Refleksi Idul Adha 1441 H,

Bukti Cinta dan Ketaatan Sempurna Seorang Hamba

281 view
Bukti Cinta dan Ketaatan Sempurna Seorang Hamba
Foto: Ist
Misbah Munthe SPd (Pemerhati Kebijakan Publik)

DATARIAU.COM - Idul Adha kembali menyapa kaum muslimin seluruh dunia. Seperti biasa, kaum muslimin diseluruh penjuru bersiap menyambut kegembiraan berhari raya yang kedua setelah momen  hari raya Idul Fitri meski dalam keadaan pandemi. Berbeda dengan Idul Fitri, hari raya Idul Adha atau hari raya kurban adalah sebuah momen yang dimaknai dengan sebuah bentuk kepatuhan sempurna seorang hamba, keikhlasan dalam berkorban dan cinta yang luar biasa dari seorang Nabiyullah yang mulia Ibrahim Alaihis Salam dan Putranya Ismail Alaihis Salam kepada Allah Azza wa Jalla. Sebenarnya, syari’at berkurban  ini telah dimulai sejak generasi pertama manusia, kedua putra Nabi Adam Alaihis Salam (Habil dan Qabil). 

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman : “Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan Qurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!” Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertaqwa” (QS.Al-Maaidah 27). 

Dilanjutkan dengan syari’at pada masa Nabi Ibrahim Alaihis Salam dan kemudian di syari’atkan kembali pada masa Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi Wasallam berasal. Sebagaimana beliau menerangkan ketika ditanya oleh salah seorang sahabat, “Wahai Rasulullah, apakah Qurban itu?” beliau menjawab: “Qurban adalah sunnahnya bapak kalian Nabi Ibrahim.” (HR. Ahmad).

Idul Adha tidak hanya tentang pelaksanaan ibadah haji atau kebiasaan membeli hewan kurban yang akan disembelih pada hari raya haji. Makna berkurban jauh lebih mendalam dari itu, yakni bagaimana sikap ketundukan seorang mukmin yang memenuhi seruan dari Allah Azza wa Jalla meski harus mengorbankan apa yang paling dicintainya untuk Allah Azza wa Jalla semata, sikap keteguhan iman dan ketinggian cinta seorang hamba yang meletakkan cinta tertinggi nya hanya kepada Allah Azza wa Jalla. Tidakkah begitu yang diajarkan dari kisah Nabiyullah Ibrahim as dan putranya nabiyullah Ismail as? Kurban yang hakiki adalah bagaimana kita membuktikan dan memurnikan ketaatan hanya untuk Allah Azza wa Jalla.


Idul Adha Dan Duka Berkelanjutan

Berbeda dengan tahun sebelumnya, Idul Adha 1441 H kali ini dibarengi dengan pandemi yang tidak kunjung teratasi. Benar, Hadirnya pandemi ini menjadi satu penyebab runtuhnya kesombongan manusia yang merasa diatas segalanya dan mencampakkan peran Allah sebagai Sang Pengatur. Pun, Keberadaan pandemi menjadi bukti betapa sistem kapitalis telah gagal dalam menjamin keamanan, keselamatan, dan pemenuhan kebutuhan dasar bagi setiap manusia. Ini dapat kita lihat dari krisis berkepanjangan dan berkelanjutan akibat covid 19. Krisis yang melanda sektor kesehatan, krisis sektor ekonomi hingga ancaman resesi, dan krisis sosial yang meliputi pendidikan, ketahanan keluarga,dan kerusakan generasi. 

Kondisi krisis multidimensi ini sebenarnya telah lama melanda manusia hingga menyebabkan banyak kerusakan di muka bumi. Terhitung sejak runtuhnya kedaulatan Islam pada tahun 1924 yang lalu oleh Mustafa Kemal At-taturk sang penjagal. 96 tahun sudah sistem sekulerisme kapitalis ini memimpin dunia setelah runtuhnya Dawlah Islam. Sejak itu pula kaum muslimin khususnya dan dunia umumnya berada dalam ketertindasan, kemiskinan, penjajahan, pengusiran, kelaparan, dan kehancuran generasi.

Penggantian sistem Islam yang menyejahterakan kepada sistem kapitalis yang menyengsarakan menjadi bukti bahwa tidak ada satupun hukum yang dapat memanusiakan manusia dan memberikan pengayoman yang sempurna selain hukum Islam. Ini terbukti sepanjang 13 abad Islam diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan, sepanjang itu pula kesejahteraan dan keadilan meliputi seluruh manusia, baik tua maupun muda, miskin maupun kaya, pejabat negara maupun rakyat biasa, bahkan muslim maupun non muslim.

Mari buka kembali sejarah, bagaimana Islam mampu mengatasi setiap ketertinggalan dan kemiskinan pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Bagaimana Islam mampu mengatasi pandemi dan krisis yang melanda pada masa Khalifah Umar bin Al-Khattab. Bagaimana dengan penerapan Islam lahirlah ilmuwan-ilmuwan cerdas dan bertaqwa seperti Ibnu Sina, Alkhawarzmi, Ibn Khaldun, Jabir bin Hayyan, Ibn Alnafis dll.

Selain itu kegemilangan peradaban Islam juga dirasakan oleh negara asing seperti Irlandia. Mary McAleese, Presiden ke-8 Irlandia yang menjabat dari tahun 1997 sampai 2011. Dia juga seorang anggota Delegasi Gereja Katolik Episkopal untuk Forum Irlandia Baru pada 1984 dan anggota delegasi Gereja Katolik ke North Commission on Contentious Parades pada 1996. Dalam pernyataan persnya terkait musibah kelaparan di Irlandia pada tahun 1847 (The Great Famine), yang membuat 1 juta penduduknya meninggal dunia. Terkait bantuan itu, Mary McAleese berkata:

“Sultan Ottoman (Khilafah Utsmani) mengirimkan tiga buah kapal, yang penuh dengan bahan makanan, melalui pelabuhan-pelabuhan Irlandia di Drogheda. Bangsa Irlandia tidak pernah melupakan inisiatif kemurahan hati ini. Selain itu, kita melihat simbol-simbol Turki pada seragam tim sepak bola kita.”

Dr. Musthafa As Siba’i dal am kitab Min Rawa’i Hadhratina memuat perkataan sejumlah tokoh dalam mengomentari tentang peradaban Islam maupun barat. Jacques C. Reister mengatakan, “Selama lima ratus Islam menguasai dunia dengan kekuatannya, ilmu pengetahuan dan peradaban yang tinggi.” Masih dalam kitab yang sama, Montgomery Watt mengungkapkan, “Cukup beralasan jika kita menyatakan bahwa peradaban Eropa tidak dibangun oleh proses regenerasi mereka sendiri. Tanpa dukungan Islam yang menjadi ‘dinamo’-nya, Barat bukanlah apa-apa.” Hal yang sama pernah dikatakan oleh Barack Obama. Dia mengatakan. “Peradaban berhutang besar pada Islam.” (Mediaumat.news)

Lalu, mari kita lihat realitas memilukan yang terjadi saat ini. Hampir 1 abad kapitalisme memimpin dunia, selama itu pula ummat menderita. Lihatlah, ketika kapitalisme menjadi rujukan atas panduan hidup manusia, Tak ada yang tersisa selain kehancuran, kedzaliman, kesenjangan sosial, dan setumpuk permasalahan lain yang tak pernah dituntaskan. Ketika demokrasi menjadi penentu pemilihan pemimpin sebuah negara atau daerah, tidak ada yang dihasilkan selain lingkaran oligarki demi tercapainya kepuasan dan penguasaan materi dan janji-janji manis yang diingkari. Pun dalam dunia peradilan, kapitalisme telah menjadikan pisau keadilan itu tumpul keatas tapi tajam kebawah. Begitu pula dengan Pendidikan dan kesehatan yang menjadi hak dasar atas setiap warga negara ternyata tak mampu diwujudkan oleh kapitalis sebab semua harus di komersilkan. Hingga muncullah ungkapan menyedihkan “ orang miskin dilarang sakit” dan “orang susah dilarang sekolah”. Tabiat kapitalis, Segala sesuatunya menjadi ladang bisnis meskipun disaat krisis. Sungguh, ini potret buram dunia dibawah naungan Sistem Kapitalis.


Wahai Manusia, Kembalilah ke Fitrah

Sungguh, fitrah nya seorang manusia adalah tunduk kepada Al-Haq (Allah Azza wa Jalla). Ditengah pusaran hitam kapitalisme yang membawa kita pada kerusakan dan kehinaan ini, harusnya kita mampu membuka cakrawala berfikir kita dan menyandarkannya pada hukum yang telah Allah ciptakan demi keberkahan bumi dan seisinya (Syari’at Islam). Ingatlah kembali pada wasiat Rasulullah Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam pada haji wada’ (haji perpisahan) dihadapan lebih dari 100 ribu jamaah haji. 

Inilah sebagian isi khutbah Rasulullah Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam pada saat itu:

Wahai manusia, sungguh darah dan harta kalian adalah suci bagi kalian, seperti sucinya hari ini, juga bulan ini, sampai datang masanya kalian menghadap Tuhan… Saat itu kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas segala perbuatan kalian…

Ingatlah baik-baik, janganlah kalian sekali-kali kembali pada kekafiran atau kesesatan sepeninggalku sehingga menjadikan kalian saling berkelahi satu sama lain…

Ingatlah baik-baik, hendaklah orang yang hadir pada saat ini menyampaikan nasihat ini kepada yang tidak tidak hadir. Boleh jadi sebagian dari mereka yang mendengar dari mulut orang kedua lebih dapat memahami daripada orang yang mendengarnya secara langsung… (HR al-Bukhari dan Muslim).

Beliau pun bersabda:

Ingatlah, tak ada keutamaan bangsa Arab atas bangsa non-Arab. Tak ada pula keunggulan bangsa non-Arab atas bangsa Arab. Tidak pula orang berkulit putih atas orang berkulit hitam. Tidak pula orang berkulit hitam atas orang berkulit putih. Kecuali karena ketakwaannya… (HR Ahmad).

Beliau juga bersabda:

Wahai manusia, sesungguhnya segala hal yang berasal dari tradisi jahiliah telah dihapus di bawah dua telapak kakiku ini…Riba jahiliah pun telah dilenyapkan…

Wahai manusia, sesungguhnya telah aku tinggalkan untuk kalian dua perkara, yang menjadikan kalian tidak akan tersesat selama-lama jika kalian berpegang teguh pada keduanya. Itulah Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya… (HR Ibnu Khuzaimah).

Sungguh esensi idul adha bukan sekedar pelaksanaan ibadah haji dan penyembelihan hewan kurban saja. Tetapi menyandarkan segala perbuatan kepada hukum dan ketetapan Allah Azza wa Jalla semata. Meletakkan kecintaan dan ketaatan tertinggi hanya kepada Nya. Hingga rela mengorbankan segalanya demi tegaknya agama Allah Azza wa Jalla, meskipun nyawa taruhannya.(*) 

Wa Maa Taufiqi Illa Billah.

Penulis
: Misbah Munthe
Editor
: Redaksi
Sumber
: datariau.com
Tag: