Pantun Melayu Riau, Warisan Luhur yang Mulai Terlupakan

Oleh: Revalina Deska
datariau.com
588 view
Pantun Melayu Riau, Warisan Luhur yang Mulai Terlupakan

PEKANBARU, datariau.com - Pantun Melayu Riau sejak dahulu bukan hanya sekadar rangkaian kata berima indah, tetapi juga sebuah medium komunikasi, pendidikan moral, dan cermin kecerdasan masyarakat Melayu. Setiap bait pantun menyalurkan petuah yang lembut namun sarat makna, mulai dari ajaran budi pekerti, nilai-nilai moral, hingga pesan keagamaan dan hubungan antar sesama. Melalui pantun, orang Melayu terbiasa menyampaikan nasihat tanpa menyinggung, menegur tanpa menyakiti, bahkan merayu tanpa kehilangan martabat. Karena itulah pantun bukan sekadar budaya, tetapi falsafah hidup masyarakat Riau.

Namun kini, pantun berada di persimpangan zaman. Di era media sosial yang bergerak cepat, masyarakat terutama generasi muda lebih akrab dengan caption singkat, meme, atau bahasa gaul yang berubah tiap minggu. Pantun kehilangan ruangnya di percakapan sehari-hari, padahal dahulu ia hadir di segala kesempatan seperti dalam adat pernikahan, sambutan resmi, hingga pergaulan muda-mudi. Pantun yang dulunya menjadi alat merawat bahasa, kini mulai tergeser oleh budaya instan yang tidak menuntut kehalusan budi maupun kedalaman makna.

Menurut saya, persoalannya bukan karena pantun tidak relevan lagi, tetapi karena kita belum mampu mengemasnya sesuai zaman. Pantun seharusnya dapat menjadi bagian dari kreativitas modern dalam musik, konten digital, teater, bahkan branding pariwisata Riau. Banyak anak muda sebenarnya menyukai hal yang kreatif dan unik, tetapi mereka membutuhkan akses dan contoh bagaimana pantun bisa hadir secara kontemporer tanpa kehilangan nilai adatnya. Selama pantun hanya muncul di acara seremonial, ia akan tetap terasa jauh dari kehidupan sehari-hari.

Pantun Melayu Riau adalah warisan yang tidak hanya indah, tetapi juga mendidik akhlak dan merawat identitas. Kehilangannya bukan sekadar hilangnya bentuk sastra, tetapi hilangnya cara masyarakat Melayu berkomunikasi dengan santun dan cerdas. Jika masyarakat, sekolah, konten kreator, dan pemerintah mampu menghidupkan kembali pantun dalam ruang-ruang modern, maka pantun tidak akan menjadi peninggalan museum melainkan budaya hidup yang tetap relevan dan membentuk karakter generasi Riau di masa depan.***

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)