PERAWANG, datariau.com - PT Indah Kiat Pulp dan Paper Perawang merupakan anak Sinar Mas Group Asean Pulp and Paper (APP) yang berdiri sejak 1983, perusahaan ini mulai produksi (beroperasi) tahun 1984 silam. Perusahaan ini berdiri stategis di bantaran Sungai Siak, juga dekat jaraknya dengan negara tetangga.
Anggota Komisi IV DPRD Siak Ismail Amir SH MH mengatakan bahwa dari laporan yang masuk ke pihaknya, limbah perusahaan itu diduga mencemari sungai Siak, pencemaran udara, juga diduga merubah aliran sungai Perawang asli dan diduga masih memproduksi Klorin (Clo2).
"Saya tahu perusahaan ini (PT IKPP, red) masih memproduksi Klorin (Clo2). Jangankan itu, PT Indah Kiat juga merubah aliran sungai Perawang di bawah sana dekat pohon besar (Beringin) itu," beber Anggota DPRD Siak Amir saat berorasi di depan Gerbang Barat B-1 PT Indah Kiat Perawang dalam aksi damai jilid II beberapa waktu yang lalu.
Saat itu, Rabu (26/4/2017) para massa Koalisi Peduli Lingkungan (Kopel) Siak menuntut perusahaan agar peduli terhadap lingkungan sekitar terkhusus bagi masyarakat. Diduga PT Indah Kiat Perawang tak ramah lingkungan, massa aksi ancam boikot produk Sinar Mas (APP).
Humas PT Indah Kiat Pulp dan Paper Perawang Armadi saat dihubungi melalui pesan elektronik enggan membalas pertanyaan yang dilontarkan datariau.com, Sabtu (29/4/2017) sekira pukul 19.40 WIB terkait dugaan pengalihan aliran anak sungai Perawang Besar (Zaitun) yang menyebabkan terjadinya pendangkalan.
Namun, Armadi selaku Humas PT Indah Kiat Perawang mencoba mengklarifikasi terkait aliran sungai Perawang melalui telepon selulernya kepada datariau.com, Ahad (30/4/2017) sekira pukul 09.00 WIB mengatakan, bahwa aliran anak sungai Perawang tetap ada, sementara kanal itu perusahaan ada buat agar dapat menampung debit air yang cukup banyak.
"Soal pendangkalan kita tidak bisa, harus kepada yang lebih tahu soal itu. Untuk aliran anak sungai Perawang tetap ada, cuma perusahaan ada buat kanal agar dapat menampung debit air lebih banyak," ungkap Armadi kepada datariau.com.
Kemudian aliran sungai Perawang bagian bawah (hilir), Armadi mengungkapkan agar berkordinasi bersama pihak pemerintah. Perusahaan tidak punya kewenangan terkait normalisasi tersebut. Sementara itu pihak perusahaan telah melakukan normalisasi, walau tidak sepenuhnya dilakukan bersama Penghulu Kampung Pinang Sebatang.
"Saya sudah instruksikan kepada kawan-kawan agar memakai excavator ampibi tapi memang tidak terjangkau. Penghulu juga sudah menyarankan agar memakai speedboat agar bisa membersihkan aliran anak sungai bagian hilir tersebut," ujarnya.
Penghulu Kampung Pinang Sebatang Bambang Syahputra SH menyebutkan, banjir bukan merupakan air pasang melainkan karena sungai Perawang Besar tersumbat (tidak lancar). Sebab telah lama tidak dinormalisasikan, jadi air kurang lancar akibat pendangkalan dan banyak ditumbuhi tanaman liar.
"Alhamdulilah tadi perusahaan sudah menurunkan 1 unit excavator agak lumayan lancar cuma alat tak bisa sampai ke hilir," terang Bambang kepada datariau.com, Sabtu (29/4/2017) sekira pukul 19.50 WIB.