 yang setiap harinya terus mengalami peningkatan.
Sehingga kebijakan untuk hidup berdampingan atau New Normal adalah keputusan yang diharapkan tepat dan efektif untuk memperbaiki tatanan kehidupan diberbagai sektor yang mengalami pemerosotan. Problem statement bahwa status new normal ditetapkan pemerintah bukan karena alasan kesehatan atau alasan pandemi, tetapi karena alasan ekonomi. Jadi, pemerintah tidak lagi punya alternatif untuk menjaga kesehatan masyarkat dari pandemi jika tidak ditopang dengan roda ekonomi yang kembali berjalan.
Implementasi new normal diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/328/2020 tentang Panduan Pencegahan dan Pengendalian Covid-19 di Tempat Kerja Perkantoran dan Industri dalam Mendukung Keberlangsungan Usaha pada Situasi Pandemi. Menurut penulis, kebijakan new normal ini merupakan pilihan pemerintah untuk tetap mendapatkan pemasukan dalam kondisi krisis yang berkepanjangan. Yang dinilai efektif. Masyarakat yang selama ini masih banyak tidak mematuhi anjuran pemerintah, bahkan masih banyak yang tidak menggunakan masker ketika keluar rumah. Tetap menjalankan aktivitas seperti biasa, terutama didaerah-daerah yang tidak terjangkau pemerintah. Adanya New Normal tidak mempengaruhi keadaan yang telah berlangsung di berbagai daerah.
Perkembangan industry PR berbanding lurus dengan pertumbuhan ekonomi di Indonesia. PR masuk dalam industri jasa dan pelayanan jika pertumbuhan ekonomi naik di Indonesia hal itu akan berdampak positif pada industri PR, Marketing, Advertaising, contohnya tren munculnya produk-produk baru seperti property, jenis mobil baru dll, semua otomatis membutuhkan keahlian komunikasi skill PR untuk menaikan brand dalam launching produknya. Sebaliknya jika pertumbuhan ekonomi turun maka PR juga akan berdampak secara otomatis. dalam situasi krisis covid atau pandemi saat ini harus menjadi relevan. Tentunya industry PR harus antisipasi dan bersiap diri dalam situasi ini , PR tidak bisa mengontrol covid tapi PR harus bisa mengontrol dan memanage hal-hal yang harus dilakukan saat ini.
Industri PR perlu berinovasi dan berimprovisasi untuk mencari peluang bisnis ditengah kondisi krisis saat ini. Tantangan Public Relations ketika menghadapi covid-19 adalah masa yang tidak pasti, maksunya dimasa saat ini tidak tau kapan akan berakhirnya kondisi seperti ini, PR harus tetap relevan dengan stakeholders ditengah ketidakpastian ini, artinya PR harus bisa menyesuaikan diri. Waktu, maksudnya mengatur timing komunikasi yang tepat ditengah pergerakan tren yangtidak menentu dan serba cepat. Event communications, banyak aktivitas-aktivitas yang harus tertunda dan harus diubah menjadi format yang berbeda dengan yang direncanakan sebelumnya untuk mencapai engagement/ketertarikan dengan audiens pada saat ini. Kemudian banyaknya media platform yang sebelumnya sudah ada tetapi belum dioptimalkan penggunaannya seperti zoom, lark meeting, dll. artinya PR harus memilih dan memaksimalkan penggunaan media platform yang tepat dan sesuai dengan objektifitas komunikasi saat ini. Untuk menjawab tantangan ditengah kondisi wabah covid-19 yang mengubah banyak hal tersebut industri Public Relations harus tetap berada di koridornya, peran Public Relations sangat dibutuhkan untuk menjaga dan membangun reputasi serta citra positif organisasi/perusahaan, serta bangsa Indonesia melalui pengelolaan dan pemantauan informasi serta komunikasi yang baik dan terstruktur.
Saat new normal ini audiens membutuhkan koneksi interaksi manusia. Audiens tetap butuh konektifitas, butuh bersosialisasi, butuh komunikasi, butuh informasi, dan butuh berita. Artinya corporate communications, journalik, marketing communications, branding sangat di perlukan, digital konten menjadi wajib, terutama para milenial. Jadi, koneksi interaksi manusia menjadi melibatkan kolaborasi marketing communications, jurnalistik, dan public relations.
Betapa pentingnya integrasi, kolaborasi berkaitan dengan branding, brand story telling, corporate story telling. Diera 90 an kata-kata istilah yang sering muncul adalah integrasi, karena itu ada istilah integrated marketing communications, integrated corporate communications, bahkan integrated marketing public relations. Kolaborasi itu dengan jurnalistik terlihat juga di literature muncul istilah newsworthy marketing, newsworthy public relations berkaitan erat dengan story telling. Newsworthy marketing atau marketing communications menghendaki para praktisi PR corporate communications maupun marketing communications harus bisa menjadi jurnalis karena praktisi PR membuat konten dan juga harus menjadi berpikir sebagai publisher jadi think like a publisher. Maka apa perbedaannya corporate communications, marketing communications, dan jurnalistik, kerjaannya mungkin banyak mirip jadi makin terintegrasi lama-lama ketiga profesi ini irisannya makin banyak.
Di era new normal ada beberapa yang menjadi konsen terkait dengan kolaborasi. Praktisi PR harus menjadi gesit dan proaktif seperti Memberikan arahan yang jelas dari top management terkait perubahan strategi pada semua lini bidang di korporasi, Menyesuaikan kompetensi tim internal dalam berbagai biang yang berubah signifikan seperti teknologi digital hingga peraturan pemerintah, Meningkatkan kecepatan adaptasi program dengan kondisi target komunikasi dan pemangku kepentingan termasuk media. Kolaborasi akan menjadi keywords bagi seluruh industry, tidak hanya bagi industri kehumasan, untuk meraih pertumbuhan yang positif. Dengan semua itu diharapkan menjadikan praktisi PR yang inovatif dan kreatif bisa mencuri perhatian audiens.
Adapun hal-hal yang harus dilakukan praktisi PR dalam mengimplementasikan new normal untuk menjadikan praktisi PR yang kredibilitas adalah sebagai berikut:
1. Internal relations dan eksternal relations
Internal relations berperan mengelola sistem komunikasi internal serta menfasilitasi saluran komunikasi internal. Dalam kondisi covid-19 komunikasi internal merupakan komunikasi tahap awal yang wajib dilakukan praktisi PR karena hal itu berhubungan dengan keselamatan karyawan. Fungsi internal relations penting untuk memastikan komunikasi dan koordinasi berjalan dengan baik di lingkungan korporasi.
Eksternal relations berperan mengelola sistem komunikasi eksternal. Karena menjali komunikasi eksternal dengan stakeholders di era new normal sangat penting. Hal itu dilakukan untuk membangun mutual understanding antara perusahaan dan stakeholders. Komunikasi yang dibangun diantaranya mengkomunikasikan dampak terhadap aktivitas dan layanan kepada konsumen, membangun rencana komunikasi, tetap berkomunikasi dengan supplier, meninjau syarat dan ketentuan dengan kreditur dan investor, serta berkonsultasi dengan pemerintah tentang kebijakan pemerintah.
2. Media relations
Menjalin hubungan dengan media seperti melakukan konferensi pers dilakukan secara virtual. Cara ini dinilai efektif karena sesuai dengan imbauan pemerintah untuk jaga jarak fisik, dan tidak terkendala oleh waktu, karena waktu merupakan tantangan bagi praktisi PR menghadapi covid-19. Menjalin media relations banyak memberi inside di korporasi, dan memberikan masukan-masukan kepada korporasi.
3. Brand communications
Menyusun konsep komunikasi dan menjalin komunikasi melalui ranah digital melalui berbagai kampanye digital, konten, brand storytelling. storytelling itu adalah penting, cerita merubah sesuatu menjadi menarik. konten yang bagus, intinya storytell. Disinilah kreatif dalam PR, kreatif menulis.
4. Content
Di era new normal industry PR harus mampu membuat konten PR untuk audiens. Karena yang dibutuhkan public saat ini adalah informasi, hiburan, jadi, praktisi PR mampu memproduksi konten yang menarik dan menghibur tetapi konten harus akurat, kredibel, dan kreatif seperti membuat teks, foto, videografis, dan live streaming. Momentum saat ini tepat untuk dilakukan oleh praktisi PR
5. Community
Industry PR jangan melakukan social distancing dengan publik, banyak manfaat bagi praktisi PR membangun community, yakni membangun ketertarikan dan modal social dari sekedar public bisa menjadi mitra strategis, memberikan banyak ruang bagi interaksi dengan public seperti melakukan kuliah daring dan webinar dengan mahasiswa, interaksi dengan publik secara virtual. Membangun konektifitas dengan influencer melalui digital, saat ini influencer memiliki peran penting untuk menjangkau publik digital.
6. Teknologi
Dalam industry 4.0 ini saatnya PR mengadopsi dan beradaptasi dengan teknologi. Jadi, ini akan meringankan professional kerja PR. Artifical Intelligence dan big data. Ini akan semakin advance. Elon Musk millioner dari afrika selatan yang terkenal dengan mobil teslanya dan SpaceX projek yang sukses kemaren, suatu ketika Elon ditanya apa ancaman terbesar bagi manusia saat ini, Elon mengatakan 3 hal yaitu pertama perang nuklir yang bersekala besar, kedua perubahan iklim, saya berharap computer bersikap baik kepada kita. Apakah pekerjaan PR akan hilang nantinya? PR menjadi komponen kreatif social, attitude yang tidak dapat ditiru oleh mesin. AI lebih efisien untuk menangani data tetapi public relations, komunikasi, memiliki kemampuan persuasi dan empati hal ini tidak bisa diganti Artificial Intelligence. Industri PR dan praktisi PR harus memiliki AI sebagai peluang.
Dari hal-hal diatas yang harus dilakukan praktisi PR dalam mengimplementasikan new normal sebenarnya tidak banyak mengalami perubahan, hanya saja ada beberapa aturan yang perlu diperhatikan praktisi PR selama new normal. Mengingat profesi Public Relations berhubungan dengan public. Namun kendala yang mungkin akan dihadapi yakni miss communication, mengingat terbatasnya ruang untuk berinteraksi. Karena secara virtual tentunya akan banyak noice yang akan dihadapi seperti jaringan atau kendala terhadap platform yang digunakan.
Pada saat pandemi banyak kesempatan/opportunity bisa di manfaatkan, saatnya seluruh pihak termasuk perusahaan, media, maupun komunitas menyebarkan positivistic. Ketika ditulis dalam bahasa Cina, kata "crisis" terdiri dari dua karakter, yang satu mewakili bahaya dan yang lainnya mewakili peluang. Ketika dalam keadaan krisis dulukan public. Key massegenya adalah kredibiltas pemberitaan, kredibilitas corporate, kredibilitas brand, semuanya bisa dijadikan satu untuk memerangi covid-19 ini. (***)
Ditulis oleh: Aidil Mukhlis
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.