“No Kings”: Retaknya Demokrasi Amerika dan Bangkrutnya Kapitalisme Global

Oleh: Siti Aminah
datariau.com
226 view
“No Kings”: Retaknya Demokrasi Amerika dan Bangkrutnya Kapitalisme Global

DATARIAU.COM - Gelombang demonstrasi besar bertajuk “No Kings” mengguncang Amerika Serikat pada Sabtu, 28 Maret 2026. Jutaan warga turun ke jalan di berbagai kota, dengan aksi yang disebut tersebar di seluruh 50 negara bagian dan mencapai ribuan titik demonstrasi. Ini bukan sekadar unjuk rasa biasa, melainkan ledakan ketidakpuasan yang telah lama terpendam (CNN Indonesia, 30/03/2026)

Di balik slogan “No Kings”, tersimpan pesan yang sangat keras: penolakan terhadap kekuasaan yang dianggap melampaui batas. Sosok Donald Trump kembali menjadi pusat kritik. Kebijakan-kebijakannya dinilai tidak hanya kontroversial, tetapi juga memperlihatkan kecenderungan otoritarian yang mengikis nilai-nilai demokrasi yang selama ini diagungkan Amerika.

Namun, membatasi fenomena ini hanya pada persoalan figur adalah kesalahan besar. Apa yang terjadi hari ini sesungguhnya adalah krisis sistemik--keretakan yang berasal dari dalam tubuh sistem itu sendiri.

Pada Maret 2026, utang nasional Amerika Serikat resmi menembus US$39 triliun atau setara Rp661.440 triliun. Beban utang per penduduk bahkan mencapai sekitar Rp1,93 miliar. Angka ini menunjukkan satu kenyataan pahit: negara yang selama ini dianggap sebagai pusat kekuatan ekonomi dunia kini berada di ambang tekanan finansial yang serius (CNBC Indonesia, 28/03/2026).

Lonjakan utang ini tidak bisa dilepaskan dari kebijakan agresif di bidang militer dan geopolitik. Dukungan tanpa syarat terhadap Israel dalam konflik Palestina, serta upaya membangun blok kekuatan bersama negara-negara Eropa dan Teluk untuk menghadapi Iran, telah menguras anggaran dalam skala besar.

Ambisi untuk menguasai dan mempertahankan dominasi global melalui kekuatan militer justru berubah menjadi bumerang. Pengeluaran membengkak, utang menumpuk, dan rakyat harus menanggung akibatnya. Di sinilah ironi itu terlihat jelas: negara yang mengklaim diri sebagai penjaga demokrasi justru menekan rakyatnya sendiri melalui kebijakan yang tidak berpihak.

Gerakan “No Kings” pun menjadi cermin perlawanan. Ia bukan sekadar kritik terhadap kepemimpinan Donald Trump, tetapi juga bentuk penolakan terhadap sistem yang melahirkan kebijakan tersebut. Demokrasi yang diagungkan ternyata tidak mampu mencegah lahirnya kebijakan yang merugikan rakyat dan dunia.

Lebih jauh lagi, fenomena ini membuka kedok hegemoni global Amerika. Selama ini, narasi yang disebarkan adalah tentang kebebasan, keadilan, dan hak asasi manusia. Namun realitas menunjukkan sebaliknya: intervensi militer, dukungan terhadap penjajahan, dan eksploitasi ekonomi menjadi wajah asli dari sistem kapitalisme yang mereka usung.

Dunia mulai melihat bahwa sistem ini tidak dibangun untuk keadilan, melainkan untuk kepentingan segelintir elite. Ketika keuntungan menjadi tujuan utama, maka nilai-nilai kemanusiaan menjadi korban. Negara-negara lain, termasuk negeri-negeri Muslim, sering kali hanya dijadikan alat dalam permainan geopolitik global.

Sikap Amerika Serikat yang mendukung Israel untuk menguasai Palestina, serta membangun aliansi guna memerangi Iran, semakin memperjelas arah kebijakan tersebut. Ini bukan lagi sekadar politik luar negeri, tetapi bagian dari strategi dominasi yang sistematis.

Ironisnya, sebagian penguasa di negeri-negeri Muslim justru bersekutu dengan kekuatan ini. Alih-alih melindungi kepentingan umat, mereka terjebak dalam kepentingan global yang merugikan rakyatnya sendiri. Politik adu domba terus dimainkan, membuat umat Islam terpecah dan lemah.

Apa yang terjadi di Amerika hari ini seharusnya menjadi peringatan keras bagi dunia, khususnya umat Islam. Jika rakyat di negara adidaya saja mulai kehilangan kepercayaan terhadap sistemnya, maka jelas ada yang salah secara fundamental.

Umat harus terus disadarkan bahwa Amerika Serikat dengan hegemoni kapitalismenya dan sistem demokrasi yang diusungnya telah banyak merusak tatanan dunia dan hubungan antarbangsa. Umat Islam dan para penguasa Muslim kerap menjadi korban dari politik adu domba demi kepentingan global Amerika.

Upaya penyadaran politik umat Islam harus semakin dikuatkan. Tidak cukup hanya memahami fakta, tetapi juga harus dibarengi dengan edukasi tentang politik Islam, sistem Islam, dan konsep kepemimpinan yang benar.

Cara satu-satunya adalah dengan mengembalikan sistem pemerintahan Islam di dalam institusi negara. Yaitu dengan menerapkan sistem Islam secara kaffah yang berasal dari Sang Pencipta.

Adapun kerusakan dan kezaliman sistem kapitalisme terjadi karena ia lahir dari pemikiran manusia yang penuh keterbatasan. Sementara sistem Islam berasal dari Allah SWT sebagai Tuhan seluruh manusia. Maka sudah pasti sistem yang berasal dari-Nya adalah sistem yang benar dan sempurna untuk diterapkan oleh seluruh manusia di dunia.

Sistem Islam yang sempurna mengatur seluruh aspek kehidupan sesuai dengan fitrah manusia. Ia tidak menggunakan cara-cara keji sebagaimana dalam sistem kapitalisme. Dalam sistem ini, perilaku manusia akan terjaga dari sifat rakus dan tamak, dari kekejaman dan kesadisan, serta dari kebebasan tanpa batas yang melahirkan egoisme.

Dengan demikian, sistem Islam bukan hanya menawarkan solusi alternatif, tetapi solusi mendasar. Ia mampu menghadirkan keamanan, keadilan, dan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia--sesuatu yang gagal diwujudkan oleh sistem kapitalisme hari ini.***

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)