Wahai Ayah, Jangan Lalai Mendidik Anak Karena Sibuk Bekerja

datariau.com
2.716 view
Wahai Ayah, Jangan Lalai Mendidik Anak Karena Sibuk Bekerja

DATARIAU.COM - Sebagian diantara kita para ayah kesehariannya disibukkan dengan rutinitas mencari nafkah hingga hanya memiliki sedikit waktu bahkan tidak ada waktu untuk mendidik anak-anaknya. Kondisi ini menjadi persoalan besar di dalam rumah tangga, sebagai mana dalam pembahasan berikut.

Pertanyaan.


Al-Hamdulillah, saya dan suami selalu mengikuti kajian. Namun ada sedikit yang mengganjal dalam hati tentang suami saya yang terlalu banyak tidur. Saya tahu, mungkin ia kelelahan karena kerja dalam shif 3. Akan tetapi, bila sedang kebagian shif 2 dan 3, seharian di rumah tidur terus. Dia bangun hanya untuk shalat saja.

Saya sebagai istri ingin, mumpung suami sedang ada di rumah, memanfaatkan waktu tersebut untuk ikut mengajari anak-anak membaca Al-Qur`an atau mengontrol pelajaran sekolah mereka. Atau berdiskusi dengan saya tentang masalah apa saja. Saya ingin mengungkapkan ini secara langsung kepada suami, tetapi takut. Suami saya berlangganan Majalah As-Sunnah.

Semoga jawaban dari Redaksi membuat suami berhasil memenej waktunya dengan baik. Jazakumullahu khairan katsiran.

Jawaban.


Dari pertanyaan di atas, ada dua permasalahan mendasar. Pertama, tanggung jawab suami mencari nafkah. Kedua, tanggung jawab pendidikan anak dan keluarga.

Pertama: Memang tak dapat dipungkiri, mencari nafkah sudah menjadi kewajiban suami untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga, terutama anak dan istri. Suami tidak boleh membiarkan keluarganya tanpa ada yang bertanggung jawab memberi makan dan minum. Sebagaimana dalam hadits Mu’awiyah Radhiyallahu anhu tatkala bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia bertanya: “Ya, Rasulullah! Apa hak seorang istri yang berhak ia peroleh dari suaminya?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Engkau beri makan dia apa yang engkau makan..”. [HR Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad dan an-Nasâ`i].

Kedua: Kebanyakan orang yang justru terjerumus di dalamnya, sementara itu ia tidak menyadarinya sebagai sebuah kesalahan yang dapat mengakibatkan terjadinya keretakan hubungan antara suami dengan istri, demikian pula dengan anak-anak yang semestinya sangat memerlukan perhatian dari ayahnya. Hanya saja, seorang istri janganlah serta merta langsung menegur suaminya begitu saja mengenai kewajiban yang harus ditunaikannya.

Ada dua hal pokok yang perlu menjadi pertimbangan jika seorang istri ingin mengajak bicara suami guna memecahkan masalah yang ia hadapi.

1. Waktu yang tepat. Seorang istri, janganlah mengajak bicara suami ketika ia baru pulang dari kerja atau dari bepergian. Karena ia masih kecapaian dan memerlukan istirahat.

2. Kondisi atau waktu yang tepat. Yakni dengan memperhatikan kondisi atau situasi yang tepat ketika akan mengajak berdiskusi dengan suami. Perlu diingat, hati manusia memiliki dua kondisi yang saling berlawanan arah. Jika salah dalam memilih, maka bukan solusi yang didapat; bahkan bisa menimbulkan masalah baru, sehingga masalah menjadi semakin pelik dan rumit. Suasana hati yang ceria dan tiada beban, akan dapat mendukung keberhasilan pemecahan masalah. Sebaliknya, kondisi hati yang sedang gundah dan kacau, ia tidak akan dapat menyelesaikan masalah. Kondisi hati semacam ini pernah disampaikan oleh Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu, ia berkata:

Sesungguhnya, hati itu terkadang timbul semangat dan mau menerima, dan ada kalanya pula ia berpaling dan menolak. [HR ad-Dârimi].

Jika istri melihat kondisi suami telah siap untuk mendengar dan menerima saran, masukan, kritik, sekaligus mau diajak berdiskusi, maka mulailah pembicaraan ke arah yang diinginkan. Iringi dengan doa dan memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar sang suami dimudahkan dan dibukakan hatinya, serta mau mengerti kewajiban dan amanah yang harus dipikul bersama.

1. Ingatkan kembali sang suami mengenai tanggung jawab dan amanah yang harus ia tunaikan. Kewajibannya bukan hanya sekedar mencari nafkah, namun juga memiliki tanggung jawab secara bersama mengemban amanah dalam mentarbiyah (mendidik) si buah hati. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah tentang kepemimpinannya. Seorang suami adalah pemimpin di rumahnya, dan akan dimintai pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya. [Muttafaqun ‘alaihi]. [Hadits tersebut lengkapnya: Ibn umar Radhiyllahu anhuma berkata: Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannnya. Seorang kepala negara akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya. Seorang suami akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya. Seorang isteri yang memelihara rumah tangga suaminya akan ditanya perihal tanggungjawab dan tugasnya. Bahkan seorang pembantu/pekerja rumah tangga yang bertugas memelihara barang milik majikannya juga akan ditanya dari hal yang dipimpinnya. Dan kamu sekalian pemimpin dan akan ditanya (diminta pertanggungan jawab) dari hal hal yang dipimpinnya.]

2. Bahwasanya anak mempunyai hak yang harus dipenuhi. Salah satunya ialah pendidikan, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: .. dan sesungguhnya anakmu mempunyai hak atas kamu. [HR Muslim]

Selain hak nafkah, pendidikan dan perhatian juga menjadi hak anak yang harus di penuhi.

3. Ajak dan mintalah pendapat suami mengenai cara mengontrol perkembangan pendidikan anak, terlebih dalam hal agama (diniyah), baik akidah, ibadah, akhlak maupun Al-Qur`ân. Karena perlu pula diingat, tanggung jawab memantau perkembangan mental, pendidikan dan moral anak bukan hanya tanggung jawab istri, namun juga menjadi tugas suami yang harus dipikul bersama. Ingatlah, pengaruh tarbiyah yang diberikan orang tua terhadap anak sangat besar. Orang tualah yang memegang kendali dan paling berperan dalam membentuk karakter maupun perilaku anak. Kedua orang tua mempunyai andil yang sangat besar. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Tidaklah setiap anak kecuali dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi. [Muttafaqun ‘alaihi].

4. Menurut para ahli, secara psikis, perhatian yang diberikan orang tua kepada anak walaupun hanya sebentar, ia bisa berpengaruh pada pembentukan kecerdasan anak.

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)