Oleh: Rahma Riza

Ada Sastra di Balik Semangat Revolusioner

datariau.com
825 view
 Ada Sastra di Balik Semangat Revolusioner
DATARIAU.COM - Di tengah minimnya penghargaan masyarakat terhadap hal ihwal berbau sastra, ternyata masih ada setitik harapan untuk terus menumbuhkembangkan kecintaan terhadap sastra, dan penyadaran akan keberadaan dan pentingnya sastra bagi kehidupan bangsa, utamanya pada kalangan mahasiswa.

Mengingat pentingnya pengenalan sastra secara intensif dan efektif pada Mahasiswa maka sudah seyogyanya hal tersebut tidak hanya dibebankan pada lembaga-lembaga pendidikan formal semacam jurusan sastra, fakultas sastra, atau pendidikan sastra lainnya, melainkan sudah sepatutnya pula dibebankan pada lembaga-lembaga pendidikan-pendidikan Non-formal, semacam komunitas-komunitas sastra. Sebab hanya dengan begitu pengenalan terhadap sastra bisa membawa semangat perubahan secara menyeluruh dan mendasar (Revolusioner).

"Bukanlah kesadaran manusia yang menentukan keberadaan mereka, melainkan keberadaan sosial yang menentukan kesadaran mereka". Kutipan pendapat Karl Max dan Engels (1859) ini mungkin berguna untuk diingat lagi, jika ingin mempertanyakan sejauh mana karya sastra dapat berperan sebagai pendorong proses perubahan sosial.

Melihat fenomena sastra dikalangan Mahasiswa khususnya mahasiswa UIN Suska  Riau memang masih kurang, membuat semangat Revolusioner datang dari beberapa Mahasiswa Ilmu Komunikasi. Dibawah arahan seorang dosen mereka mendirikan sebuah komunitas sastra yang dinamai Komunitas Lentera Kata (Koleta). Menurut keterangan dari Ketua sekaligus penggagas komunitas ini, berguna untuk menampung dan mengembangkan bakat kepenulisan mahasiswa yang terpendam agar lebih terarah.

"Misi utama komunitas ini untuk menampung bakat kepenulisan terpendam, disalurkan ke sini biar lebih terarah," ungkap Riski Rahmadi selaku ketua komunitas.

Selain itu, Koleta juga mempunyai tujuan untuk mengasah skil kepenulisan dan menarik minat mahasiswa dalam dunia kepenulisan khususnya sastra. Komunitas ini ingin sekali menghidupkan literasi dan merangkul mahasiswa untuk terus menulis dan membaca karena dari menulis menuntut kita untuk membaca. Sri Rahayu selaku sekretaris umum menerangkan bahwa Koleta ini akan menjadi wadah menulis untuk mahasiswa terutama Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) serta menjadikan membaca dan menulis sebagai suatu kebiasaan. Melakukan perubahan yang melalui sastra dengan bahasa lebih modern tapi masih bermakna klasik dan menarik.

Gebrakan baru yang dibuat guna menarik minat mahasiswa untuk bergabung dalam Komunitas ini adalah dengan cara menerbitkan buku sebagai bukti kumpulan karya anggota Koleta dan juga akan mengadakan bedah buku dengan mengundang penyair dari Riau dan dari luar Riau.

"Dalam waktu dekat karya pertama akan launching, dan kita akan adakan bedah buku," ujar Riski Rahmadi selaku ketua komunitas sastra.

Ketua komunitas berharap Koleta ini menjadi komunitas besar tak hanya di UIN SUSKA namun juga di Sumatera, dan mahasiswa diharapkan bergabung untuk bersama memajukan dunia literasi.

Bumi Manusia karya Pramodya Ananta Toer adalah salah satu contoh karya sastra yang sejarahnya sangat tinggi dan revolusioner.
Penggambaran situasi pada saat itu dan cerita gejolak seorang anak bangsa untuk mengubah pemikiran-pemikiran feodal yang terbilang kolot mungkin adalah salah satu yang patut digaris bawahi. Dan nilai-nilai yang ditanamkan disetiap kalimat dalam buku tersebut adalah buah pikiran seorang sastrawan, yang mungkin menginginkan pembacanya untuk bereksplorasi dan imajinatif dalam pemahamannya.

Sastra rupanya juga memiliki andil dalam membangun empati dan moralitas. Selain dari keindahan bahasanya, sastra juga menjadi ujung tombak dalam menumbuhkan budaya literasi. Hal ini diungkapkan Antonia Ayu dari Universitas Sanata Dharma dalam penelitiannya yang mengungkapkan korelasi positif cerita fiksi terhadap peningkatan empati bagi pembacanya.

Pada zaman serba teknologi ini, kita bisa menawarkan solusi dengan mengajukan sastra sebagai arus balik dari derasnya godaan teknologi dan hiburan virtual. Sastra bertolak belakang dengan teknologi. Pasalnya teknologi menyajikan sifat instan, sementara sastra menghadirkan proses. Tentunya dengan menulis karya sastra kita lebih bisa memanfaatkan teknologi untuk menyebarkan gagasan.

Sastra sangat erat kaitannya dengan kehidupan manusia. Ia menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam perjalanan budaya dan peradaban karya cipta manusia itu sendiri. Sastra itu seperti pisau tajam, bahkan sangat tajam dan mampu merobek-robek dada dan menembus ulu hati, bahkan jiwa dan pemikiran. Pisau tajam ini juga bisa menjadi alat yang efektif untuk membuat ukiran patung karya kehidupan yang indah. Sastra juga bisa lebih halus daripada sutra hingga mampu menelusup ke dalam relung jiwa hingga tunduk dan pasrah pada kekuatannya.

Sastra dan manusia serta kehidupannya adalah sebuah persoalan yang penting dan menarik untuk dibahas secara komprehensif. Manusia menghidupi sastra,sedangkan sastra adalah kehidupan manusia. Kekuatan sastra yang dahsyat akan mampu mengubah moralitas dan karakteristik manusia ke dalam persepsi kehidupan yang berbeda. Sejarah telah menuliskan bagaimana sosok seorang Umar Bin Khatab yang punya kepribadian keras akhirnya luluh dalam basuhan sejuknya kekuatan sastra ayat-ayat Al-Qur'an.

Sebelum Al-Qur'an turun, masyarakat jahiliyah negeri Arab memang sudah dikenal sebagai masyarakat yang mengagungkan para penyair dengan untaian sastra puisinya.seperti yang dituliskan Ibnu Rasyik dalam bukunya yang berjudul "Umdah" bahwa para penyair punya kedudukan yang tinggi bagi bangsa Arab waktu itu. Bagi mereka seorang penyair adalah penyambung lidah yang dapat mengungkapkan kebanggaan dan kemuliaan mereka. Sebuah karya puisi, pada bangsa Arab dahulu, sanggup mempengaruhi kondisi masyarakat bahkan dapat mengubah posisi dan sikap seseorang atau kelompok.

Para penyair, dengan demikian juga berfungsi sebagai agen perubahan sosial dan perubahan sosial dan perubahan kebudayaan. Kehebatan sastra waktu itu hanyabisa ditandingi oleh keindahan bahasa  ayat-ayat Al-Qur'an yang diturunkan oleh Rabbul izzati kepada Muhammad. Betapa penting sastra hingga Umar bin Khatab pun mengingatkan, ''Ajarkanlah sastra pada anak-anakmu, maka kau sedang mengajarkan keberanian pada mereka."

Betapa tinggi nilai esensial dari sastra hingga Anis Matta dalam bukunya berjudul "Mencari Pahlawan Indonesia" mengajak pembacanya untuk mempelajari dan mengajarkan sastra. Sastra mengajarkan kelembutan, keindahan, dan kepedulian. Sejumlah Negara-negara maju sudah menjadikan sebagai alat untuk membentung moralitas anak-anak muda.

Tak heran, sastra adalah kado terbaik yang diterima umat manusia, kata Jen Selinsky. Bagi orang-orang yang menjunjung tinggi budaya literasi, sastra sangat berjasa mengawal kemajuan peradaban manusia. Ditengah gempuran teknologi, game, dan hubungan virtual, sastra adalah oase untuk beristirahat. Merenung dan memikirkan kembali dekadensi moral, simpati, dan sifat-sifat kemanusiaan.

Chairil Anwar, Sitor Situmorang, Buya Hamka, Pramoedya Ananta Toer, Sapardi Djoko Damano, W.S Rendra, Taufiq Ismail, Eka Budianta, dan masih banyak lagi deretan para tokoh sastra yang revolusioner. Semoga Mahasiswa khususnya para mahasiswa yang bernaung dalam komunitas lentera kata pun dapat meniru jejak para tokoh-tokoh yang karyanya telah mendunia tersebut. (*)

Penulis merupakan mahasiswa Universitas Islam Negeri Sultan Syarif (UIN Suska) Riau Jurusan Ilmu Komunikasi - Jurnalistik Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi.
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)