Sejarah Maulid Nabi Tertulis dalam Wikipedia: Dimulai Daulah Fatimiyah Syiah di Mesir

datariau.com
3.915 view
Sejarah Maulid Nabi Tertulis dalam Wikipedia: Dimulai Daulah Fatimiyah Syiah di Mesir
Gambar: Wikipedia

DATARIAU.COM - Peringatan Maulid Nabi atau perayaan hari kelahiran Nabi memang sampai saat ini belum ada dalil shahih untuk membenarkannya sebagai ibadah dalam Islam.

Beberapa orang mengatakan bahwa Perayaan Maulid Nabi itu bagus, tidak perlu dalil apapun, yang penting baik, berbahagia dengan kelahiran Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam. Padahal sampai saat ini belum ada satupun penjelasan pasti tentang tanggal kelahiran Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam.

Baca juga: Tanggal Kelahiran Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam Berdaraskan Sejarah


Lebih menyedihkan lagi, beberapa diantara mereka yang merayakan hari kelahiran Nabi atau Maulid Nabi malah kesehariannya membenci sunnah Nabi Muhammad Shalallahu alihi wa sallam, seperti membenci jenggot, celana di atas mata kaki, perempuan menutup aurat secara sempurna dengan hijab lebar dan sunnah lainnya. Adapula yang meninggalkan shalat Subuh berjamaah lantaran perayaan Maulid Nabi sampai larut malam.

Jika dikatakan tanda mencintai Nabi adalah dengan merayakan Maulid Nabi serta bergembira atas kelahiran beliau Shalallahu alaihi wa sallam, maka ketahuilah, Abu Lahab pamannya Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam sangat bergembira dan senang atas kelahiran Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam, namun lihatlah riwayat Abu Lahab, sepanjang hidupnya menyelisihi ajaran yang dibawa Nabi Muhammad Shalallahu alihi wa sallam.

Baca juga: Dialog Dr Said Al Qahthani dengan Syaikh: Saudi Tidak Mencintai Nabi Karena Tidak Merayakan Maulid Nabi?


Jika kita cari-cari sejarah awal mula munculnya perayaan hari lahir Nabi atau Maulid Nabi ini, dalam website Wikipedia diulas secara lengkap, berikut kutipannya:

Menurut keterangan dari al-Maqrizy dalam kitabnya yang berjudul al Khathat, perayaan Maulid dimulai ketika zaman Daulah Fatimiyah syiah di Mesir. Mereka membuat banyak acara perayaan Maulid, seperti Maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Maulid 'Ali bin Abi Thalib, maulid Fatimah binti 'Ali, hingga maulid Hasan bin 'Ali dan Husain bin 'Ali. Bani Fatimiyah ini berkuasa sekitar abad 4 H.[2] Hal inilah yang menyebabkan kalangan Ulama seperti Tajuddin al Fakihani dan as Sakhawi, murid Imam Nawawi, berfatwa bahwa perayaan Maulid adalah bid'ah tercela[3]

Sedangkan menurut sumber lain Maulid dikembangkan oleh Abul al-Abbas al-Azafi[4]

Para ahli sejarah, seperti Ibn Khallikan, Sibth Ibn Al-Jauzi, Ibn Kathir, Al-Hafizh Al-Sakhawi, Al-Hafizh Al-Suyuthi dan lainnya telah sepakat menyatakan bahwa orang yang pertama kali mengadakan peringatan maulid adalah Sultan Al-Muzhaffar. Namun juga terdapat pihak lain yang mengatakan bahwa Sultan Salahuddin Al-Ayyubi adalah orang yang pertama kali mengadakan Maulid Nabi. Sultan Salahuddin pada kala itu membuat perayaan Maulid dengan tujuan membangkitkan semangat umat islam yang telah padam untuk kembali berjihad dalam membela islam pada masa Perang Salib.

Ahmad bin ‘Abdul Halim Al Haroni rahimahullah mengatakan,

“Sholahuddin-lah yang menaklukkan Mesir. Dia menghapus dakwah ‘Ubaidiyyun yang menganut aliran Qoromithoh Bathiniyyah (aliran yang jelas sesatnya, pen). Shalahuddin-lah yang menghidupkan syari’at Islam di kala itu.”[5]

Dalam perkataan lainnya, Ahmad bin ‘Abdul Halim Al Haroni rahimahullah mengatakan,

“Negeri Mesir kemudian ditaklukkan oleh raja yang berpegang teguh dengan Sunnah yaitu Shalahuddin. Dia yang menampakkan ajaran Nabi yang shahih di kala itu, berseberangan dengan ajaran Rafidhah (Syi’ah). Pada masa dia, akhirnya ilmu dan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam semakin terbesar luas.”[6]

Sumber lain mengatakan perayaan Maulid yang sebenarnya diprakarsai oleh Dinasti Fatimiyyun sebagaimana dinyatakan oleh banyak ahli sejarah. Berikut perkataan ahli sejarah mengenai Maulid Nabi

Al Maqriziy, seorang pakar sejarah mengatakan, “Para khalifah Fatimiyyun memiliki banyak perayaan sepanjang tahun. Ada perayaan tahun baru, hari ‘Asyura, maulid (hari kelahiran) Nabi, maulid Ali bin Abi Thalib, maulid Hasan dan Husain, maulid Fatimah az-Zahra, maulid khalifah yang sedang berkuasa, perayaan malam pertama bulan Rajab, perayaan malam pertengahan bulan Rajab, perayaan malam pertama bulan Sya’ban, perayaan malam pertengahan bulan Rajab, perayaan malam pertama bulan Ramadhan, perayaan malam penutup Ramadhan, perayaan ‘Idul Fithri, perayaan ‘Idul Adha, perayaan ‘Idul Ghadir, perayaan musim dingin dan musim panas, perayaan malam Al Kholij, hari Nowruz (Tahun Baru Persia), hari Al Ghottos, hari Milad (Natal), hari Al Khomisul ‘Adas (3 hari sebelum paskah), dan hari Rukubaat.”[7]

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)